Meracik Pop Religi dan Dangdut Jepara

Oleh Fathurozi

TULISAN M Abdullah Badri berjudul Tren Baru Pop Religi Jepara (SM, 26/12/2009) mengambarkan pergeseran dangdut ke maulidan (perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW).

Pergeseran ini terjadi, waktu acara maulidan menghadirkan Habib Syekh bin Abdul Qodir, saat itu pengunjung beragam, dari kalangan tua, muda, anak-anak, pedagang asongan, petani, santri, sampai abangan.

Mereka merasa menemukan idola baru, bahkan mereka mengikuti di manapun sang idola manggung. Pengagum fanatik musik apapun akan selalu menyempatkan waktu, menyaksikan sang idola tampil.


Badri melihat fenomena ini baru dari salah satu sudut pandang yakni ketika melihat orkesan dangdut dan maulidan diadakan bersamaan oleh dua orang bertetangga dalam satu desa. Namun, jumlah penikmat dangdut tidak bisa melebihi hadirin pangajian maulidan.

Kejadian semacam ini, bukan dialami masyarakat Jepara saja melainkan seluruh masyarakat Nusantara karena mengikuti maulidan bagi kalangan pengikut Nabi Muhammad SAW adalah sunah hukumnya.

Dalam menyambut perayaan kelahiran Nabi atau bahasa modernnya ulang tahun, seluruh pengikutnya mengadakan maulidan di mushala dan masjid.

Maulidan berisi pembacaan barzanji selama 12 hari dan puncaknya syukuran atas lahirnya pemimpin reformasi, yang membebaskan umat manusia dari belenggu kaum jahiliyah.

Beraneka ragam acara dipersiapkan seperti pengajian akbar, lomba tilawah, rebana, azan, sepeda santai, pasar murah, dan khitanan massal. Kegiatan ini sudah jadi tradisi masyarakat Jepara dan umat Islam di belahan dunia.

Jepara yang terkenal dengan sebutan Kota Ukir, masyarakatnya gemar musik dangdut. Kelompok dangdut asal Jepara tidak asing lagi di kalangan masyarakat pantura timur Jawa Tengah.

Sejak tahun l970-an, puluhan grup musik melayu (dangdut) bermunculan, tapi ada salah satu grup yang dikenal masyarakat, bahkan merajai Jawa Tengah, yakni Bintang Pagi.

Namun pada era 1990-an, grup dangdut tuan rumah mulai tersaingi oleh pendatang baru dari Demak yakni Arista.
Picu Semangat Keeksisan Arista, memicu semangat musisi Jepara melahirkan grup baru seperti Birawa, Rush, Rolysta, Relaxa, Tepos, Star Band, dan banyak lagi. Di Jepara ada sedikitnya 100 grup, besar-kecil, yang siap memanjakan pengemarnya. Grup dangdut meracik-racik musik, mengikuti tren yang berkembang di masyarakat.

Seiring waktu, penyanyi asal Jepara meramaikan blantika musik Indonesia. Sebut saja kehadiran Jamal Mirdad, putra Kota Ukir, yang sukses mengusung dangdut, selain berkiprah di jalur pop dan kini sinetron.

Dangdut sebagai hiburan rakyat ini, jangan dipandang sebelah mata karena layak dijual di pasaran. Meskipun penontonnya dikenai tiket masuk, penikmatnya sedikit pun tak berkurang, bahkan cendurung meningkat.

Dangdut sering diindetikkan dengan musik pinggiran atau masyarakat menengah ke bawah, tapi sekarang penikmatnya merambah ke masyarakat modern dan instansi pemerintah.

Pengusaha besar pun sering memakai jasa dangdut untuk meramaikan acaranya. Band yang beraliran pop di Jepara, kurang bisa menandingi membeludaknya jumlah penonton dangdut, dan satu per satu band vakum bahkan di ambang runtuh.

Warna musik dangdut Jepara, selalu mempunyai kreasi baru, antara lain mengaransemen ulang lagu pop ke dangdut atau dangdut koplo. Hal itu jadi ciri khas tersendiri, dan penikmatnya pun enggan bergeser dari musik asli Indonesia tersebut.

Jika kita lihat realita di dunia entertainment, band pop mencoba merebut hati penikmat dangdut, seperti Band Ungu atau Dewa 19 yang sukarela memberikan lagunya dinyanyikan versi Trio Macan.

Jadi, kejayaan produk budaya Indonesia masih mempunyai tempat di hati masyarakat secara luas. Apabila yang diungkapkan Badri itu benar adanya hal itu merupakan langkah positif.

Tapi jika hanya sebagai pemenuhan spiritual sesaat maka setelah mualidan selesai mereka berbalik ke warna semula yakni menjadi pengagum dangdut.

Menurut penulis, kemungkinan sangat kecil, penggemar dangdut beralih ke pop religi, karena kedua musik tersebut, mempunyai fans yang berbeda.

Bisa dikatakan fans dangdut adalah kalangan biasa, dan fans pop religi hampir dipastikan orang agamis, termasuk kalangan pondok pesantren.

Suatu ketika penulis bertanya ke beberapa teman asal Jepara, rata-rata dari mereka masih meragukan penikmat dangdut berpaling ke idola baru itu.

Mereka berpendapat dangdut sudah jadi bagian hidup masyarakat setempat, semisal orang melaksanakan hajatan, jika tidak ada hiburan dangdut rasanya kurang lengkap.

Beralihnya fans dangdut ke pop religi (maulid) kemungkinan musiman (tahunan) saja yakni pada bulan Maulid. Saat bulan itu tiba, mereka ramai-ramai merayakan, karena sudah jadi tradisi turun-temurun, penggemar fanatik dangdut tetap fanatik dengan aliran musik itu.

Fathurozi, Ketua Komunitas Mahasiswa Kreatif (KMK), mahasiswa KPI Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang

(Dimuat Suara Merdeka 18 Januari 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar