Perguruan Tinggi dalam Pusaran Solusi

Oleh M Abdullah Badri

Meski disebut sebagai miniatur laboratorium kehidupan, tak selalu, yang namanya perguruan tinggi menjadi kiblat hakiki dari pelbagai solusi masalah. Buktinya, banyak problem sosial kultural yang dari dulu hingga sekarang tak kunjung menemukan penyelesaian. Padahal, setiap tahun berbagai perguruan tinggi telah mencetak ribuan sarjana dan ratusan guru besar dengan berbagai latar belakang. Dimana peran mereka saat krisis politik, sosial, lingkungan serta kemanusiaan mendera bangsa ini bertubi-tubi?

Barangklai mereka tetap berada di kampus. Betul, mereka mencari penerangan masalah dalam sistem akademik, namun seringkali tak berlanjut dalam proses realisasi kongkrit. Tidak ada yang menyangkal bila civitas akademika kampus disebut sebagai kaum intelektual terpelajar. Bukti yang dapat dilihat, para sarjana yang cemerlang, mereka pandai berbicara di depan publik, bahkan tak kesulitan mengurai masalah. Namun ketika di hadapkan pada realitas masalah yang benar-benar terjadi di lapangan, tak semuanya bisa ringan tangan mendapatkan solusi. Mereka menjadi terasing dari kehidupan nyata.

Skripsi yang setiap tahun dihasilkan oleh lulusan perguruan tinggi menjadi tumpukan manuskrip yang habis dimakan usia dalam ruang dokumentasi dan perpustakaan kampus, tanpa tindak lanjut praksis. Tak ada dialog yang terbangun antara perguruan tinggi dan masyarakat yang merindukan penyelesaian masalah. Apalagi ketika kita melihat adanya kooptasi kekuasaan dan kepentingan yang akhirnya hanya mengarahkan orientasi akademik kehidupan civitas kampus pada aspek meterial belaka. Wajar bila kondisinya demikian banyak persoalan masyarakat kita yang tidak kunjung menemukan jalan keluar.

Di kawasan kota yang menjadi lumbung sarjana perguruan tinggi, justru masalah kemacetan lalu lintas, banjir, lingkungan yang kian memburuk, kerusuhan, hingga tindak kekerasan dan teror justru menemukan tempat. Para doktor lulusan luar negeri yang pandai-pandai itu, hanya menampakkan diri di lingkungan kampus, sambil sesekali menjadi pembicara di acara-acara seminar dan kajian yang digelar di luar kampus.

Jangan Terjebak

anpa menggunakan dalih keterjebakan dalam kapitalisme pendidikan, sepertinya perguruan tinggi kita sudah kian terasing dari problematika riil masyarakat. Penelitian-penelitian yang dilakukan kabanyakan menggunakan pendekatan berbasis data, kuantitatif. Teori yang digunakan adalah teori lama yang seringkali tidak sesuai dengan lokalitas masalah. Bahkan teori ilmiah dari “dunia lain” dengan kultur yang sama sekali lain, diterapkan dalam aktivitas penelitian kaum akademis kita, saking miskinnya teori yang terproduksi secara orisinil dari problem masyarakat kita.

Pendekatan kualitatif berbasis filsafat jarang digunakan oleh sarjana perguruan tinggi dalam negeri. Padahal, sebagaimana para perumus teori sosial kebanyakan, pendekatan kualitatif sangat membantu memperkaya perspektif penelitian, untuk mencari penyelesaian hakikat masalah agar lebih dekat dengan kebutuhan. Penelitian yang berangkat dari paradigma lokal tentu lebih membumi dalam mencari akar masalah.

Para pemikir atau pemroduk teori pembangunan seakan tidak mendapatkan tempat di dalam negeri. Ketika mereka berbicara tentang penemuan teori baru, dianggap membual, bahkan ada yang dianggap membangkang dan difatwa mati karena disebut sesat. Teori para “filsuf Indonesia” tidak diakui bila tidak berangkat dari teori mapan yang sudah ada. Anggapan yang beredar, teori tanpa data, meskipun berbasis kebutuhan, tidak dijadikan referensi.

Bukan Tenaga Teknis

Harusnya, dalam arus globalisasi yang kompetitif, tuntutan untuk menyelesaikan masalah sendiri dengan pendekatan yang sama sekali baru menjadi prioritas utama. Selain sebagai peneguhan eksistensi di wilayah global, orientasi tersebut juga dimaksudkan untuk menghindari kebijakan yang didikte oleh asing.

Negara semakin lemah menghadapi persaingan karena para sarjananya kesulitan merumuskan mana yang paling cocok dan terbaik dijadikan penyelesaian masalah negeri. Wajar bila antrean minyak tanah, kekeringan, kesulitan sandang-pangan, pendidikan dan kesehatan terus mewarnai ironi kehidupan rakyat. Ya, kaum kademisi kampus terasing.

Bak teknisi, ilmuan dan intelektual kita adalah tukang, yang kendali utamanya berada di negara-negara maju seperti London, New York, Paris, Berlin, Tokyo dan Shanghai. Negara kita menjadi konsumen produk, bukan pemarkarsa gagasan dan pencipta produk pasar.

Perguruan tinggi semakin terasing dari teori pembangunan karena tidak ada jalinan komunikasi sinergis antar perguruan tinggi, duduk bersama menyelesaikan problem publik.Yang lebih tragis, pragmatisme yang kian menggurita di kalangan akademisi membuat persaingan antar perguruan tinggi berjalan tidak sehat, saling menegasikan, menyerang dan menjatuhkan. Kita bisa melihat itu dalam momentum perebutan proyek yang melibatkan dana besar. Pada saat itu, para peneliti kampus saling berebut.
Bukan masyarakat yang mereka perjuangkan, namun ambisi pribadi.

Kondisi demikian sulit memunculkan konsep teori produk perguruan tinggi yang mencerahkan dan membebaskan. Yang terjadi, peneliti kampus justru menjadi agen mekanik dari teori lama. Sehingga, eksistensi kampus kian terasing, belum membumi seutuhnya.

(Dimuat Suara Merdeka, 2 Januari 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar