Pengalaman Disihir Sebab Kritik Habib -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Pengalaman Disihir Sebab Kritik Habib

M. Abdullah Badri
Rabu, 09 September 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
pengalaman saya disihir dan disantet sebab mengkritik
Pengalaman saya diserang sihir sebab mengkritik habib.


Oleh M. Abdullah Badri


SAYA tidak pernah menggugat nasab haba'ib. Mau keturunan Abu Jahal atau Abu Lahab, bila dia berakhlak mulia dan alim, saya wajib menghormatinya. Namun, bila ada yang mengatasnamakan turunan Rasulullah Saw dan melaknat orang yang tidak mau memberi uang, ini bukan ahlak Rasulullah Saw. Saya kritik. 


Akhir tahun 2024, say mengkritik Umar Al-Idrus dan Syafiq yang mengaku Al-Idrus (tapi dobol). Keduanya biasa ndawir (ngemis). Umar ini biasa buat acara haul ayahnya yang entah berapa besar kontribusinya terhadap masyarakat Jepara. Agar sukses, dia buat agenda, dan dananya dimintakan ke masyarakat. Di surat ngemis proposal, hanya nama dia yang tertera. Tidak ada sekretaris dan nama-nama lain. 


Cara dia memberi puluhan amplop kosong ke salah satu teman saya. Mintanya, sebarkan amplop tersebut. Jika tidak, isi per amplo secara mandiri, sendiri. Ya berat lah. Bayangkan, ketika itu, teman saya dapat 20 amplop kosong. Acara di desa lain, tapi ngemisnya di desa saya. Dan hampir semua warga Erte saya kena pembagian amplop kosong. Kurangajar kan. 


Saya kritik mulai dari majelisnya bernama Majelis Fulus tapi justru minta-minta fulus. Gerakan saya didukung oleh pihak Robithah Alawiyah Jepara. Ketuanya, Ali As-Segaf justru mengapresiasi saya. Umar pun disidang ramai-ramai oleh para habib di Jepara. Calon pengisi acara, penceramah dan hadroh, membatalkan secara sepihak. Acara dia dibatasi pihak RA hanya boleh dihadiri pihak internal dan dia tidak boleh manggung. 


Tidak terima atas gagalnya acara tersebut, ada muhibbin berduit yang keliling cari tukang tenung. Di Jepara, tak ada yang sanggup. Sampai lah dia ke Jatim. Awalnya 3 orang yang kirim teluh. Karena tidak mempan, dia mencari kawan lain, sampai akhirnya, habis Ashar, saya tidak bisa buang hajat. Selama seminggu hanya darah yang mengucur. Santetnya adalah penyakit. 


Akhirnya, saya di dioperasi di RS Kartini Jepara. Habis operasi, sempat koma semalam. Saya sudah wasiat ke istri, bila meninggal, kubur saja saya di samping pusara ayah, Muhammad Badri, di Ngabul. Saya juga pesan hal sama ke adik-adik saya. Maklum, ayah dan mbah saya juga wafat sebab disihir. Jadi, bisa pula saya mengalami nasib serupa. 


Sejak saya kritik ulah habib ndawir di Jepara, saya dianggap musuh habaib di Jepara. Padahal, gerakan saya didukung RA. Ini yang publik tidak banyak tahu. Kini, Umar Idrus tidak lagi menggelar majelis Fulus-nya. Dia jadi driver Shopee Food. Dan istrinya tinggal di Solo, kota asalnya. 


Bukan hanya habib yang saya kritik, kiai pethalikan di PCNU, kiai sing manuke cluthak, ya saya kritik atas nama amar makruf nahi mungkar. [badriologi.com]

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha