Maju Terus, Ojo Belok Kanan! -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Maju Terus, Ojo Belok Kanan!

M. Abdullah Badri
Selasa, 07 Juli 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
maju terus kritik orkes dangdut di jepara
Mau terus ojo belok!


Oleh M. Abdullah Badri


KETIKA pasang sound orkes (atau setelahnya), ia tiba-tiba didatangi seorang ibu yang mengeluh. Dia berkisah kalau uang SPP anaknya yang harusnya dibayarkan ternyata dibuat si anak untuk urunan tanggapan orkes dangdut. Dan ketika dia akan dijemput ke lokasi orkesan digelar, anaknya sudah tidak sadar sebab banyu gendeng. Ya Allah. Dia bingung siapa yang harusnya disalahkan. 


Tukang sound juga berkisah, ketika dia sedang tes sound sekitar jam 7, masyarakat sekitar sedang khusyu' jamaah shalat Isya', anak buahnya malah tes "dang ding dung". Tak lama kemudian, puluhan orang yang habis jamaah di mushalla sebelah itu datang dan menegur. Si anak buah itu diperingatkan, tapi ra ngandel kayake


Dua kajadian nyata yang saya tulis di atas menunjukkan bahwa dampak hiburan orkes dangdut itu tidak bisa diprediksi. Mayoritas negatif. Ini belum kisah istri teman-teman saya yang suaminya masih ojingan. Bahkan ada istri yang berkisah sangat suka suaminya makin sulit mencari tempat pertunjukan orkes di Jepara. Jarene, dekne mikir kandungan semua tulisanku. Alhamdulillah. 


Lihatlah, gelaran orkes bisa menjadikan anak durhaka kepada orangtua, dekat dengan banyu gendeng, menganggu ketertiban tetangga beribadah, dan bahkan bisa menjadi penyebab tukar padu rumahtangga dan antar keluarga dekat hingga berbulan-bulan. Ini bukan omong kosong. Nyata terjadi di Jepara. 


Sudah saya katakan, orkesan dangdut di Jepara itu paling reseh. Dan menurut seorang guru, ia adalah perusak tatanan nomor wahid dan primitif. Bayangkan, tanpa nimbrung orkesan, arena orkes dangdut bisa jadi tempat janjian me lampias kan dend4m masa lalu. 


Orkesannya di lapangan, tapi gelutnya bisa terjadi jalan raya di seberang sana, yang sepi orang, hingga pernah terjadi pembunuhan di depan pintu bangunan sebuah pondok pesantren di salah satu wilayah di Jepara. Golek dewe ceritane. Ono.


Teman saya dari Semarang mengatakan, Jepara itu paling sering ada gelaran orkesan dan paling bebas ruwet. Lha orak ruwet kepiye, ojing tidak bisa masuk arena orkesan atau permintaan lagunya tidak keturutan, botol kosong diuncalke kok. Perang botol pun terjadi. Kalau akalnya tidak ketutup banyu gendeng, mestine isin. Kejadian seperti inilah yang membuat orkesan seperti di Gerdu kemarin, stop. Tukang sound seneng, muleh rodo isuk


Tukang sound berkisah, ketika dia pasang soundnya di daerah Kendal dan sekitarnya, penontonnya anteng, gak joget, gak ngombe. Maka, cukup 2 personil aparat yang jaga di sana. Orkes seperti inilah yang bisa dinikmati sebagai tontonan hiburan —meskipun saya tetep menyebutkan maksiat. 


Pak Dhe dan sedulur jauh dari berbagai trah mengingatkan, "kalau kamu diajak diskusi dengan siapapun yang suka orkesan, tak usah dilayani. Tanya kok dimana maksiatnya orkesan? Itu artinya dia tidak butuh diskusi, tapi dia butuh ngaji ben ngerti hukum syariat. Ajak ngaji. Ojo gelem diajak diskusi!".


Sedulur saya yang keturunan pejuang murid Diponegoro tidak ada yang tidak mendukung saya. Sebab, apa yang saya lakukan adalah ndandani, orak ngrusohi. Ketika ziarah ke mbah ke-9, Mbah Shodiq Jago Wringinjajar, ini isyaroh ayat yang tampak:


وَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ


Terjemah:

"Tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad), dan janganlah mengikuti keinginan mereka". (QS. As-Syuro: 15). 


"Lurus, ojo menggok tengen (bujukan manfaat dunyo)". 


Siap, nderek dawuh Mbah! [badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha