Siapa Berani Menulis

Oleh M Abdullah Badri

Untuk sekadar menumpahkan keinginan dalam sebuah kata dan kalimat, tidak semua orang bisa menuliskannya. Sebab, untuk melakukan itu membutuhkan keterampilan dan keberanian. Menulis itu gampang-gampang susah. Gampang karena bisa dipelajari, namun susah karena kalau tidak tekun, tidak ada jaminan berhasil. Begitu sulit jalan menjadi penulis. Ada alur berliku yang harus dilalui.

Karena penulis itu beda dengan tukang tulis, ia membutuhkan imajinasi (gambaran ide) dan kreativitas untuk menghidupkan tulisannya. Kreativitas adalah nyawa bagi penulis. Kalau boleh saya katakan, proses menulis adalah proses mendobolkan diri, atau dalam bahasa saya adalah ndobolisme. Maksudnya, penulis itu harus mengarang tulisan untuk menyampaikan gagasannya. Tidak memplagiat, meniru apa adanya. Sebuah kekeliruan besar bila penulis adalah plagiator ulung.

Karena mengarang adalah mencipta, maka sama makna dengan ndobol, yang tentu berbeda dengan ngapusi atau menipu. Menipu itu merugikan orang, sementara mendobolkan diri dalam gagasan adalah strategi mempercantik ide dalam bahasa tulisan, yang tentu membawa manfaat bagi banyak orang yang membaca.

Penulis bukan hanya menuliskan peristiwa yang sudah terjadi, atau me-reka ulang kejadian yang sudah ada dalam sebuah tulisan atau berita. Me-reka ulang itu wilayah kerja pekerja pers atau wartawan. Nah, kalau penulis lebih dari itu. Ia dituntut untuk membuat gagasan baru, pemahaman bagus serta pencerahan luas kepada masyarakat. Karangan gagasan penulis harus berguna kepada masyarakat. Idenya akan dicerna oleh generasi setelahnya, meksipun telah ratusan tahun meninggalkan dunia.

Lihatlah bagaimana Imam Syafi’i begitu luas dianut madzhab fiqihnya oleh kebanyakan masyarakat muslim di Indonesia karena gagasannya terekam dalam tumpukan kitab yang dikarang. Begitu juga Al-Ghazali, Al-Maturidy, Ibnu Atha’illah dll. Mereka bukan cuma ulama’, namun intelektual dan sekaligus penulis, yang mengabadikan gagasannya dalam sebuah ta’lifan (karangan), yang bisa kita baca hingga sekarang dan masa mendatang.

Kalau ada teman kita yang tidak berani mengungkapkan keinginannya dalam sebuah bahasa tulis, karena malu dibaca orang, lantaran pesimis tulisannya dianggap jelek, tidak bermutu, tidak orisinil dan sebagainya, maka kita harus menyembuhkannya dengan memaksa ia menulis. Harus diberikan semangat pemberani, bahwa menulis itu banyak manfaatnya. Apalagi dibaca banyak orang.

Ketika orang merasa mendapatkan informasi berharga dari tulisan kita, sejatinya kita adalah guru bagi mereka, meskipun kita bukan berprofesi sebagai guru. Maka, jangan segan-segan menulis. Ulama’ dahulu yang banyak menelurkan karya adalah guru kita karena gagasan mereka kita serap. Kita adalah “murid ilmunya”. Mereka mengarang gagasan untuk kita baca dan pelajari. Mereka menggunakan strategi ndobol yang bermanfaat, karena punya landasan yang jelas dan kokoh. Ingin abadi, tulislah gagasan kalian, lalu, informasikan kepada banyak orang. Ada yang berani?

(Dimuat Jawa Pos Radar Kudus, 31 Januari 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar