Pijar-Pijar Harapan Perempuan


Oleh M Abdullah Badri

IDENTITAS BUKU:
Judul : Perempuan di Rantai Kekerasan
Editor : Nadila L. Hasan dkk.
Penebit : Esensi, Elangga, Jakarta
Tahun : Cetakan Pertama, 2007
Tebal : 266 halaman
Harga : Rp. 45. 000

Hati-hati dengan sikap diam perempuan. Ibarat ombak, diam itu akan menghanyutkan atau menjadi aliran air pasang membanjiri ladang ilalang yang subur sekalipun. Boleh jadi seorang laki-laki yang melakukan tindak kekerasan kepada perempuan akan tertawa lepas sebagai pemenang, namun pada saatnya nanti, perempuan akan memilih satu kata: melawan. Buku Perempuan di Rantai Kekerasan memuat kisah inpiratif tentang perjalanan hidup perempuan yang bermigrasi dari lakon “diam” menuju laku “lawan”. Saya menyebut laku karena melawan adalah keharusan, bukan pilihan.

Dalam kisah “Aku Memilih Bahagia” misalnya, takdir seorang anak yang dilahirkan buruk rupa membuat ia harus menerima kekerasan dan diskriminasi dari seorang Bapak yang suka menjudi. Saya tak mampu membayangkan bagaimana kekerasan yang dialami Umi Kulsum (penulis kisah) ketika itu. Hampir dalam tiap paragraf yang dia tulis menggambarkan kekelaman dalam tahapan hidupnya. Semasa kecil, eksistensinya di keluarga dan lingkungan sekolah hanya diakui kalau memiliki rangking kelas tertinggi. Hanya itu yang bisa diperbuat untuk menaikkan reputasinya. Karena hampir semua orang di sekelilingnya menganggapnya tidak ada, hanya karena takdir ketubuhan perwajahan yang ia adalah pemberian, bukan pilihan. Ironis.

Umpatan kasar juga bahasa wajar dalam kultur kekerasan dominan terhadap perempaun. Karena kecurigaan yang berlebih kepada orang lain, Menang, laki-laki El yang diduga Psyco –dalam kisah Pandora Terbuka- sesuka inginnya mengelurkan kata-kata kotor dan tak bertangungjawab. Hanya karena pergi tanpa pamit, El bisa mendapat umpatan: “kamu itu pelacur”, ”dasar pantek loe,” dan ungkapan bernada “tidak beres” lainnya. Padahal, masih dalam tahap pacaran, belum melangkah pada bingkai rumah tangga.

Atas nama tanggungjawab sebagai kakak dan konsekuensi pendidikan bagi “anak tersayang”, Etha menuturkan bejana hidupnya yang ditulis panjang dalam lembaran kisah “Bejana Hidupku”. Sebagai anak perempuan tertua, Etha diberi amanat Bapaknya agar menjaga dan melindungi adik-adiknya. Dalam kondisi apapun. Karenanya, ia harus belajar disiplin agar tidak dikenai tamparan pipi dari Bapak. Sepele apapun, kalau tidak disiplin atau melanggar aturan Bapak di rumah, akan kena damprat. Itu berlangsung hingga dewasa.

Cinta Erotis
Besarnya rasa cinta erotis kadang membuat perempuan tunduk absolut kepada perintah dan petuah laki-laki. Paling tidak hal itu bisa dibaca dalam kisah Pandora Terbuka, Tidak Akan Kalah, Demi Tiga Bidadari, Diari Suara Hati Perempuan, Diamku Bukan Berarti Kepasrahanku dan Secercah Harapan di 2007. Mereka bisa “berkawan” dengan kekerasan dalam rentang waktu yang cukup lama karena terlanjur cinta kepada seorang laki-laki. Apalagi yang kadung hamil di luar nikah atau memutuskan membangun bahtera keluarga. Kekerasan apapun yang dialami akibat egoisme laki-laki, tidak serta merta membuat perempuan langsung melawan seketika. Karena diam adalah bahasa aman dalam alam kesadaran psiko-historis masayarakat kita. Padahal, diamnya perempuan ketika menerima kekerasan tidak sama dengan makna semiotik atas diamnya perempuan kala pinangan datang menawar, tanda iya. “Sabarku pasti terbatas,” kata Ning Purwanti pada penggalan puisi “marah” dalam kisahnya, Diam Bukan Berarti Kepasrahan. (hlm. 146)

Dalam buku ini, pembaca tidak hanya akan disajikan paparan inpiratif kisah nyata kekerasan, namun juga bagaimana aksi konkrit para perempuan itu dalam mencari jalan keluar dari jeratan kekerasan.

Betapa ngilu membaca kisah-kisah yang ditulis dalam ini. Namun, di satu sisi, ada kebijaksanaan terpancar dari para korban kekerasan. Ada sejarah hidup berat yang harus dilalui oleh perempuan-perempuan perkasa dalam tutur kisah dalam buku. Kekerasan praktis berupa tamparan tangan, makian, umpatan, hinaan, pelecehan, hingga ancaman pembunuhan, begitu akrab dalam bahasa curahan mereka. Kisah-kisah yang tertulis menjadi mula tumbuhnya kesadaran perempuan bahwa mereka selama ini telah dirantai dalam “kutukan sosial” bernama kekerasan.

Yang membuat saya simpatik, aktor dalam kisah kekerasan yang nyata itu tidak menghasrat balas dendam di masa depan. Mereka hanya menjadikannya sebagai sebuah rekam jejak kelam yang sarat hikmah. Perempuan-perempuan itu menjalani hidup bukan dengan memenuhi hasrat “melawan” dengan menjatuhkan, namun memaknainya dengan tangan kasih sayang dan harapan. Patahan kata J. Manroe dalam kisah “Perempuan Itu Bernama Terluka” cukup menarik. Dia mengingat petuah Ibu: “Sikap terhadap masa lalu adalah pengampunan, dan sikap terhadap masa depan adalah pengharapan.” (hlm. 177). Betapa bijak, kendati mereka luka, tetap memancarkan asa. Itulah yang ingin disampaikan buku ini.

(Naskah Resensi ini dinobatkan sebagai Terbaik Ke-1 Lomba Resensi Erlangga-Gramedia 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar