Menghidupkan Nafas Kampus

Oleh M Abdullah Badri

Mahasiswa, sebagai komponen utama kampus tidak hanya dituntut mahir dalam bidang akademik. Lebih jauh, ia diharapkan mampu mengabdikan kemampuan akademiknya tersebut untuk pengembangan masyarakat. Disinilah daya kritis sangat diperlukan.

Kritisisme merupakan prasyarat utama dalam rangka mengemban tugas dan tanggungjawab sosial di masyarakat kelak. Apa yang ia dapatkan di kampus diharap akan diterapkan untuk mengembangkan kehidupan masyarakat. Pendidikan berwawasan kerakyatan menjadi modal utama mahasiswa.

Hakikat akademisi, para calon sarjana, adalah pengabdi. Profesionalitas akademisi dianggap berarti jika mampu memisahkan kebutuhan aktualisasi diri dengan kewajibannya sebagai seorang abdi.

Karena itu, sudah sewajarnya bila perkembangan kampus juga diikuti dengan dinamika perkembangan masyarakat. Disana terdapat seabrek akademisi yang siap diterjunkan untuk membina dan mengembangkan masyarakat. Banyak hal yang perlu mendapatkan respon dan perhatian, sehingga kerja sosial yang keras dan cerdas sungguh dibutuhkan masyarakat.

Setiap kajian yang dilakukan oleh akademisi di kampus seharusnya bisa menjadi pedoman dalam struktur masyarakat. Itu tidak lain ditujukan supaya kampus mampu menunjukkan integritasnya demi membentuk profesionalisme dalam melakukan inovasi dan perubahan. Dalam titik ini, budaya kritis menjadi hal yang niscaya dimiliki.

Iklim Kritis
Untuk menumbuhkan budaya kritis mahasiswa dibutuhkan iklim kampus yang bebas, terbuka dan demokratis. Yakni ketika ruang-ruang ekspresi mahasiswa mendapat penghargaan dan keleluasaan. Kampus menjadi wadah yang paling luas untuk menumpahkan segala bentuk kegelisahan sosial mahasiswa. Kritik menjadi hal yang lumrah dan biasa. Tidak ada ruang gelap yang tidak dapat dimasuki budaya kritis.

Untuk menciptakan iklim kritis semacam itu diperlukan pendidikan yang mampu membuat mahasiswa berpikir, mempertanyakan dan memperdebatkan realitas kehidupan. Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan yang sesuai akan menolong manusia untuk meningkatkan sikap kritis terhadap dunia dan kemudian mengubahnya, (Paulo Freire: Pendidikan Sebagai Praktek pembebasan, 1985)

Sedikitnya ada dua hal yang dibutuhkan dalam pendidikan kritis. Pertama, kemampuan menilai. Ketika mahasiswa dihadapkan pada realitas yang timpang ia dapat memahaminya sebagai bagian dari gejala perubahan sosial. Sebuah kritik perubahan tidak hanya berupa hujatan komentar belaka, namun juga berupa ungkapan kata yang memiliki dasar dan mampu memancing tanggapan demi perubahan positif.

Kedua, kesadaran dan kepedulian. Tidak cukup menilai saja, mahasiswa dituntut melibatkan secara penuh emosi sosialnya untuk menuju perubahan, yakni sadar dan peduli. Sadar bahwa problem yang ada dihadapannya itu adalah nyata, dan peduli bahwa semua itu harus segera ditemukan penyelesaiannya. Karenanya, sebuah studi akademik haruslah didasari pada kesadaran berilmu dan kepedulian terhadap implikasi hasil studi yang dilakukan. Karena studi apapun proses akhirnya adalah masyarakat. Jelas, kepedulian menumbuhkan sikap kritis.


Kampus yang Mati
Walhasil, kampus menjadi laboratorium utama mahasiswa menjalankan proses dialektika wacana sosial. Suguhan-suguhan yang terima ketika di kampus menjadi bekal utama mahasiswa membangun masyarakat. Namun ironis, bekal itu kini sulit berdialektika dengan kepedulian.

Ketika di kampus, mahasiswa lebih disibukkan dengan tuntutan tugas pribadi dan perkuliahan daripada membangun kesadaran sosial. Seakan kritisisme kampus dianggap nada sumbang belaka. Kesempatan untuk melatih kepekaan sosial kian memudar. Kepedulian yang muncul sekarang adalah kepedulian terhadap nasib-ku dan nasib-mu.

Pada masa Orde Baru kita melihat kematian kritik karena memang dimatikan oleh penguasa, namun kini kritik mati di tangan kita sendiri karena terkikisnya kepedulian kita, mahasiswa. Bukan mati dengan cara anarkis, tapi dengan egoisme. Justru hal ini yang membuatnya benar-benar mati. Mati yang hakiki.

Bila diibaratkan, saat ini kampus sedang berhenti bernafas. Pergerakan menjadi barang langka di sana. Terjadi kemalasan global dimana-mana. Iklim intelektual telah tenggelam, tertelan ketidakpedulian dan kesibukan masing-masing.

Kondisi demikian paling tidak disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kapitalisme pendidikan yang semakin luas. Pendidikan yang hanya menguntungkan orang kaya, dan yang mampu mengenyam pendidikan tinggi hanya kalangan borjuis, mau tidak mau akan menumbuhkan apatisme mahasiswa. Karena merasa sudah tercukupi segala kebutuhannya, tidak merasakan langsung problem riil masyarakat, kepekaannya menjadi tidak terasah, buta dari realitas.

Kedua, kuliah oriented. Karena tuntutan kerja yang sangat besar, mahasiswa lebih memilih menyelesaikan tugas kuliahnya daripada menjadi aktivis sosial yang kritis. Ia hanya sibuk dengan tugas kuliah, mulai dari membuat makalah, praktikum dan seabrek tugas lain yang menyita waktu, sehingga tidak ada kesempatan untuk menilai dan mempedulikan kondisi sekitarnya. Kebutuhannya ada pada diri sendiri, bukan masyarakat.

Ketiga, minimnya apresiasi kaum kritis. Sulit sekali kita menjumpai aktivis mahasiswa di kampus. Bahkan, para aktivis cenderung dijauhi kebanyakan masyarakat kampus. Apalagi dari institusi. Hampir tidak ada penghargaan bagi mereka. Yang menghargai adalah masyarakat kelas bawah yang telah mereka tolong.
Jika sudah demikian, apa yang akan kita jumpai di kampus. Hedonisme. Ya, itulah gaya hidup agent social of change saat ini. Belanja menjadi kegiatan wisata masyarakat kampus.

Untuk membangkitkan lagi kritisisme, sebagaimana Hugo Caves lakukan di negaranya, adalah dengan membangun kesadaran kolektif-organik, bukan kesadaran stagnan. Yakni kesadaran bahwa diluar diri kita, diluar kedaulatan kita, ada ancaman kekuasaan asing, yang di bungkus dalam bentuk kebebasan dagang. Jika kita tidak sadar dengan realitas itu, masih sibuk dengan mekanisme penyelesaian problem pribadi tanpa melek sosial, kekuatan lain akan menguasai kita.

(Dimuat Harian Semarang, 27 Mei 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar