Membumikan Dialog Antar Budaya

Oleh M Abdullah Badri

Beberapa waktu lalu, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada Mufti Republik Islam Suriah Dr. Ahmad Badruddin Hassoun atas perannya dalam mengintegrasikan dua peran kepemimpinan yang amat langka, yaitu peran sebagai religius leader (pemimpin agama) dan community leader (pemimpin komunitas) sekaligus. Selama ini, sikap dan cara berpikir para pemimpin agama cenderung partikular, hanya bagi komunitasnya semata. Namun Dr. Hassoun tidak demikian. Meskipun ia adalah seorang religius leader (Islam), namun mampu berpikir lebih luas, lintas batas dan universal sebagai bagian dari kewarganegaraan dunia (wordl citizeinship), bukan bagian dari komunitasnya saja.

Penghargaan yang diberikan oleh UIN Suka itu merupakan bagian dari partisipasi Indonesia dalam rangka ikut membangun perdamaian perdaban dunia. Anugerah itu adalah simbol pesan yang disampaikan tokoh akademisi muslim Indonesia kepada dunia, bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, bukan agama teroris berbasis radikalisme.
Di tengah tragedi kemanusian yang menggejala di belahan dunia seperti sekarang ini, proses dialog antar komunitas, baik suku, ras, agama maupun identitas partikular lainnya merupakan hal yang niscaya. Maka, hadirnya tokoh dialog antar budaya (al-hiwarus tsaqafi) seperti Badruddin Hassoun sangat dinantikan warga dunia.

Pengkotak-kotakan sosial dalam bentuk komunitas tertentu akan melahirkan ekslusifisme dan stagnasi. Pada gilirannya, kondisi semacam itu akan menumpulkan proses dialog yang integratif dan interkonektif dalam bingkai pembangunan peradaban manusia. Terbangunnya peradaban yang hakiki dibutuhkan kerjasama antar budaya yang melibatkan semua unsur yang ada dalam struktur dunia, lintas batas identitas serta bersifat pluralis dan universal. Sebab, peradaban bukanlah karya komunitas tertentu, tetapi karya manusia bersama.

Orang yang berbudaya (berperadaban), apapun agama dan budayanya, tentu akan mengulurkan tangan untuk membangun peradaban manusia. Ketika manusia sampai ke bulan misalnya, nama-nama orang yang sampai kesana bukan hanya nama orang Amerika dan Uni Soviet saja. Bila ditelisik lebih jauh, disana terdapat nama-nama dari belahan budaya lain di dunia. Tertulis disana nama orang dari daratan Eropa, Italia, Jerman, Perancis, Belgia dan Arab. Begitu pun, yang membangun Pisa Tower (Italia), Piramid Chili, Tembok China, Menara Piza di Perancis dan Candi Borobudur di Indonesia adalah nenek moyang kita bersama, manusia. Artinya, peradaban manusia adalah milik manusia bersama.

Maka, perlu dikaji ulang teori Samuel P. Hutington tentang Clash of Civilisation (Benturan Peradaban). Mengapa? karena peradaban tidak pernah berbenturan dengan ilmu pengetahuan dan akal. Ia hanya berbenturan dengan kebodohan, keterbelakangan dan teror. Yang lebih sensitif menyulut konflik akibat benturan bukanlah peradaban, tetapi budaya. Karenanya, dialog antar budaya sebagaimana diperjuangkan Dr. Ahmad Badruddin Hassoun menjadi perlu.

Dialog Integratif Budaya
Menurut Muhammad Arkhoun, pemikir Islam kontemporer asal Al-Jazair, tantangan terbesar dalam proses dialog dewasa ini, terutama dialog antar agama, adalah adanya kesan kewajiban psikologis-politis dari komunitas tertentu untuk berhadap-hadapan dengan kelompok lain. Paradigma claim atas hak dan kebenaran akibat kewajiban berhadapan dengan identitas lain itu, pada akhirnya mengarahkan kepada sikap saling bermusuhan. (Arkhoun: 2001).

Alternatif dialog hendaknya mengintegrasikan antara budaya teks, ilmu dan filsafat. Sehingga, tidak akan terjadi kesalahfahaman mendasar antar komunitas dan identitas lain yang berpotensi menimbulkan konflik tak berkesudahan. Jika dialog integratif tersebut terwujud, peradaban manusia bersama, tanpa menggunakan simbol identitas, menjadi sesuatu yang ideal. Peradaban tidak perlu lagi disandingkan dengan identitas partikular semisal Islam, Kristen, Yahudi, Romawi, Yunani, Cina, Arab, Barat atau yang lainnya. Namun dicukupkan dengan sikap saling terbuka, toleransi dan bekerjasama dalam satu umat dunia bernama manusia. Ya, peradaban manusia.

Tidak ada yang berhak mengklaim bahwa sebuah perabadan adalah peradaban kelompok tertentu, karena pada dasarnya yang menciptakan peradaban yang ada dalam sejarah manusia adalah manusia itu sendiri. Dan saling bersaudara. Anda dan saya tidak berbeda, namun bersaudara. Tidak bisa dikatakan bahwa suatu identitas tertentu adalah yang lain dari komunitas itu.

Dalam dunia ini, eksistensi lain dari manusia hanyalah tumbuhan dan binatang. Jika manusia di muka bumi ini adalah satu saudara, maka ibunya adalah satu, yaitu bumi. Ayahnya satu, Adam. Tuhannya juga satu: Tuhan Yang Maha Esa. Peradabannya juga demikian, satu: Peradaban manusia.

Namun realitas yang ada tidak sebagaimana yang menjadi cita-cita luhur tersebut. Konflik horizontal berbasis ras, suku, dan agama telah menjadi pemandangan sehari-hari. Kearifan lokal yang terartikulasi dalam ekspresi budaya dan tradisi masyarakat setempat, runtuh seiring dengan egoisme pribadi akibat tiadanya proses dialogis konstruktif.

Solidaritas yang berorientasi kemanusian menjadi barang yang langka, atau bahkan menhampiri kepunahan. Oleh karenanya, peran manusia sebagai Khalifah fil Ardl (pemimpin bumi) yang bervisi pluralis, sebagaimana diperjuangkan KH. Sahal Mahfud, perlu ditekankan kembali. (Sahal Mahfud: 1994). Hal itu bisa dilakukan dengan mensinergikan dua arus yang paling vital dalam menentukan arah peradaban manusia. Pertama, arus modernisasi material dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pilar utamanya. Kedua, arus modernisasi intelektual atau kultural yang berpijak pada nilai budaya dan tradisi.

Agar dua arus tersebut berimplikasi positif terhadap pembangunan peradaban, perlu disinergikan dengan “angan-angan” sosial berbasis kemanusian, egalitarianisme, keadilan serta objetivitas. Dengan demikian, diharapkan tercipta kondisi sosial yang tidak tercerabut dari akar budaya, tradisi dan nilai-nilai universal. Sehingga, keanekaragaman tradisi dan budaya tidak menjadi pemicu konflik, namun justru menjadi ruh persatuan menuju peradaban manusia yang hakiki. Bhineka Tunggal Ika.
Akhirnya, apa yang dilakukan Dr. Ahmad Badruddin Hassoun perlu kita hargai sebagai bagian dari upaya mewujudkan kedamaian dunia melalui pemikirannya dalam dialog antar budaya.

(Dimuat Koran Pakoles Denpasar Bali, 1-15 Juli 2008)
Advertisement

Klik untuk komentar