Minta Pepaya Tapi Tiba-tiba Membayarnya -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Minta Pepaya Tapi Tiba-tiba Membayarnya

M. Abdullah Badri
Sabtu, 08 Agustus 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
akad meminta yang kemudian dibayar
Hukum mengunduh buah pohon tanpa ijin.


Oleh M. Abdullah Badri


SEKITAR sebulan lalu, ada sepasang suami istri datang minta kates (pepaya) di belakang rumah untuk membuat dudoh bening. Istri mengijinkan keduanya. Namanya dibuat dudoh bening ya wajarnya satu dua biji. Tapi begitu rampung, dia memberi uang 20 ribu ke istri. 


"Buat apa mbak, ini?" Tanya istri.

"Tadi saya mek (ngambil) agak banyak, mbak," jawabnya.  


Begitu pohon pepaya dilihat istri saya, buahnya kosong semua. Padahal, saya biasa menyedekahkan pepaya itu untuk tamu yang datang atau untuk cah ngaji yang biasa dolan ke rumah. Saya belum pernah menjual hasil buah yang tumbuh di sekitar rumah, baik rambutan, pepaya, mangga, nangka, durian atau sayuran. Hari ini, jika kamu datang ke rumah, akan saya suguhi nangka. Ada. Habis panen. 


Selang beberapa hari, tetangga bertanya ke istri, "kamu sudah tahu kemarin ada yang mengambil pepayamu dua orang?" 


"Nggih, tahu Lek. Mereka minta pepaya buat dudoh bening, tapi anehnya, pas pulang, saya dikasi uang, padahal akadnya minta". 


Tetangga mengira, pepaya saya dijual. Dia melihat sendiri, pasutri tersebut berhasil mengunduh dua pohon pepaya di belakang rumah saya hingga dua sak besar berisi penuh. Istri saya terperangah. "Dua sak?"


"Ya wis lah Lek, wis dikarepke dekne kok," jawab istri saya sekenanya. 


Aku kok gumun, akad opo ngene iki jenenge


Awalnya minta, tapi kemudian diganti uang tanpa pemberitahuan. [badriologi.com]

 

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha