![]() |
| Ojing Jepara pasukan Abu Jahal? |
Oleh M. Abdullah Badri
Akhir zaman memang bedo. Umate Abu Jahal gak soyo kurang san soyo tambah. Sudah jelas banyu gendeng harom, iseh gak terima. Ah nganggep aku kaku, sok suci, paling bener dewe, mateni pangane wong. Kuwe ki piye tah piye, jing, ojinger!
Halal harom kuwi cetho hukume. Yang tidak jelas itu musytabihat atau syubhat. Ket biyen mulo, ngridu bojone wong kuwi yo harom. Setan setuju iki. Misal bojone setan mbok embat, jing yo, makno digudak awakmu! Iki loh sing jengene harom. Cetho. Termasuk ngombe banyu gendeng. Cetho. Lha kok mbok paido, komendanmu Abu Jahal tah? Opo Abu Lahab?
Menurut sumber saya, ketika ia diminta mengeluarkan fatwa bolehnya jual banyu gendeng ke non-muslim, dia bertanya ke semua pemuka agama di Jepara. Hasilnya, tidak ada agama manapun yang menghalalkan banyu gendeng. Hanya satu agama yang menoleransinya. Itupun hanya untuk jamuan tamu dan masih diharamkan mabok. Perhatikan, apapun agamamu, banyu gendeng adalah musuh. Cetho.
Perda Jepara yang direvisi tahun 2013 pun sudah mengatur, bahwa produksi, konsumsi, distribusi banyu gendeng, dilarang. Artinya, kritik saya terhadap budaya negatif orkesan dangdut yang potensi kerusakan mooralnya nomor wahid itu mendapatkan legitimasi agama, budaya dan juga negara. Dimulainya dari orkes, sebab, bagi saya, mengkritik orkes adalah bagian dari pencegahan sejak dini. Dar'ul mafasid, istilah santrine.
Jika kamu, hai ojing, menolak kritik saya, berarti dalam upaya saya, ada warotsah (waris) dari risalah Rasulullah Saw. Justru ulama' yang tidak punya lawan adalah ulama' yang tingkat warotsahnya dari Rasulullah Saw lebih sedikit. Dakwah menolak kemungkaran memang risikonya seperti menghadapi pasukan Abu Jahal dan Abu Lahab.
Karena terkesan identik laku negatif, orkes dangdut saya kritik. Orkes itu bukan budaya bila tidak memberi efek positif. Meluruskan salah berbudaya itu butuh kesadaran dan pemahaman. Dan caranya lewat narasi seperti yang saya lakukan. Contoh isu Ba'alwi. Tidak akan diselesaikan di tingkat negara, tapi di tingkat akar rumput secara kultural dan kebudayaan. Negoro moh melu-melu. Efeknya dirasakan bukan sebab tangan negara, tapi tangan kultural yang konsisten.
Jika pemegang wewenang iseh kopoken membaca kritik saya, saya tidak bisa menegasi mereka. Itulah mengapa butuh narasi yang dibaca jutaan orang biar tumbuh ilmu dan kesadaran, di tingkat akar rumput. Bukan hanya stop banyu sini, buka di situ. Kalau ojing banyak yang paham risiko ojingan dan terjadi secara massif, orkesan makno lerep dewe. Saya tidak berharap banyak sih. Tapi, inilah langkah minimal yang saya tempuh sebagai orang yang diajari syariat halal dan haram.
Jika ojinger terus menginvasi saya dengan narasi, yang saya lihat: tidak nyambung, tidak rasional dan hanya mencari pembenaran saja, maka, itu tanda dini bahwa narasi dan kritik saya makin diterima dan diserap oleh banyak orang. Alhamdulillah.
Berkah kritik orkesan di Lapangan Ngabul, kini mulai banyak yang sadar potensi kerusakan orkes. Andai saya tidak diinvasi, narasi akan berhenti sendiri. Sayangnya, narasi balik ojinger tidak membuat saya bilang keren. Mosok mereka menyebut saya ingin nyalon lurah, nyari populer, nyari sensasi, nyari cuan dengan isu kritik orkes dangdut. Ora mbois blas!
Heh, mbok nek gawe narasi sing berkelas lah. Ngundang jengen pakku, kok "lek". Rumangsamu kuwe ponakane Pak ku? Trus, Pak ku adike sembokmu, ngono? Jan. Ketoro panik. Oleng. Ora tenang. Ojo niru Abu Jahal tah. Si komendan kejahilan. Wis ngerti bener kok ditabrak. Jahlun. [badriologi.com]





