![]() |
| Karakter Pemutus Silaturrahim Keluarga adalah Buta dan Tuli. |
Oleh M. Abdullah Badri
JELAS dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa orang yang memutus silaturrahim, la'anahumullah (Allah melaknatnya), lalu Allah Swt membuatnya tuli dan mereka membuatkan mata hatinya sendiri. Bacalah ayat ini:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ - اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ
Terjemah:
"Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka". (QS. Muhammad: 22-23).
Ibnu Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir wat Tanwir (Jilid 26, hlm. 113) ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan bahwa memutus silaturrahim adalah syi'aru ahlil kufri (karakter melekat orang kafir). Mereka membuat kerusakan sebab tidak taat pada Allah Swt dan Rasul-Nya. Mereka tidak mengamalkan مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ (yang diperintahkan Allah untuk menyambung).
Memutus silaturrahim bagian dari merusak tatanan sosial. Bagaimana tidak, dengan nama-Nya kita saling meminta pertolongan dan memelihara kekeluargaan (الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ), tapi diputus. Dulu misalnya biasa saling aweh, weweh, tegur sapa, ngobrol biasa, dan kini, sebab putus hubungan, acara haul, mapati, mitoni, nikahan, besanan, dan tetek bengek lainnya, sudah hilang. Ini jelas merusak hubungan sosial.
Baca: Download Tafsir Tanwir Ibnu Asyur 30 Juz
Dan karakter perusak sosial itu buta (اَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ) dan tuli (فَاَصَمَّهُمْ). Artinya, nasehat tidak masuk ke telinga, dan kabar kebenaran tidak akan diterima karena hatinya buta. Jasamu tidak akan pernah dilihat. Wis kadung putus sekabehane. Oleh karena itulah, tipe qathi'ul arham (pemutus silaturrahim) tidak menerima kebenaran kecuali dari pihaknya sendiri.
"Aku orak niat tilik kuwe, tapi niat niliki dulur liyane," itulah salah satu bentuk tuli dan buta yang saya alami juga. Kamu membela dengan sejuta arguman, tetap salah. Kamu kirim sejuta kata atas nama nasehat, tetap dianggap mal'un oleh pemutus silaturrahum, walaupun yang mengucap Lek-mu atau Mbah-mu. Mereka itu sifatnya micek dan mbudeg. Angel wis.
Menjaga hubungan kekerabatan itu adalah مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ (yang diperintahkan Allah untuk menyambung). Lha kok diputus, cetho welo-welo nantang Gusti Allah. Makanya dianggap kufur. Dan konsekuensinya, tidak akan mendapatkan rahmat pitulungan dari Allah Swt. Angger titeni wae. Ini nash Qur'an kok! [badriologi.com]





