Siti Jenar Pembuat Urutan Tahlilan?
Cari Judul Esai

Advertisement

Siti Jenar Pembuat Urutan Tahlilan?

M Abdullah Badri
Senin, 28 Januari 2019

siti jenar dan tahlilan

Oleh M Abdullah Badri

SIAPA penyusun tahlilan, sejak kapan ada tahlilan? Banyak para kiai yang ketika saya tanya sejarahnya, tidak ada yang bisa menjawab. Bahkan ada yang mengatakan, tahlilan adalah tradisi yang diimpor dari Persia, dengan bukti, tahlil juga dilangsungkan pasca 7, 10, 100 dan 1000 hari umat Islam meninggal.

Menurut Agus Sunyoto, tokoh yang pertama kali menciptakan urutan tahlilan adalah Syaikh Siti Jenar. Ceritanya, dulu, tanah Jawa sangat sulit dimasuki oleh para wali. Zaman Majapahit, banyak pendekar sakti yang menguasai ilmu Cakra Bhirawa warisan ajaran kejadugan Hindu-Budha, yang membutuhkan tumbal manusia untuk ritual menambah kesaktian. Aliran ini disebut dengan Bhairawa Tantra.

Para wali yang datang sering kalah ketika melawan para juru sakti di zaman Majapahit tersebut. Inilah salah satu alasan mengapa Islam yang sudah masuk ke Nusantara pada abad ke-7, baru bisa berkembang di abad ke-13 hingga 14.

Ilmu Cakra Bhirawa bukan hanya memakan tumbal para wali yang datang. Warga biasa yang hidup biasa-biasa saja tanpa kesaktian pun acap dijadikan korban. Syaikh Siti Jenar membuat “mantra” untuk menolak risiko ritual Cakra Bhirawa. Oleh para wali, Siti Jenar ditugaskan memperluas ajaran Islam dengan mendirikan kampung-kampung khusus, yang kemudian dinamakan “Lemah Abang”. Pengikutnya disebut “abangan” —bukan dalam pengertian sekarang, yang seolah tidak beragama.

Desa Lemah Abang

Di Nusantara, terlacak ada 77 desa yang diberi nama Lemah Abang. Di Jepara, nama desa tersebut ada di kecamatan Keling. Di desa-desa ini, Siti Jenar meninggalkan jejak “mantra” untuk menangkal setan-setan, iblis dan menolak tumbal para pengamal Cakra Birawa di zamannya. Mantra itu kemudian dikenal dengan tahlilan.

Urutan umumnya adalah: Surat Al-Ikhlash (3 kali), Al-Falaq (1 kali), An-Nas (1 kali), Al-Fatihah (1 kali), Awal Surat Al-Baqarah (1 kali), Ayat Kursi (1 kali), Istighfar (33 kali), Shalawat (33 kali), La Ilaha Illa Allah (33 kali), Tasbih (33 kali) dan tawassul doa kepada Allah dengan mengirim bacaan Al-Fatihah kepada leluhur sekitar desa yang telah meninggal.

Inti dari doa itu adalah meminta keselamatan dunia dan akhirat, yang kemudian ritualnya bisa disebut dengan selamatan (memohon doa selamat), yakni selamat dari ancaman pelaku Cakra Bhirawa dan selamat dari gangguan jin, setan, iblis dan segala hal yang melupakan Allah Subahanahu wa Ta’ala.

Doa tahlilan inilah yang kemudian meluas hingga ke beberapa tempat di desa-desa sekitar Lemah Abang berada. Diamalkan ke berbagai desa hingga menyebar menjadi kultur, tradisi dan budaya yang berbeda di Jawa dan bahkan luar Jawa, Nusantara.

Jadi, tahlilan adalah susunan doa selamat, bukan doa bid’ah. Desa-desa yang aman adalah desa yang penduduknya masih guyub mengamalkan tahlilan.

Karya Syaikh Siti Jenar Sekarang terbukti. Cek saja, dimana ada desa yang penduduknya anti tahlilan, biasanya cenderung dihuni oleh manusia bermental Iblis, yang merasa dirinya lebih dari orang lain; radikal, suka bermusuhan, dan anti kebangsaan. Wallahu a’lam. [badriologi.com]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah