Asyiknya Bergumul Dengan Aksara

M Abdullah Badri

Tak semudah membalikkan telapak tangan. Mengajar masyarakat desa agar melek aksara dengan modal semangat memang membutuhkan pengorbanan banyak. Bukan hanya tenaga, pikiran pun terkuras untuk membuat mereka bisa membaca, menulis dan berhitung. Apalagi dengan sarana yang serba terbatas.





Ada saja kendala yang dihadapi. Mengondisikan warga belajar agar meluangkan waktu bersama di kelas, belajar huruf dan angka, harus membutuhkan kesabaran dan keuletan. Aktivitas keseharian seringkali menjadi alasan warga desa tidak bisa mengikuti program belajar bersama itu. Keengganan mereka bergabung dalam kelompok pembelajaran juga dipicu oleh perasaan gengsi. “Masak saya yang sudah tua begini harus belajar menulis membaca. Ya mending buat mencangkul di ladang,” komentar salah satu warga.

Namun, yang membuat pengalaman tak terlupakan saat mengajar menulis-membaca itu adalah ketulusan mendalam yang mereka tampakkan dalam sikap, penghormatan dan penerimaan akan kehadiran tutor yang mengajar. Di kelas, mereka belajar dengan sungguh-sungguh. Ada semacam rasa keingintahuan yang membuncah. “Yang namanya belajar itu tidak mengenal usia mas. Kalau kita malu belajar, kapan kita akan pintar. Kebodohan memang harus kita akui kalau kita ingin pintar,” kata seorang warga belajar yang tidak mengenal titik lelah belajar bersama.

Pengalaman itu saya dapatkan ketika sedang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pemberantasan Buta Aksara (PBA) 2009, IAIN Walisongo Semarang, di Wonosobo beberapa waktu lalu. Saya merindukan wajah-wajah tulus itu. Yang menerima tanpa menuntut. Yang berterimakasih dari pemberian orang lain, meski berupa hal yang sepele, membantu mengenal angka dan aksara.
Advertisement

Klik untuk komentar