Teknologi Berbasis Etika Perenial

Oleh M Abdullah Badri

Diakui, sejak ditemukannya mesin uap di Prancis pada abad 18 teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Hadirnya produk teknologi yang kian menunjukkan kecanggihannya terbukti telah membantu memenuhi kebutuhan manusia di muka bumi. Bahkan, manusia sekarang ini telah menjadi makhluk yang hidupnya bergantung dengan produk teknologi.

Satu sisi, teknologi telah membawa manusia pada peradaban modern yang serba instan seperti sekarang. Namun disisi lain, dampak yang ditimbulkanya juga tak kalah besar. Eksploitasi berlebihan dalam proses perindustrian membuat kerusakan alam yang begitu besar. Kasus yang paling dekat dengan kita berkaitan dengan kerusakan alam yang merugikan akibat proses industrialisasi adalah bencana yang terjadi di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Meski kasus itu dianggap murni bencana, namun tetap saja orang mengatakan semua tragedi tersebut berawal dari eksploitasi manusia terhadap alam.

Akal yang dititipkan Tuhan kepada manusia memang dijadikan sebagai sarana untuk mengolah kekayaan alam. Dengan demikian, pendayagunaan akal dalam rangka mencari kebutuhan hidup, yang ditampilkan dengan produk-produk teknologi, merupakan suatu hal yang memang diperintahkan kepada manusia. Namun, manusia juga diperingatkan untuk juga menjaga agar pendayagunaan akal tidak mengurangi kesetimbangan alam. Sebab, jika hal itu terjadi, manusia akan tertimpa bencana akibat kerusakan yang ditimbulkan dari tiadanya kontrol eksploitasi.

Itulah yang kini dirasakan oleh penduduk dunia di seluruh muka bumi. Paradigma positivisme-materialisme yang dominan dalam teknologi telah membawa manusia dalam bencana. Meski bencana alam mengancam manusia, namun bencana yang paling besar dialami oleh umat manusia sekarang akibat teknologi-industri ini adalah keterasingan diri dari sifat kemanusiaannya.

Teknologi telah mendisiplinkan manusia menjadi manusia yang hanya dikomputerkan, dirutinkan, dikaryawankan. Semuanya serba diatur. Unsur kemanusiannya, akibat kebebasannya yang terpasung dalam rutinitas, lama-lama redup menjadi setengah manusia, agak manusia, sedikit manusia, manusia samar, dan manusia robot. (Emha AN: 1995).

Live for Weekend
Pengusaan operasional teknologi memang menjanjikan kemakmuran kehidupan manusia. Orang yang mahir mengoperasikan komputer misalnya, jelas memiliki daya tawar kerja yang tinggi daripada yang tidak sama sekali. Namun, belum tentu kemakmuran ragawi dari hasil penguasaan teknologi itu akan membahagiakan fitrah kemanusiaannya secara absolut. Teknologi hanya memenuhi sebagian saja dari kompleksitas eksistensi manusia. Yang lahiriah saja. Padahal manusia bukan hanya tersusun dari kerangka ragawi, namun juga rohani.

Semua mengakui corak kehidupan masyarakat di Barat sangatlah maju, karena hampir semua kebutuhan yang ada disana tercukupi. Namun, itu semua tak menjamin kebahagiaan hakiki dalam menjalani hidup. Mereka terasing. Untuk mencari kebahagiaan, masyarakat Barat mencarinya diluar diri mereka sendiri, karena mereka tak tahu bagaimana mencari kebahagiaan diri yang sesungguhnya.

Di Australia, ada tour yang disebut dengan sex tour dimana orang menggunakan jasa tour ini bisa mendapatkan kebahagiaan dalam berhubungan seks yang lakukan dalam waktu singkat di tempat yang berbeda, lintas negara. Seakan dengan berhubungan seks yang dibumbui dengan sensasi berbeda, di lingkungan, suasana dan orang yang berbeda, mereka akan menemukan kebahagaian. Namun langkah itu ternyata nihil. Kebahagiaan yang dirasakan ternyata hanya sementara. Sebab kebahagiaan sesungguhnya hanya ada dalam diri, bukan diluar diri (Sukendar: 2007).

Oleh karena keutuhan sifat kemanusiaan masyarakat Barat terkikis, akibat industrialisasi, banyak yang mengalami tekanan batin. Setiap hari mereka bergelut dengan rutinitas. Tidak ada pilihan selain apa yang biasa dihadapi. Akhir pekan adalah satu-satunya kesempatan yang dimanfaatkan untuk melepas kepenatan dalam bekerja. We live for Weekend (kita hidup untuk akhir pekan). Itulah ungkapan ekspresi kebosanan masyarakat industri seperti di Barat. Jadi, selam enam hari mereka mati.

Sebuah Tawaran
Dampak dari teknologi yang telah mengasingkan manusia dari keutuhan hidupnya tentu mengundang banyak tanya. Mengapa? Banyak pengamat mengatakan, krisis tersebut terjadi karena paradigma sains dan teknologi yang selama ini berkembang menyatakan bahwa ada realitas obyektif di “luar sana” yang dapat tangkap melalui panca indra dan bebas nilai. (Jalaludin Rakhmat: 1998).

Ukuran yang dapat diterima dalam teknologi adalah apa yang dapat dindra oleh intrumen pengindra. Diluar itu, dianggap ilusi, tidak ada, atau keberadaannya dianggap tidak berarti, semu. Coraknya demikian sangat materialistis. Hal-hal yang bersifat subyektif-spiritual yang hanya bisa dihadirkan melalui kekuatan intuisi jiwa tidak menarik minat kajian teknologi. Padahal itu merupakan bagian yang integral dalam kompleksitas susunan manusia.

Teknologi telah mencabut manusia dari akar budaya dan spiritualitas, sehingga menjadi terasing. Sementara kita, manusia modern, tidak bisa hidup tanpa bantuan teknologi. Untuk keluar dari krisis yang demikian, kiranya diperlukan sebuah orientasi baru dalam teknologi, yang ditampakkkan melalui industrualisasi itu. Karena akar masalahnya adalah hilangnya keutuhan sifat kemanusiaan, maka yang harus dialakukan adalah mengembalikan sesuatu yang hilang itu.

Untuk melakukannya, ada sebuah pendekatan dalam filsafat yang dalam tiga-empat dasawarsa terakhir banyak digunakan dalam pendekatan filsafat nilai, yaitu pendekatan filsafat perenial, yakni sebuah pendekatan yang pada dasarnya menawarkan pandangan alternatif agar manusia kembali kepada akar-akar budaya dan spiritualitas manusia tanpa tenggelam dalam kehidupan materi yang seringkali membuat kita silau dan menimbulkan berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan asas kemanusiaan kita. Sehingga, dengan kembali kepada pusat spiritualitas diri, manusia akan memiliki pandangan dunia (weltanschauung) holistik tentang dirinya, tentang alam, dan tentang dunianya. Tidak terasing.

Jika paradigma positifistik dalam pengembangan teknologi dapat diimbangi dengan pendekatan perenial, tentu segenap manusia akan mengerti tentang dirinya secara utuh, tidak sepotong-potong, yang pada tahapan selanjutnya akan menimbulkan bencana terhadap eksistensinya sendiri, alam dan makhluk lain yang ada. Teknologi pada akhirnya akan menyatu dengan asoterisme budaya dan spiritualitas yang merupakan bagian tak terpisahkan dari manusia selamanya.

(Dimuat Suara Merdeka, 20 Oktober 2008)
Advertisement

Klik untuk komentar