Akibat Elite PKS Menggunjing NU

Akibat Elite PKS Menggun
"SAYA itu pusing kalau dijapri orang, saya harus pilih mana mas, Gus Yasin atau Mbak Ida? Kalau pilih Ida, kok ada PKS-nya?” Demikian pengakuan salah satu Ketua PKB di daerah yang jadi lumbung PPP, di Jateng, kemarin (Rabu, 27 Juni 2018).

Dia bersyukur, perolehan angka pasangan Sudirman Said – Ida Fauziyah tidak kalah buncit hingga 20 persen dari pasangan Ganjar-Yasin, sebagaimana survei-survei yang berkembang, seturut diberitakan media massa.

Dia menyatakan, andai saja tidak ada kasus PKS menghina Gus Yahya, “Mbak Ida akan menang”. Menurut dia, PKS jadi faktor utama PKB pimpinannya bergerak sendirian di lapangan. “PKS ora mlaku blas mas,” ujarnya kepada saya saat bertemu di rumah Ketua NU Cabang setempat.

Hanya dengan menggunjing NU, PKS kalah mengusung pasangan calon gubernurnya di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Iya, hanya menggunjing. Belum melakukan serangan. Salman Alfarisi (PKS Medan) paling fatal.

Tidak setuju Gus Yahya ke Israel, ia menyebut Gus Yahya “cecunguk”. Kan kurangajar. Belum ditambah keberanian Hidayat Nur Wahid, yang dulu terkenal kalem, isa-isanya ikut mencatut NU lalu menyebut PBNU mendukung Ida.  Padahal hoax.

Sebelumnya, dia ngrasani Gus Yahya dan mencatut pula atas nama Islam bahwa umat Islam (berarti saya termasuk di dalamnya), kecewa atas kehadiran Gus Yahya ke Israel. Ini belum pencatutan PKS kalau Tebuireng mendukung PKS sebagai partai dakwah. Padahal faktanya, dobol mukiyo.

Tifatul Sembiring, sang mantan Menkominfo “pelindung situs-situs provokatif” sejak menjabat 2004, juga ndlodog kepada Gus Yahya. “Oh, baru tahu saya, mas Yahya itu seorang Kiai. Kalau boleh tahu, mengelola pesantren di mana ya..,” demikian ndlodognya Tifatul.

Ironisnya, semua itu mereka ekspresikan di media sosial yang dibaca, diretweet serta dishare para Netizen di Twitter dan Facebook. Hanya Salman yang meminta maaf atas statusnya kepada Gus Yahya. Sementara dua elite PKS lain, Tifatul dan Hidayat, malah terus bermain mencatut dawuh-dawuh tokoh NU, muji-muji NU, mencatutnya jelang Pilkada serentak. Demi apa kalau bukan menggaet massa NU.

Ya Jabbar ya Qohhar, akhirnya, Netizen NU bergerak bersama via media, blog, medsos, baik dalam bentuk teks, video atau meme, membela Gus Yahya. Serangan balik dilancarkan.

Orang NU itu mudah dikumpulakan, meski tidak mudah untuk mau diajak baris bersama. Tapi kali ini tidak. Tanpa komando, isu tenggelamkan PKS, muncul dimana-mana dengan iringan fakta-fakta dan opini nahdliyyin muda di media.

Ini mengingatkan bersatunya warga NU, kiai dan santri ketika Full Day School (FDS) akan diterapkan total di sekolah-sekolah oleh Mendikbud Muhadjir Efendi. Barisan santri makin rapat melawan hingga Presiden Jokowi bersikap mendukung pembatalan FDS. Andai saja tetap jalan, gerakan penolakan FDS seluruh negeri akan terus terjadi, dan jelas akan dimasuki kepentingan politik praktis yang mendukung NU.

Soal gunjingan elite PKS ini, respon bolo-bolo NU mirip dengan saat FDS ala Muhadjir itu. Namun lebih massif dan sarkastik karena berdekatan dengan momentum Pilkada. Segenap isu bernuansa ideologis (dan bahkan politis) pun tersebar, antara lain:

  1. Pendiri PKS Hilmi Aminuddin ternyata anak Danu Muhammad Hasan yang pernah menjadi pimpinan militer Pantura Darul Islam/Negara Islam Indonesia, salah satu sel pemberontak NKRI yang hingga kini masih beranak-pinak secara ideologis dan masuk ke “partai-partai Islam kanan”. Bagi pemuda milenial, ini informasi baru. 
  2. Pengakuan Hilmi Aminuddin yang menerima dana dari Ikhwanul Muslimin (IM) hingga 90 persen di tahun-tahun awal berdirinya partai, juga dibacakan secara massif di forum-forum diskusi ngopi dan online. 
  3. Pernah menolak asas tunggal Pancasila di tengah Pancasila ingin “dihabisi” oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 
  4. Sistem kaderisasi PKS ternyata juga sama dengan kaderisasi yang pernah dilakukan dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Bedanya, PKS punya misi yang mirip dengan Hizbut Tahrir, yakni daulah islamiyah yang mengancam keutuhan NKRI, seperti ditulis mantan aktivis KAMMI-PKS dari Universitas Indonesia.  
  5. Hubungan mesra PKS dan Komunis Cina juga diungkap kembali oleh media-media yang dikelola Netizen NU di internet. Sebut misalnya, dutaislam.com, baldatuna, suaraislam, islami.com, islampers.com, dll. 
  6. Beberapa elite partai, laiknya Fahri Hamzah Al-Cocoti, Anis Matta, dll, juga tercyduk pernah mencibir para penentang ISIS di Indonesia. Anis Matta bahkan pernah kagum kepada teroris kakap kalas global hingga membuat puisi untuknya dan dibacakan kepada ribuan orang. 
  7. Peristiwa ancaman pembunuhan para kader PKS kepada Yusuf Efendi, salah patu pendiri PKS, juga viral lagi hingga membentuk opini karakter PKS yang tidak punya adab kepada orangtua, tidak punya etika dan bebal. 
  8. Fatwa Kiai Fawaid Sukorejo yang tidak ridha santrinya ikut PKS juga tersebar lebih massif dari tahun-tahun lalu ketika isu anti PKS muncul. 

