Kamis, 10 Februari 2011

Tren Lugu Dakwah Pop

Oleh M Abdullah Badri

Ada kegetiran yang menganga dalam kehidupan keberagamaan kita. Di tengah maraknya program dakwah dalam laku kultural bangsa, justru dalam waktu yang bersamaan, kekerasan atas nama agama dan pelanggaran norma-norma sosial-keagamaan seakan kian menemukan momentum, terutama pasca reformasi, ketika keran kebebasan beragama nyaris tak terkendali. Dimana peran para juru dakwah selama ini? Begitu aktif mereka berbicara tentang agama, namun efek sosial yang positif belum kelihatan begitu siginifikan.

Di beberapa media elektronik, program dakwah Islam diagendakan hampir setiap hari, terutama di waktu pagi, menjelang subuh atau sore menjelang maghrib, meski hanya beberapa menit saja. Kita pun dengan mudah menyebutkan nama-nama para juru bicara agama di televisi itu. Namun berita menarik itu selalu satire dibarengi dengan realitas yang menyisakan ironi. Korupsi dan fenomena ketidakadilan menjadi menu utama media massa, bahkan tidak jarang dijadikan headline berita.

Begitupun, pelatihan-pelatihan berbasis spiritual sudah menjadi gejala umum di kota-kota besar. Seakan sudah menjadi kebutuhan, beberapa perusahaan terkemuka menjadikan pelatihan yang biasanya mengkombinasikan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual itu, sebagai ritual yang rutin diselenggarakan dalam hitungan waktu tertentu.

Penerbitan-penerbitan bernafaskan Islam juga tak sulit dijumpai di toko-toko buku. Buku wacana keislaman popular menjadi pemantik minat orang mempelajari Islam. Euforia novel berbasis keislaman juga menjadi fenomena yang menarik para kritikus sastra untuk angkat bicara. Terbitan dengan siklus edisional, baik mingguan, bulanan atau triwulan, hadir seiring dengan kebebasan pers yang tak bisa dibendung. Harian lokal maupun nasional juga tak lupa menyisakan ruang rubrikasi untuk sajian ataupun kajian keagamaan dan spiritual.

Yang menarik, ustadz pop dengan gelar-gelar yang sensasional mulai menjadi tren dalam komunikasi keagamaan dewasa ini. Ada yang disebut ustadz gaul, ustadz cinta, ustadz cilik, ustadz musik, ustadz dzikir, ustadz habib dan sebagainya. Para juru dakwah itu mendemonstrasikan kebolehannya dalam menginternalisasi pemahaman keagamaan dengan karakter khas masing-masing. Ada yang menonjolkan kebolehan suaranya, tampilan kostumnya, kelembutan tutur katanya dan ada pula yang menampakkan kelugasan dan ketegasan dalam menyampaikan pesan. Mereka seakan bersaing memperebutkan konstituen dakwah. Walhasil, mereka memang punya pangsa pasar tersendiri.

Dakwah Konsumtif
Islam sudah menjadi tren dalam konstelasi kehidupan bangsa kita berkat media dakwah yang menggunakan pendekatan populer. Apa yang diinginkan masyarakat, yang menarik minat kajian umat, dijadikan sarana dakwah. Dalam perkembangan berikutnya, wilayah dakwah meluas, bukan hanya di majlis ta’lim, masjid, mushalla dan pesantren. Perusahaan bonafit berskala internasional, ruang publik dan ekonomis yang dulu hampa dari nuansa religius, kini disesaki dengan pesan-pesan moral keagamaan.

Musik sekarang ada yang disebut musik islami, buku islami, alat komunikasi islami, busana islami dan seterusnya. Simbol keislaman yang tersebar dalam ruang-ruang historis mengisahkan bahwa Islam bisa hidup di manapun, dalam kondisi apapun dan sampai kapanpun. Ya’lu wala yu’la alaih.

Satu sisi, pendekatan dakwah Islam dengan tren budaya pop telah membuat Islam begitu nyata dirasakan sebagai agama yang rahmatan lil-alamin, tidak anti terhadap perkembangan zaman dan pertarungan hegemoni kuasa berbasis identitas. Budaya pop telah mengantarkan dakwah Islam menjadi ringan diterima oleh masyarakat. Pesan moral juga mudah tersampaikan secara massal. Dalam konteks global, budaya pop telah membuat identitas kultural keislaman justru tahan dari goncangan eksistensi. Islam semakin mengglobal, namun tetap teguh dalam tatanan nilai universal-kemanusiaan-keislaman.

