Persma: Merayakan Ideologi Kebenaran

Oleh M Abdullah Badri

Banyak pengamat mengatakan bahwa abad 19 adalah abad tumbuh suburnya ideologi, jauh dibandingkan dengan abad 17 dan 18. Itu bisa dibuktikan dengan banyaknya ilmuan dan pemikir yang bermunculan pasa abad ini. Bahkan lanskap pemikiran mereka jauh melebihi pemikir-pemikir abad sebelumnya; lebih tajam, lebih dalam dan lebih kompleks. Kita bisa menyebut semisal Hegel, Kant, Marx, Nietzsche, Comte dan beberapa nama lainnya adalah nama-nama pemikir besar yang bukan saja corak pemikirannya yang berbeda dari pendahulunya, tapi juga metode, latar belakang serta orientasi mereka yang beragam. (Henry D. Aiken: 1960).

Gairah untuk mempertanyakan segala hal demi menguak kemungkian dari setiap realitas yang terstruktur menemukan momentumnya pada abad ini. Selain karena tumbuh suburnya kesadaran berwacana, hal lain yang merangsang para pemikir untuk selalu berkarya adalah unsur peneguhan identitas yang dimiliki masing-masing.

Padahal kita tahu, pada abad 19 ini bukanlah masa transisi dunia. Ia adalah masa dimana pergantian dari era pra modern ke modern telah selesai. Seiring dengan itu, kolonialisme dan imperialisme mulai mecekeram dunia. Barangkali, faktor inilah yang mendorong mereka untuk mempertanyakan realitas atau boleh jadi juga justru mereka yang menciptakan nuansa dunia yang seperti ini.

Memang, wacana merupakan komponen penting dalam setiap masa transisi. Gunanya tiada lain adalah untuk membentuk orientasi yang akan dicita-citakan dan mengawal setiap perubahan yang telah dirumuskan bersama. Karenanya, spekulasi ideal atau teorisasi visioner yang biasa disebut dengan ideologi, begitu besar menggema pada masa “pancaroba” ini. Langkah revolusi hanya bisa dicapai dengan mediasi ideologi. Sistem ide yang dibentuk itulah yang akan menjadi pijakan meraih apa yang menurut keyakinan kolektif adalah benar.

Pers memainkan peranan penting dalam babak ini. Ia menjadi semacam alat untuk merayakan “kebenaran” ideologi itu. Penguasaan sistem informasi akan mempercepat penguasaan wacana. Jika boleh diibaratkan, pers adalah “anak kandung” ideologi. Sebab tanpa publikasi pers, perayaan kebenaran ideologi tersebut tidak akan pernah terjadi. Impoten.

Dari sini dapat dipahami bahwa fungsi utama pers, secara ideologis, adalah untuk “memamerkan” apa yang diyakini benar. Ia ingin merubah paradigma, persepsi, wacana dan pra-persepsi lain yang telah lama terbangun. Mengajak kepada khalayak untuk masuk dalam area “kebenaran” yang telah diciptakan olehnya. Artinya, apa yang dilakukan pers adalah upaya untuk membuat perubahan dan mengawalnya secara kontinyu.

Merayakan Wacana
Pers Mahasiswa (Persma), sebagai ruang berkreasi, ternyata bukan hanya melaksanakan tugas informatifnya dalam hasrat akademik belaka. Para aktivis yang tergabung didalamnya memiliki peran ganda. Selain melaksanakan tugas belajar dengan menyerap informasi-informasi yang berserakan di jagad akademik, ia juga menugaskan diri untuk menjadi seorang transformer. Oleh karenanya, mahasiswa dalam pandangan sosial disebut sebagai agent social of change.

Dalam sejarah panjangnya, persma diakui secara signifikan telah memberikan kontribusi besar terhadap setiap arus perubahan. Terutama ketika hidup bersentuhan dengan tegangnya situasi sosial masa transisi yang sedang berlangsung. Gerakan Reformasi pada 1998 sering dijadikan sebagai titik pijak dalam menilai efektivitas eksistensi persma. Pada saat itu, persma disebut-sebut sebagai amunisi yang turut juga “meneken” terhadap perubahan. Gerakan kritis-untelektual persma benar-benar ditantang ketika menghadapi deras arus perubahan.

