Dar Der Dor Teluh Malam Jumat

Ilustrasi teluh malam Jumat
KAMIS dini hari (06/09/2018) sekitar pukul 12.10 WIB, pas nderekke ngaji semalam suntuk di Mambak dan Mayong Lor, saya sempat ditelpon dari rumah kalau anak saya sakit panas mendadak. Padahal ketika berangkat habis Isya', dia masih jigar, dolanan dengan riang di ruangan rumah.

Di telpon, saya mendengar suara anak saya minta obat ke Bapak-nya.

"Bapak nyuwun obat, sakit panas kulo Pak," kata anak saya di telepon.

"Nggeh nang, mimik yang banyak yah, mangke langsung waras, Bapak nembe ngaos," kata saya.

Lima menit setelah saya telpon, dia tidur dan langsung mbrojol keringat. Alhamdulillah sembuh. Obatnya hanya suara Bapak-nya.

Malam itu pula, adik saya mimpi kalau ada yang ngerjain saya kirim sembarang ndengah ke rumah. Dia nyebutnya teluh atau santet.

=====

Kamis pagi, sekitar jam 7, saya ketahui manuk peliharaan saya selama 5 tahun, mati mendadak di kurungan. Siapa yang membunuh? Entah.

Malam Jumat (07/09/2018), pas saya berangkat Kliwonan, tetangga dan adik saya melaporkan ada gerakan mobil tak dikenal muter-muter gang rumah.

Dan, tengah malam sekitar pukul 12, suara dar der dor terdengar di atas rumah. Kilatan menyambar juga ada di atas rumah. Kata tetangga, itu bukan mercon, tapi hadiah dari orang yang tidak suka.

Kata istri teman saya, "sampeyan ki loh berjuang sampe tidak mikir anak-istri," ujarnya.

"Loh, kok bisa, saya tetap nafkahi anak istri kok mbok anggep nggak mikir. Hahaha," jawab saya.

===


Saya hanya ittiba' almarhum Bapak saya. Dengan cara berjuangnya, Bapak ngurus NU hingga tiap malam rela ngaji di 17 mushalla desa.

Dengan cara ramah pun, tetap ada yang tidak suka. Apalagi dengan cara saya, yang terbuka, tegas dan jelas karepe, ngerti target-e.

Saking sibuknya ngurus umat Kanjeng Nabi yang masih hidup maupun yang sudah tiada, rumah kediaman Bapak pun tak pernah diurus hingga hampir ambruk. Tapi Alhamdulilah tidak pernah malu kepada cibiran tamu yang menganggapnya tak peduli diri sendiri.

Kini, karena Bapak saya wafat setelah diteluh tanpa dasar pada tahun 2012, saya ya siap menggantikan perjuangan beliau. Dengan cara yang berbeda karena hidup di zaman yang berbeda: internet dan medsos.

Kakek saya dari ibu juga senasib dengan Bapak saya. Saya dilahirkan dari darah pejuang sejak nenek buyut dari Demak, Pati dan Jepara. Mau pilih jadi wong sugeh ora macem. Hahaha. Ya ngikut jejak leluhur mawon lah.

Dakwah dengan cara lunak dan tegas pun, risikonya tetap sama. Diterima dan ditolak. IlaAllahi Al-Mut'aan. [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar