![]() |
| Siapa Penulis Sulam Taufiq? |
Oleh M. Abdullah Badri
DALAM kitab karya Syaikh Abdullah Al-Harori, berjudul Umdatur Roghib, di halaman awal terdapat biografi singkat penulis Kitab Sulam Taufiq. Di kitab tersebut, tertulis nama penulis Sulam Taufiq ialah Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir Al-Alawi (bukan Ba'alawi) Al-Hadrami.
Ia lahir di Tarim Hadramaut pada 1191 H. Sempat studi beberapa tahun di Makkah dan Madinah kepada para guru masyhur di sana. Setelah itu, beliau kembali ke Tarim dan giat melakukan ceramah maupun mengajarkan agama kepada masyarakat sekitar.
Banyak sekali karyanya, diantaranya Kitab Miftahul I'rab (Nahwu). Tercatat, Sulam Taufiq di-syarah oleh ulama Nusantara bernama Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi yang wafat pada 1316 H. Adapun syarah Miftahul I'rab ditulis oleh muridnya Habib Muhammad bin Husain Al-Habsyi (w. 1281 H) dengan judul As-Salasul Khitob (السلس الخطاب).
Setiap hari, menurut muridnya Habib Al-Idrus bin Umar, Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir Al-Alawi Al-Hadrami selalu membaca La Ilaha IllaAllah, Ya Allah dan Sholawat hingga 25.000 kali. Dan setiap akan menghadap shalat, beliau tidak lupa mandi dan memakai wangi-wangian.
Salah satu wasiatnya yang terkenal dalam amar makruf nahi mungkar ialah agar bersikap lemah lembut dan bertahap. Bila ada yang meninggalkan kewajiban, ingatkanlah secara lembut atas hal-hal yang paling penting, lalu bertahap kepada yang lebih penting. Jika sudah melakukan hal yang wajib, barulah diperintahkan hal lain.
Ketika bertemu dengan siapapun, beliau memiliki sikap egaliter dengan selalu memposisikan diri menyerap ilmu layaknya murid kepada guru. Sifatnya humul (tidak mudah menampakkan diri). Jika sudah ada yang menegakkan dakwah kepada masyarakat, beliau tidak akan melakukan hal yang sama karena sifat humulnya yang sangat tinggi.
Apabila beliau melihat seseorang yang mengaku memiliki pengetahuan, beliau membuka kitabnya lalu berkata kepadanya, "Dengan kitab ini, bacakanlah kepadaku". Dengan begitu, beliau mendapatkan manfaat, dan orang itu pun mendapatkan manfaat darinya, karena sikap tawadlu' dan upayanya dalam mendidik serta memperbaiki dirinya.
Sebab, baginya, orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dan meminta mereka datang kepadanya untuk membaca (belajar) kepadanya, tidak akan memperoleh manfaat dan tidak pula memberikan manfaat kepada orang lain.
Demikian biografi singkat penulis Sulam Taufiq yang akhir-akhir ini jadi bahan polemik dalam isu khilafnya nasab Ba'alwi. Jika ingin membaca sumber keterangan artikel singkat ini, silakan baca mukaddimah Kitab Umdatur Roghib karya Syaikh Abdullah Al-Harori, DI SINI. [badriologi.com]





