![]() |
| Banser haram jaga orkes dangdut. |
Oleh M. Abdullah Badri
HAI, kaji-kaji yang masih suka ngibing, bila kalian masih suka menggelar orkesan ketika hajatan, jangan libatkan Banser untuk ngepam di agenda kalian. Selain tidak sesuai standar aturan, itu bukan adab sebagai kaji ngibing.
Banser tidak pernah terlibat royokan lahan parkir, tidak boleh ngepam orkesan, dan boleh menjaga gereja dengan niat menjaga persatuan namun tetap se ijin permintaan dari pihak aparat yang berwenang. Bedakan antara menolong kemaksiatan dan menjaga perdamaian.
Biasanya, pimpinan Banser akan cek apakah kaji-kaji yang meminta Banser ngepam benar-benar tidak menanggap orkes. Bila di awal hajatan ada nasidahan, lalu di akhir akan ada orkesan, maka, ketika itulah personil Banser akan ditarik secara komando tanpa terkecuali oleh pimpinan.
Ini pernah terjadi berkali-kali. Dan acapkali, orkesan yang digelar kaji-kaji ngibing tidak memberitahu akan adanya gelaran orkesan. Bila ada orkes digelar tanpa undangan, bisa dipastikan akan ada banyu gendeng beredar, dan ini kesempatan buat yang nginting-nginting orang lain bila di tempat orkes lain kalah gelut.
Nyenggol sitik pas ngibing, oleng sebab banyu gendeng bisa berakibat gelutan. Bahkan, orkesan bisa dijadikan titik mulai hilangnya anak gadis sebab putek (tidak nyaman) di rumah. "Omahmu sepi gak jing? Iki ono prawan pengen lungo," mudah terucap di orkesan, kata ojing yang tobat dan datang ke rumah, beberapa hari lalu.
Nilai seni orkesan di mana? Jika bro Rumail Abbas bertanya, itulah jawaban saya. Seninya tidak nyeni. Seninya bukan di suara, tapi laku tidak well para ojinger. Ini bukan seni. Tapi geni. Maka, jangan libatkan Banser ngepam orkesan ya, kaji ngibing. Ben gak katut. [badriologi.com]





