Bahaya Riya' (Pamer Amal) yang Disebut Rasulullah Sebagai Syirik Asghar
Cari Judul Esai

Advertisement

Bahaya Riya' (Pamer Amal) yang Disebut Rasulullah Sebagai Syirik Asghar

M Abdullah Badri
Rabu, 28 Agustus 2019

suma'ah dan bahaya riya' menghapus amal pebuatan kita
Bahaya riya dalam hadits Rasulullah Saw. yang disebut lebih besar daripada fitnah Dajjal. Foto: istimewa.
Oleh M Abdullah Badri

HADITS ke-24 dalam Kitab Mawaidlu Ushfuriyah membahas tema tentang bahaya riya' (pamer amal) dan akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang biasa melakukan riya', besok di hari kimat.

عن أنس بن مالك رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال إذا كان يوم القيـــامة نادى مناد أين المراؤون وأين المخلصون قوموا وهاتوا أعمالكم وخذوا أجوركم من سيدكم قال النبي عليه السلام لا نصيب للمرائين من أعمالهم شيئا الا حسرة وندامة وشقاوة ثم قال النبي عليه السلام ياابن أدم الإخلاص الإخلاص وقال النبي عليه السلام إن أخوف مـــا أخاف على أمتي الشرك الأصغر قالو يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال النبي عليه السلام الريـــاء يقول الله تعالى لهم يوم يجازي العباد بأعمالهم إذهبوا إلى الذين كنتم يراؤن لهم هل تجدون فيهم خيرا

Artinya:
"Dari sahabat Anas bin Malik ra., dari Nabi Saw, sesungguhnya beliau bersabda, di Hari Kiamat besok akan ada penggilan yang mencari dimana orang-orang pamer, di mana orang-orang ikhlash? Berdirilah kalian, carilah amal kalian dan ambillah pahala amal kalian dari sayyid kalian (Allah Swt.). Nabi Saw. juga bersabda, tidak ada bagian untuk orang-orang pamer dari amalnya kecuali rugi, menyesal dan celaka. Kemudian, Nabi Saw. bersabda (lagi), ikhlashlah kalian...ikhlash lah! Nabi Saw. bersanda (kembali), sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan dari umatku adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ya Rasullah, apa itu syirik kecil? Nabi Saw. menjawab: riya'. Di hari pembalasan amal para hambaNya kelak, Allah Ta'ala berkata: pergilah kalian ke orang-orang yang telah kalian pameri (amal). Apakah mereka akan menerima kebaikan?

Bila kita sepakat bahwa syarat diterimanya amal adalah ikhlash, maka, ibadah apapun yang kita lakukan dan bercampur di dalamnya sikap riya' atau pamer, tentu hal itu tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Riya' dalam istilah adalah menampakkan giat amal ibadah bukan karena mengharap ridla Allah, tapi agar dilihat oleh orang lain sebagai orang baik dan dipuji-puji sebagai orang yang dekat dengan Allah Swt.

Bahaya Riya dan Sum'ah


Selain riya', amal ibadah yang disertai sikap sum'ah (membicarakan amal kepada orang lain agar didengar luas) juga bagian dari yang merusak giat amal ibadah, sebagaimana hadits di atas, yang Allah memerintahkan orang-orang riya' (besok di Hari Kiamat) agar meminta imbalan kepada mereka yang dipameri).

Disebut syirik karena baik riya' maupun sum'ah tidak menyertakan Allah Swt. di dalam melakukan segala hal yang kita perbuat. Bahkan bisa menjadi syirik akbar (menurut pandangan sebagian ulama') bilamana dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan ternyata, bila dihitung misalnya, lebih banyak riya'nya daripada ikhlash. Ini adalah amalan orang munafiq, yang suka menipu Allah Swt.

Allah Swt. berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali". (QS. An-Nisa: 142).

Riya' bisa menimpa siapa saja. Orang alim sekalipun, justru lebih dekat dengan sikap riya karena dia lebih kaya ilmu dan pengetahuan. Karena itulah, Rasulullah Saw. sampai mengkhawatirkan hal itu. Beliau bersabda,

إن أخوف مـــا أخاف على أمتي الشرك الأصغر قالو يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال النبي عليه السلام الريـــاء

Artinya:
"Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan dari umatku adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ya Rasullah, apa itu syirik kecil? Nabi Saw. menjawab: riya'".

Bahkan, dalam hadits lain, Rasulullah Saw. lebih khawatir riya' daripada fitnah Dajjal. Beliau menyebutnya sebagai syirik khafi (syirik yang samar). Contohnya adalah buru-buru memperbaiki gerakan shalat ketika ada orang lain yang tiba-tiba memperhatikan, agar dianggap lebih khusyuk. Innalillah. [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi Ngaji malam Kamisan (Legi), 28 Dzulhijjah 1440 H/28 Agustus 2019. Ditulis pada Rabu Kliwon, sebelum ngaji, pukul 17:18 WIB.