Ini belum soal isu politik praktis mulai korupsi, pornografi, poligami, dangdut koplo kader PKS, survei abal-abal paslon PKS jelang Pilkada, munafik dalam bermanuver atas nama Islam, hingga karakter-karakter sumir kader PKS dari ranting sampai pusat yang tidak mampu mengontrol ucapan-ucapan anti amaliyah aswaja dan anti NU di media sosial.

Diketahui sebagai meniru dan merupakan tangan panjang IM, PKS pun dianggap sebagai representasi partai yang konon karakter islamnya melebihi kaffahnya orang Islam di Indonesia. Ketidakjelasan sebagai partai atau ormas inilah yang menjadikan PKS mudah diserang lewat jalur idelogis dengan isu: 1). Anti Pancasila, 2). Pendukung Gerakan Radikal Islam, dan juga, 3). Anti NKRI.

Sementara, nahdliyyin jaman now adalah komunitas paling melek dan konsisten ngaji soal literasi tiga isu tersebut, baik di dunia maya maupun di lapangan. Inilah yang sepertinya tidak disadari elite PKS ketika jarinya meluncur tanpa kontrol menggunjing Kiai NU, Gus Yahya, lewat akun medsosnya.

Andai saja yang diserang bukan sosok kiai, tapi amaliyahnya saja, jagad Nahdliyyin tidak penuh dengan gerakan #2019TenggelamkanPKS, #2019BubarkanPKS, #2019GuremkanPKS, #2019TanpaPKS, #2019JanganPilihPKS dan lainnya.

Buktinya mudah. Saat Banser NU Banyumas (ditumpangi FPI) menggeruduk kantor PDIP karena isu money politic dalam tahlilan, warga NU tidak berbaris melawan PDIP dengan tagar bernada teror seperti kepada PKS. Demikian pula saat terjadi gesekan antara PSHT dan Pagar Nusa di Ngajuk soal pembakaran bendera NU, warga NU tetap damai dan konflik selesai dengan dialog dan saling rangkulan.

NU tidak menyerang balik PDIP maupun PSHT, karena kasusnya adalah salahpaham, miskomunikasi tanpa sengaja, dan yang terkena dampak bukan kehormatan kiai dan NU secara personal.

Bagaimana dengan PKS? Mereka ini bebal. Page Facebook Partai Keadilan Sejahtera sempat memosting permintaan maaf  Salman Alfarisi, tapi dihapus kembali. PKS seperti bermain api. Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring juga tak ada niat meminta maaf. Ini yang jadi karakter umum kader dan elite PKS: munafiq dan merasa benar sendiri, setidaknya menurut Nahdliyyin muda.

Sadisnya, oleh buzzer pendukung PKS di Instagram dan Twitter, gambar Gus Yahya malah diedit lalu dipasang dengan foto perempuan tanpa pakaian sebagai balasan atas serangan balik ke PKS. Kan kurangajar.

Di sisi lain, mereka tidak mengcounter isu PKS = DI/TII, PKI, HTI dan anti NKRI, malah menyerang secara membabi buta Islam Nusantara, proyek ideologis NU untuk perdamaian dunia sejak Muktamar 33 di Jombang (2015).

Fakta-fakta yang digelontorkan untuk menggembosi PKS itulah yang membuat partai kaffah se Nusantara itu terjungkal di pulau Jawa. Secara politik PKS lebih besar tuai kemenangan dalam perebutan Cagub-Cawagub dibanding PDIP, yang hanya menang di dua propinsi saja. Tapi gerakan sadar anti PKS di kalangan warga NU makin menjadi-jadi dibanding anti PDIP.

“Andai saja Ganjar tidak bersanding Gus Yasin, lalu PKS tidak blunder menggunjing NU, PDIP di Jawa Tengah sudah bablas, mas,” ujar Ketua PKB yang gemes dengan PKS itu.

“Itu baru menggunjing saja mas, belum memfitnah kiai-kiai NU. Bisa benar-benar bubar kayak Masyumi tahun depan,” timpal saya, sambil ngopi di petang pada hari coblosan itu. [badriologi.com]

Sumber: Abdalla Badri
Advertisement

Klik untuk komentar