Metode Ruqyah Aswaja: Bukan Mamasukkan Jin Tapi Menyembuhkan Pasien
Cari Judul Esai

Advertisement

Metode Ruqyah Aswaja: Bukan Mamasukkan Jin Tapi Menyembuhkan Pasien

M Abdullah Badri
Sabtu, 28 September 2019

ciri dan metode ruqyah aswaja adalah sanad
Ruqyah atau suwuk aswaja. Foto: dutaislam.com.

Oleh M Abdullah Badri

RUQYAH (رقية) atau udzhah (عذة) maknanya adalah perlindungan. Dalam tradisi santri, ruqyah biasa diamalkan sebagai perisai ilahiyah melindungi diri dari gangguan sihir setan, jin, rasa was-was, penyakit fisik, menekan emosi, potensi keburukan yang bisa menimpa kita di kemudian hari, dll.

Ruqyah bahkan sangat bermanfaat untuk memperkuat iman dan keteguhan hati, mendekatkan diri kepada Allah Swt. serta bagian dari ibadah, karena Nabi Muhammad Saw. pernah mempraktikkannya. Para santri menyebut amaliyah ruqyah dengan sebutan suwuk atau nyuwuk. Orang Arab menyebutnya sebagai ruqyah.

Ruqyah sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang dikejar waktu, dikejar rutinitas dan kebutuhan duniawi yang kadang mendapatkan tantangan dari lawan dan kawan yang terjangkit penyakit hati semacam hasud, dengki, serakah, iri dan dendam.

Berbeda dengan tradisi penyembuhan lain. Dalam suwuk atau ruqyah, cara yang digunakan adalah melafadzkan ayat-ayat Al-Qur'an, dimana salah satu manfaat ayat tersebut terbukti bisa mengusir jin atau setan (evil spirit) yang ada dalam tubuh, membuat hati lebih tenang dan menambah keimanan umat Islam.

Dalam Surat Al-Isra' ayat 82, Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah obat penawar dan rahmat bagi orang yang beriman. Nah, ruqyah adalah salah bentuk pengamalan atas ayat tersebut, baik untuk penyembuhan penyakit fisik maupun non fisik.

Dalam tradisi ruqyah ahlussunnah wal jama'ah, metode yang digunakan para ahli ruqyah salah satunya adalah dengan istinthaq (mengajak bicara setan atau jin yang ada dalam tubuh pasien), istilham (memohon kepada Allah Swt. lewat ilham mimpi untuk menyembuhkan pasien yang terkena sihir), tahsin (menyembuhkan pasien dengan meperbaiki ibadah, merutinkan doa, obat-obatan, atau hijamah/bekam) dan lainnya.

Semua ayat yang digunakan dalam metode-metode ruqyah di atas bisa didengar oleh pasien yang siapapun yang ada di sekitarnya, karena dibaca dengan dengan keras dan bersanad secara musalsal hingga Rasulullah Saw. Beda dengan rapalan dukun-dukun yang menggunakan mantra-mantra yang sulit dipahami makna dan artinya.

Karena ruqyah digunakan sebagai sarana penyembuhan, maka, bila usai diruqyah justru pasiennya muntah-muntah, pusing dan mengamuk seperti orang kesurupan misalnya, hal itu sangat disangsikan sebagai ruqyah yang sesuai dengan misi ruqyah dari Nabi Muhammad Saw., yang memang untuk menyembuhkan, untuk mengeluarkan sihir jin, bukan memasukkannya ke pasien untuk ditanyai balik. [badriologi.com]