Budaya pop telah membuat wajah Islam yang dianggap Barat dekat dengan pedang, menjadi lebih rasional, peka terhadap perubahan dan sensitif kepada sistem kebudayaan masyarakat. Namun harapan itu ternyata belum berlanjut dalam kehidupan nyata secara signifikan. Dakwah dengan menggunakan budaya populer ternyata masih berhenti pada tutur kata dan wacana. Hal itu bisa dimaklumi mengingat sifat budaya pop lebih dominan pada penyikapan konsumtif dari hasrat keinginan sosial. Yang terlihat, dakwah Islam seakan hanya memenuhi pesanan ego dan ambisi sosial.

Ketika ada gejala bahwa musik bergenre dangdut laku di masyarakat, maka ramai-ramai para musisi membuat lagu dangdut bertema Islam. Begitupun, ketika terbitan buku dan novel berjenis religius diminati pasar, maka novel yang sama juga akan terbit beriringan. Dakwah dengan budaya pop menuruti pasar, memuaskan euforia fenomena terakhir. Tidak ada konsistensi selama kehadiran budaya masyarakat tidak bergeser pada genre dan sensasi kebudayaan lain yang lebih mutakhir.

Gerakan Isu Bersama
Sulit memisahkan secara pasti mana yang dikategorikan sebagai gerakan dakwah dan mana yang disebut sebagai aktivitas ekonomis yang menggunakan pendekatan agama. Islam, dalam konteks ini, seakan menjadi komoditas modal yang digerakkan oleh tangan tak terlihat bernama kapitalisme. Bila gejala ini terus berlanjut, efek sosial yang dirasakan oleh dakwah berbasis budaya pop itu, hanya terasa dipermukaan. Tidak merasuk secara inheren dalam jantung kehidupan umat. Dakwah dijalankan sebatas orientasi mental sesaat. Langkah seribu perubahan menjadi pemantik sensual. Ini sebuah ironi.

Akibatnya, kehidupan spiritual umat Islam terkesan latah dan “wah”. Kita tidak bisa menampik realitas tentang adanya pejabat yang menggunakan simbol agama untuk menutupi hakikat moral individunya secara nyata. Betul, barangkali ia dermawan kepada kaum miskin, namun belum tentu ia adalah pejuang yang membebaskan rakyat dari kemiskinan.

Dakwah dengan budaya pop semakin satire dirasakan ketika pola-pola penyampaian secara konvensional, menggunakan tafsiran ayat al-Qur’an dan al-Hadits, masih dalam tataran normatif, yang melihat pesan-pesan Islam secara hitam putih, antara yang boleh dan tidak dan antara yang dianjurkan dan yang dilarang. Semangat budaya pop memang tidak pernah menyoal hal itu, sepanjang memberikan kepuasan sensasional berbasis spiritual. Mengapa? Karena dalam euforia budaya popular, yang dicari bukan format pesan, namun pemenuhan kebutuhan humanis. Kepuasan. Ya, itulah yang dicari.

Agar orientasi dakwah dengan menggunakan pendekatan popular bisa memberikan iklim pembebasan sosial, harus ada konsensus bersama tentang isu-isu yang harus diperjuangkan secara kolektif. Isu tersebut bukan hanya isu yang tersegmentasi dalam pusaran kepentingan umat islam semata, namun untuk kepentingan umat manusia, rahmat semesta alam, lintas iman, lintas budaya.

Isu-isu yang mendesak untuk diperjuangkan bersama adalah tentang kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketimpangan sosial, ketidakadilan, otoritarianisme politik dan isu kemanusiaan lainnya. Kalau isu-isu di atas dijadikan strategi bersama, ada harapan untuk mempersiapkan rekayasa sosial dengan aksi bersama. Orientasi yang demikian membuat dakwah Islam bukan hanya sebatas pemuas kebutuhan sensasional, namun juga menjadi ruang memperjuangkan kepentingan keumatan bersama, berskala kemanusiaan.

Format dakwah dengan menggunakan pendekatan budaya popular tetap harus dipertahankan karena dengan itu orang tidak merasa dihakimi, didikte dan diadili. Budaya massa membuat nuansa dakwah lebih sejuk dan merasa menjadi sumber bimbingan spiritual. Dakwah bukan sekadar memerintah dan melarang, namun mengajak. Itu hanya strategi. Maka harus diorientasikan, agar tidak kehilangan arah perjuangan. Dengan demikian, orang tidak merasa menjadi terdakwa.

(Dimuat di Majalah Manhaj, edisi 2, vlm II, 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar