![]() |
| Ilustrasi Kisah Mertua yang Jengkel ke Menantunya. |
Oleh M. Abdullah Badri
ADA yang berkisah ke saya, ketika dia alihan omah, mertuanya mangkel sebab merasa didahului bancaan selamatan oleh besannya. "Aku wong tuane kok kono sing ndisiki, ora trimo aku". Begitu kata ibu mertua. Akhirnya, dia ngenengke dan nge-cing!
Namanya alihan omah, pasti banyak yang datang mengucapkan selamat dan memberi sesuatu. Datang lah kawan membawa sembako, termasuk beras pulen 5 kg. Maksud hati ingin memberikan hadiah tersebut ke mertuanya. Tapi wajahnya diam, sinis dan tidak menjawab apapun ketika beras disampaikan, "niki bu, kangge jenengan masak," katanya, tapi direpon diam.
Beberapa hari kemudian, ibu mertua datang, dan bilang: "iki berasmu, masak kuwe wae". Ya Allah. Hanya karena mangkel, dia menolak hadiah dari menantunya itu. Betapa jengkelnya si menantu. Tapi dia diam tidak mengisahkan hal itu ke pasangannya.
***
Dari kisah itu, saya ingin berkata ke antum, pertama, agar ego jangan mengalahkan rasa syukur. Diberi beras harusnya kan syukur. Beras datang untuk merendahkan atau mempermalukan, tapi sebab ego pribadi, niat jernih orang lain tidak akan diterima. Janganlah ketidaksetujuan membawa sikap menolak seluruh kebaikan.
Kedua, jangan menghukum dengan masalah yang berbeda. Kalau yang disoal adalah ndisiki selametan, harusnya yang dibicarakan adalah penghormatan, bukan menjadikan beras jadi sasaran. Justru tidak menerima pemberian semacam beras akan menimbulkan kekecewaan baru. Jangan mencurigai segalanya hanya karena kecewa kepadanya.
Ketiga, memutuskan untuk marah dan tersinggung itu riskan konflik. Betulkah ndisiki selametan diniatkan untuk menghina? Kan belum tentu. Walaupun orangtua atau mertua, kadang kemarahan mereka itu tidak beralasan. Seolah, jika tidak sesuai keinginan dianggap durhaka. Ini yang salah. Ojo ngono lah!
Keempat, membiarkan kekecewaan menumpuk akan melahirkan sikap lain yang lebih ekstrim. Untung saja korban di kisah di atas tidak mengisahakan sikap mertuanya ke anaknya, pasangannya. Dia memilih diam. Tapi, apa diamnya selesai? Tidak. Nyatanya, suatu kali, dia berkisah, dan kisahnya saya tulis ini. Ini bukti bahwa memendam kecewa akan berbuah sikap lain.
Kelima, jangan menjadi penghormatan sebagai lomba. Seolah, yang lebih dulu, dialah yang lebih hormat dan yang belakangan, durhaka. Iki model opo? Camkan, bila penghormatan dijadikan perlombaan, itu akan menjadi sumber kecemburuan, dan akhirnya, mangkelnya urakan, tidak beralasan. Merepotkan.
Intinya, wong nek mangkel, sering kehilangan akal sehat. Apalagi sumber mangkelnya orangtua. Akan mudah tersinggung dan sensitif memang. Sing sante sik ya, din! Di-ududi ben anteng! [badriologi.com]





