Selasa, 20 Februari 2018

Kritik Matematika ala KH Ma'mun Ahmad Kudus (Mate-Mati-Kaku)

Dari kiri: KH Turaichan Adjhuri, KH Arwani Amin, dan KH Ma'mun Ahmad

Orang yang pintar pengalian (x) tapi tidak pintar pembagian (\), kata Kang Sholla Taufiq, -saat ngobrol santai di Kafe Intermezzo (Ciputat, Tangsel), Kamis (15/02/2018),- dia tidak akan lama-lama dalam penambahan (+) karir, jaringan dan unsur terpenting dalam hidupnya.

Oleh M Abdullah Badri

SIMBAH KH Ma'mun Ahmad (Kudus), adalah kiai ahli tauhid yang unik dalam memaknai hal-hal baru (muhdatsat). Beliau adalah guru para masyayikh di Madrasah Tbs Kudus, selain KH Turaichan Adjhuri yang dikenal ahli fiqih dan falak.

Saat saya nyantri di Pondok Pesantren Tasywiquth Thullab Baletengahan Kudus, Mbah Ma'mun selalu mengingatkan agar santrinya tidak kebentus awang-awang, kesandung roto.

Selain itu, pesan Mbah Yai Ma'mun yang saya ingat adalah soal kritik Matematika, yang dianggap beliau "ora dadi pitakon kubur" (tidak jadi pertanyaan kubur).

Orang lain mungkin menganggap Mbah Ma'mun anti Ilmu Matematika. Tapi bagi saya tidak. Saat jadi Direktur Madrasah TBS pun, materi Matematika tetap ada dan terus ada hingga kini.

Mbah Ma'mun itu ahli strategi Matematik. Makanya para santri diminta berhati-hati kepada orang yang ahli Matematika. Kalau tidak berhati-hati, kita yang akan rugi.

Dalam Matematika, ada penambahan (+), pengurangan (-), pengalian (x), dan pembagian (\). Menurut senior saya Mutakhorijin TBS (alumnus TBS), Kang Sholla Taufiq, hidup di alam yang dihitung semua amal dunia ini untuk bekal akhirat nanti, kita harus pandai berhitung.

Walau saya tidak sepakat dalam konsep live is marketing always (hidup adalah tawar-menawar bahkan kepada Allah sekalipun), tapi saya sepakat pada poin pintar berhitung untuk harga diri (marwah), harga tawar (positioning) dan kewaspadaan sebagai strategi, sebagaimana Mbah Kiai Ma'mun pesankan dalam kritiknya (baca selesai esai).

Orang yang pintar pengalian (x) tapi tidak pintar pembagian (\), kata Kang Sholla Taufiq, -saat ngobrol santai di Kafe Intermezzo (Ciputat, Tangsel), Kamis (15/02/2018),- dia tidak akan lama-lama dalam penambahan (+) karir, jaringan dan unsur terpenting dalam hidupnya.

Saat ngobrol santai bersama alumni TBS di Jakarta, 15 Februari 2018.
Apalagi jika dia pintar pengalian (x), terlalu pintar dalam pengurangan (-) tapi tanpa memperhatikan unsur pembagian (\) kepada teman lain yang berjasa atau dihormati. Itu alamat dia akan berakhir di titik (.) atau koma (,) untuk tahapan selanjutnya.

Dalam obrolan santai bersama teman-teman alumni TBS Kudus di Format Jakarta itu, saya kok menyimpulkan begini:

  1. Terlalu pintar pengalian (x) tanpa pembagian (/): Cenderug Rakus
  2. Terlalu fokus pembagian (\) tanpa memperhatikan penambahan (+): Cenderung Hidup Stagnan. 
  3. Terlalu pintar pengalian (x) dan cerdas pengurangan (-) tanpa pembagian (\) yang pas: Cenderung Curang dan Khianat. 
  4. Terlalu pintar penambahan (+) tapi tidak pintar pembagian (\): Cenderung Apatis, Medit Methitil dan Ora Urus. 
  5. Tidak pintar pengalian (x) tapi terlalu pintar pembagian (-): Cenderung Mudah "ditipu" nomor urut 1 atau 3 di atas.


Dari daftar di atas, kayaknya saya masuk nomor 5. Karena sejak kecil saya goblok soal Matematika, maka saya kerap "dimatematikain" (korban Matematika) dari karakter nomor 1 dan 3.

Terutama yang nomor 3 itu, dia mudah memakan korban walau statusnya teman. Kayaknya saya korban berkali-kali soal ini. Hahaha.

Saat "dimatamatikain" orang lain atau teman itulah, saya ingat kritik Mbah Kiai Ma'mun Ahmad terhadap paradigma hitung Matematika, yang meniru wazan tashrif ma'nawi dalam Ilmu Shorof, begini kalimat beliau:

Matematika - Matematimu - Matematikaku.

Saya artikan ngawur begini saja: "Matematika itu terserah padamu (kau gunakan). Bisa mati kaku jika kau jadi korban matematika (orang lain)".

Pertinyiinnyi, Anda masuk karakter yang mana? Hehe. [badriologi.com]
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar