"Matre" Tak Identik dengan Perempuan Kita
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

"Matre" Tak Identik dengan Perempuan Kita

M Abdullah Badri
Sabtu, 22 Agustus 2009
Loading...

perempuan matre menurut islam
Ilustrasi perempuan matre. Foto: istimewa.
Oleh M Abdullah Badri

KITA sering mendengar ungkapan matre yang ditujukan kepada perempuan. Biasanya, ungkapan itu ditujukan kepada perempuan yang menghitung ketulusan dengan ukuran materi. Citra yang terbangun menyatakan, dia seorang perempuan yang "mata duitan".

Perempuan seperti itu cenderung dijauhi laki-laki, dan jauh dari jodoh, karena dianggap tidak akan menghadirkan kebahagiaan dalam bingkai rumah tangga. Stigma semacam itu jelas akan menyudutkan perempuan.

Perempuan, sebagai objek stigmatisasi, akan mengalami alienasi kultural. Erving Goffman (1922-1982) mengatakan, stigmatisasi atau pemberian nama secara khusus untuk pencitraan negatif adalah atribut yang mendiskreditkan objek secara mendalam. Sebab stigma ini akan terus bergulir dalam ruang sosial.

Ada tiga jenis stigma yang semuanya berdasarkan diferensiasi sosial. Pertama, perbedaan fisik dan penampilan, misalnya tinggi dan berat badan. Kedua, perbedaan status sosial berkonotasi negatif, seperti pelaku kriminal dan moral.

Ketiga, stigma yang diberikan atas dasar perbedaan usia, etnis, ras, gender, agama, penderita penyakit, kelompok politik, ideologi, orientasi seksual, dan karakteristik lain yang dianggap inferior oleh kelompok mayoritas (Justin JW Powell, 2002).

Dampak stigmatisasi adalah perendahan martabat, membuat garis demarkasi antara yang normal dan abnormal. Mereka yang secara kultural masuk dalam kategori dari atribut stigma akan mengalami sikap inferior, minder, dan jauh dari optimisme.

Apabila dikategorisasi, atribut matre masuk dalam kategori ketiga, yakni stigma yang diciptakan atas perbedaan gender. Perempuan yang terlanjur mendapat stigma semacam itu dianggap tidak normal, tidak sebagaimana lazimnya budaya Jawa dan anjuran agama yang mengajarkan sikap nrimo ing pandum.

Secara operasional, stigmatisasi sebagaimana dikatakan Lawrence Blume (2002) diciptakan untuk kontrol sosial. Artinya, suatu saat memang diperlukan untuk mencegah social-chaos berupa pelanggaran nilai adat atau norma agama yang berlaku.

Misalnya sebutan "wanita malam" atau "wanita panggilan" bagi perempuan yang berkerja di tempat prostitusi. Sebutan tersebut terus bergulir dalam ruang sosial sebagai kontrol. Tujuannya, agar kebiasaan buruk yang melanggar norma bisa dihindari.

Stigma Matre

Bagaimana dengan sebutan matre yang ditujukan kepada perempuan? Sepertinya di sini tidak terkait dengan kontrol sosial. Dengan kata lain, stigma matre untuk perempuan yang mengidamkan hidup mewah dengan fasilitas lengkap sepertinya tidak berkaitan dengan nilai-nilai normatif dalam masyarakat budaya kita.

Secara naluriah, semua orang tanpa membedakan jenis kelamin tentu memiliki keinginan untuk hidup mapan. Apalagi bagi perempuan yang akan menempa hidup rumah tangga. Di tengah kehidupan ekonomi yang serbasulit, tak ada seorang pun perempuan yang mau diajak urip kere oleh calon suaminya.

Minimal hidup cukup. Jadi, naluri materialistis dalam konsepsi demikian tak bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama.

Agama (dalam konteks Islam) justru menganjurkan umatnya —laki-laki dan perempuan— untuk memilih pasangan yang cerdas berdagang. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad menganjurkan untuk menikahkan laki-laki dan perempuan yang memiliki harta agar mencapai hidup mawaddah wa rahmah, bisa menjalankan dakwah.

"Kadal faqru an yakuna kufron" (kefakiran itu dekat dengan kekafiran), demikian sabda Nabi. Keinginan menjadi kaya adalah wajar, naluriah, dan tak perlu disalahkan. Namun ketika naluri itu diberi atribut matre, itu menjadi salah kaprah.

Apabila atribut itu dimaksudkan sebagai kontrol sosial, mestinya ditujukan kepada orang yang punya orientasi dominan kepada harta benda, berkarakter hedonis-individualis, suka menghamburkan harta, punya keinginan besar di luar kemampuan, dan suka memeras orang lain.

Apakah yang memiliki karakter demikian hanya perempuan? Ini yang menjadi masalah. Terpenuhinya hidup secara material adalah naluri semua manusia. Jadi, stigma matre tidak eksklusif hanya dimiliki jenis kelamin tertentu. Ada juga laki-laki yang matre. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat: “In kanu fuqara’a yughnihimullah” (jika kalian fakir [dan segera menikah], Allah akan membuat kalian kaya”.

Dalam beberapa kitab tafsir diterangkan cara Allah memberikan kekayaan adalah melalui istri. Sifat dasar (naluri) seorang wanita adalah hemat dan peduli. Dialah yang akan menjadi manajer keuangan keluarga, sehingga bisa mengatur pengeluaran/pemasukan. Jika keluar dari sifat dasar itu, maka barulah layak disebut cewek matre. [badriologi.com]

Keterangan: 
Esai ini pernah dimuat Rubrik Perempuan, Harian Suara Merdeka, 8 Juli 2009.
Loading...