Persma, dengan demikian, secara teoritis-ideologis, adalah penganut setia “madzhab kritis”, meskipun klaim ini tidak bisa miliki secara tunggal olehnya. Kritis yang menjadi sebuah sistem (kritisime) adalah ideologi yang mendekonstruksi sistem atau ideologi lain yang timpang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai universal. Ia berusaha mendobrak apapun yang demi menegakkan kritisisme yang menjadi ideloginya itu.

Heroisme kemudian menjadi semacam ciri khusus yang tidak dapat dilepaskan darinya. Namun sayang, kadang persma terjebak dengan heroisme kritis yang justru membahayakan dirinya. Saya tidak mengatakan bahwa kondisi semacam ini hanya karena faktor internal saja; semangat. Bukan. Faktor eksternal yang ada di luar sistem kampus itulah yang saya curugai –mungkin Anda justru meyakini- turut menentukan pola dan karakter heroik pekerja persma.

Dengan daya kritisime, atas nama tanggungjawab moral –yang saya sebut dengan transformer- mereka berupaya menguak setiap kebobrokan sistem moral dan tata nilai. Namun sayang, proses mereka dalam menyusun asumsi kadang hanya diawali dengan asumsi dasar dan data yang kurang valid. Akibatnya, pesan perubahan yang disampaikan tidak tepat sasaran, bahkan berbalik menyerang dirinya sendiri. Terasa dangkal dan bahkan terkesan “memperkosa” wacana. Maka tidak heran jika ada persma yang harus dibredel lantaran terjerat kasus semacam ini. Pemberedelan Tabloid Suara Mahasiswa (SM) Universitas Islam Bandung (Unisma) pada tahun 2002 karena memasang gambar yang tidak sesuai visi almameter cukup menjadi buktinya. (SUAKA: 2003). Mereka memang heroik dan kritis dalam berwacana, namun sayang, melupakan konteks visi kampus sekitar. Naif.

Kita masih dapat menjumpai corak gerakan persma yang proporsional. Heroik-kontekstual. Kritisisme yang diusung mereka barangkali bisa dikatakan bersesuaian dengan nilai-nilai lain seperti pluralitas, penghormatan terhadap hak orang lain dan tiadanya klaim kebenaran pribadi. Namun sistem kekuasaan yang ada diluar kampus kadang menjadi kendala yang tak dapat dihindarkan. Ketika mereka mengeluarkan kritik terhadap ketimpangan sosial, apalagi terhadap kebijakan pemerintah, tak pelak akan menghadapi ancaman dari penguasa. Fenomena semacam ini sering terjadi pada masa orde baru. Pada era 70-an banyak persma yang dibredel oleh penguasa. Antara lain adalah Salemba (UI) Thridarma (IKIP Jakarta) dan Muhibbah (UII). (Alfi Satiti: 2007)

Sehingga, dalam sejarah perjalanannya, corak gerakan kritis persma pernah mengalami perubahan orientesi wacana, yang dulu -ketika orde baru belum berkuasa-, bergerak keluar kampus, kemudian menyempit, hanya berwacana di seputar kampus setelah mendapat banyak tekanan politik penguasa. Penertiban wacana benar-benar menggilas kreasi persma saat itu. Nah, bagaimana kita melihat peran persma pada saat ini. Apakah ideologi kritis yang dianut akan terus menjadi daya pacu pergerakannya?. Masa transisi (reformasi, pen.) telah lewat. Sekarang bangsa kita sedang membangun cita dan mimpi yang didambakan pada masa transisi itu menjadi sebuah realitas.

Dimana peran persma pada masa seperti ini, yang stabil dan tidak bergejolak? Saya kira akan lebih baik jika peran itu diorientasikan untuk tetap mengawal apa yang dicita-citakan bersama, ideologi. Namun ideologi yang dimaksud disini adalah ideologi kritis-universal; keadilan, kamakmuran, kesetaraan dan kesejahteraan yang merata. Bukankah pers dicipta untuk merayakan “kebenaran” ideologi?. Bisa jadi, bukan hanya abad 19 yang menjadi abad ideologi, tapi juga abad 21 seperti sekarang ini. Saya pekerja persma. Jangan heran jika gagasan saya terkesan heroik. Salam pers!

(Dimuat Majalah PARADIGMA, Edisi 13/ Juni 2008)
Advertisement

Klik untuk komentar