Jika Dia Sedang Marah, Jangan Kau Ajak Musyawarah -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Jika Dia Sedang Marah, Jangan Kau Ajak Musyawarah

M. Abdullah Badri
Minggu, 28 Desember 2025
Flashdisk Ebook Islami

Jual Kacamata Minus
jangan mengambil keputusan saat sedang marah
Jangan bermusyawarah dengan orang yang sedang marah.


Oleh M. Abdullah Badri


FITNAH itu dimulai dari kata-kata, diperluas karena pandangan yang keliru (asumsi) dan diperparah karena mengajak orang yang tidak tepat untuk bermusyawarah. Inginnya sih meredakan fitnah, tapi, ketika hal itu dibicarakan kepada orang yang salah -meskipun dia dulurmu- fitnah bisa meluas. 


Suatu kali, ada seorang adik yang bingung akan mengundang kakaknya untuk walimah nikahnya atau tidak. Dia meminta masukan kepada semua saudara tuanya yang lain. Nah, karena saudara-saudaranya itu sudah membenci si kakak, mereka bersaran tidak usah diundang saja kakaknya yang dimaksud. 


Apa yang terjadi? 


Konflik justru lebih meluas, kian sublim dan sulit terurai. Ini akibat mengajak diskusi kepada orang yang tidak tepat. Dia lagi marah, kok dimintai masukan. Dalam syariat, hal ini tidak boleh. Mintalah masukan kepada orang normal jiwanya dan netral keberpihakannya. Dalam bahar Rojaz, saya ungkapkan: 


تَــكَــلُّمٌ قَـــبْلَ التَّبَايُنِ هُــوَ :: شَيْطَانُ نَاسٍ فِــتْنَةً قَـــدِ احْتَوَى

"Bicara sebelum jelas duduk perkaranya, ya sama saja kayak setan kecil yang hobi bikin orang ribut".

 

تُضِلُّكَ اسْتِشَارَةٌ لِـــرَجُـلٍ :: ذِيْ غَـــضَبٍ أَخَاكَ نَــهْجَ وَبَـــلٍ 

"Bermusyawarah kepada orang yang lagi marah kepada saudaramu itu seperti nyari petakamu. Kau pikir dia bakal kasih solusi? Yang ada malah ditarik ikut ke jurang masalahmu sendiri".


SYARAH NADHOM

Perkataan dan asumsi itu butuh tasabbut (التثبّت) alias investigasi. Tanpa itu, keduanya akan menjadi pintu terbukanya fitnah. Banyak sekali contoh fitnah yang mewabah karena berangkat dari kesimpulan keliru. Walaupun tidak bermaksud menimbulkan fitnah, kalam tanpa tasabbut bisa mengarah pada permusuhan, konflik dan pendhaliman. Rasulullah Saw bersabda: 


كفى بالمرء كذبًا أن يُحدِّث بكل ما سمع


Terjemah:

"Cukup sebagai pembual jika seseorang menceritakan kembali semua yang didengarnya". (HR. Muslim). 


Begitu mendengar omongan tetangga kalau si fulan yang ngajak ribut keluarganya, dia langsung ikut membenci tanpa meminta keterangan. Orang seperti ini sah dianggap sebagai pembohong. Desas-desus yang dipercaya penuh adalah pangkal kerusakan sosial. Inilah yang diinginkan oleh setan. Dia tidak puas jika ada persatuan dan kedamaian yang terbangun dimanapun. Setan selalu membuat gaduh. Allah Swt berfirman:


إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا


Terjemah:

"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati". (QS. Al-Mujadilah: 10).   


Kata Ibnul Qayyim, mendahulukan asumsi, pandangan dan kesimpulan sebelum kabar diterima dengan jelas adalah pangkal segala fitnah di dunia. Bagaimana tidak, ketidaktahuan akan kabar berita bisa membuat orang lain terjatuh ke dosa besar seperti melaknat, merendahkan martabat, menghina di belakang dan membawa orang lain untuk ikut ke pusarannya. 


Jika jahil tentang konflik, lebih baik diam daripada harus bermusywarah kepada orang lain yang tidak tepat. Jika kamu sedang konflik, jangan kamu meminta masukan kepada orang yang terlibat dalam konflik tersebut. Itu akan memperparah kondisi. Apalagi kepada pihak yang sedang emosi atau marah kepada orang yang kamu respon bagaimana sebaiknya. 


Rasulullah Saw bersabda: 


لا يقضينّ حكم بين اثنين وهو غضبان


Terjemah:

"Putusan hukum kedua belah pihak (yang bertikai) jangan diambil saat kondisi marah". (HR. Muttafaqun Alaih). 


Orang yang sedang marah, lalu kamu ajak diskusi, dia tidak akan memberikan petunjuk yang benar dalam perkara yang hendaknya diambil. Sebab, orang marah itu hilang keadilan dan akal sehatnya. Hawa nafsunya merajai. Jangan diajak musyawarah. 


Orang sedang jengkel biasanya tidak mau didebat. Maunya dia, kamu menuruti keinginan dia. Karena itulah, Imam Syafi'i itu tidak pernah mau berdebat dengan shahibul hawa (pemilik hawa nafsu), yang ngeyelan tanpa argumen, yang main pokoknya, yang maunya dituruti. Imam Syafi'i berkata: 


ما ناظرتُ أحدًا إلا تمنيتُ أن يُوفَّق، إلا صاحب هوى


Terjemah:

"Saya tidak pernah berdebat dengan siapapun tanpa berharap bahwa pendapat saya akan disetujui, kecuali bagi mereka yang didorong oleh hawa nafsu mereka sendiri".


Percuma meladeni orang yang sudah dirajai emosi jengkel ke saudaranya, tetangganya, temannya, sejawatnya, atau siapapun dia. Percuma. Bahkan bisa menjerumuskan ke jurang penyesalan. Buktinya, setelah antum musyawarah dengannya, rumangsamu sih apik, tapi nyatanya, konflik justru lebih dalam, meluas, dan sulit diuraikan, dan kamu ikut terbawa fitnah cangkem elik darinya, kan? 


Jajal pikir jeru! []


Keterangan:

Syarah nadhom ini adalah bagian dari kumpulan Nadhom Sururun Nasho'ih, yang suatu kali akan saya kumpulan jadi kitab nadhom bersyarah bahasa Indonesia. 

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha