Meneropong Sejarah Singkat eL-Insyaet

Oleh M Abdullah Badri

Menanggapi permintaan dari Redaksi eL-Insyaet 2008 Madrasah TBS NU Kudus tentang sejarah singkat el-Insyaet, maka dengan ini akan saya ceritakan secara singkat proses awal mengapa Insyaet harus ada di madrasah tercinta ini:

Pada mulanya eL-Insyaet adalah nama buletin yang diterbitkan oleh kelas II IPA angkatan 2003. Penulis mengusulkan untuk menjadikan buletin tersebut sebagai buletin PP/OSIS. Yang menjadi ketua PP ketika adalah M. Mustafid.

Ketika itu, Ath-Thullab edisi 2003/2004 belum terbit. Manakala eL-Insyaet lahir akan menjadi wadah awal mengasah kamampuan jurnalistik siswa/santri TBS, selain Ath-Thullab tentunya. Buletin yang direncanakan terbit tiap bulan itu diharapkan menjadi panggung intelektual kawan-kawan, sebelum menerbitkan Majalah Tahunan Ath-Thullab. Itu yang terpikirkan dalam angan dan impian kami ketika itu.

Setelah dibahas dalam rapat terbatas dengan beberapa pengurus PP, disetujuilah usulan tersebut. Selanjutnya, kami menemui beberapa pembina OSIS untuk memberikan dukungan dengan kesediannya menjadi redaktur tetap.

eL-Insyaet berasal dari bahasa arab yang berarti “kreatifitas”. Hasil derivasi dari kata نشط , setelah ditambah dengan ال . Kata itu dipilih karena memang tujuan utama dari eL-Insyaet adalah untuk meningkatkan kreatifitas siswa/santri. Oleh karenanya, slogan yang diambil eL-Insyaet juga tidak jauh dari semangat menumbuhkan daya kreasi. Sahabat Elsya bisa mendapati bunyi slogan itu adalah “[L]embaran [In]telektual [S]antri In[t]elektual”. Slogan itu sekaligus dijadikan sebagai kepanjangan dari eL-Insyaet.

Pengurus PP ketika itu kemudian menunjuk Juliyanto (Alm) sebagai pemimpin redaksi. Terbit perdana pada bulan Februari. Jika dirunut, el-Insyaet terbit tepat pada 16 Februari 2003. Inilah hari lahir eL-Insyaet yang mungkin sampai sekarang belum pernah dirayakan.

Karena belum dimasukkan dalam anggaran dana PP, edisi perdana hanya mampu menerbitkan 4 halaman (satu lembar). Itupun dengan biaya kas kelas sendiri, dan diedarkan dalam edisi terbatas, sekitar 50 eksemplar “copy”.
Setelah mendapatkan anggaran satu juta dari PP, dengan semangat membangun kreativitas, redaksi berusaha terbit setiap bulan. Namun, ternyata, hingga akhir kepengurusan hanya mampu menerbitkan delapan edisi, karena terpotong dengan panjangnya hari libur.

Dalam masa khidmah tersebut, awak redaksi terus meningkatkan kreasi, baik secara kualitas maupun kuantitas. Halaman eL-Insyaet yang pada edisi perdana hanya ada empat, pada edisi ke delapan (yang terakhir) menjadi 12 halaman. Sebuah prestasi yang pernah kami capai. Begitupun ragam rubrik dan wilayah distribusinya, bertambah seiring dengan kegigihan redaksi ketika itu.

Bahkan, ketika terjadi demonstrasi besar-besaran menuntut keadilan M. Furqon, santri MA TBS yang terbunuh dalam tragedi perampokan di Singocandi –yang kasusnya sampai sekarang tidak jelas- eL-Insyaet tampil sebagai media yang cukup aktif memberikan wacana kepada publik tentang tuntutan sekitar 5000 demonstran yang ada. Ketika itulah, eL-Insyaet go public, dikenal masyarakat secara luas.

Alhamdulillah, setelah purna tugas, pengurus PP selanjutnya bersedia melanjutkan keberlangsungan eL-Insyaet hingga sekarang. Harapannya, semoga bisa menjadi amal jariyah untuk Almameter tercinta. Tetap semangat!!.

(Dimuat di el-Insyaet TBS, November 2008)
Advertisement

Klik untuk komentar