Habibie dan Filsafat Teknologi

Oleh M Abdullah Badri


Awal bulan tahun 2010, Prof. BJ. Habibie diberikan gelar doktor kehormatan (honoris causa) Universitas Indonesia karena kesetiaannya dalam mengkaji dan menerapkan secara praktis filsafat teknologi. Habibie dipandang telah berhasil mengembangkan pemikiran monologis yang menyatukan laku manusia dengan ketersediaan alam yang terbatas itu.

Mantan presiden RI yang kini telah mendapatkan 20 penghargaan tingkat internasional dan 16 penghargaan di tingkat nasional itu dinyatakan sebagai salah seorang ahli teknologi yang meneguhkan adanya hubungan teknologi dengan nilai, kebudayaan dan kesiapan infrastruktur etis terhadap alam. Di tangan Habibie, produk teknologi menjadi eksklusif, karena menjadikan filsafat sebagai ilmu hulu yang bertautan dengannya.

Adanya konsensus-konsensus internasional yang diselenggarakan dalam rangka pencarian solusi masalah lingkungan dan kemanusiaan global adalah dampak tidak langsung dari teknologi. Manusia yang menjadi aktor dalam proses eksploitasi alam, dengan produk teknologi sebagai sarananya, telah memarginalkan manusia dari alamnya. Manusia hidup bersama alam, begitu dekat dengan lingkungannya, alam, namun ketika penguasaan teknologi berada di tangan, ia seakan terjauh, terpental dari lingkungan yang selama ini menghidupinya itu.

Yang terjadi kemudian adalah pelepasan nilai-nilai kemanusiaan dalam teknologi. Awalnya, teknologi dicipta untuk mempermudah manusia memenuhi hajat kepemilikan hidup, berupa materi dan status sosial. Namun, setelah terkontaminasi dengan keserakahan, ia meninggalkan manusia dari unsur kebahagiaan primordial. Betul, banyak manusia modern, berkat kemajuan teknologi, telah memiliki segala yang ia punya, namun di saat yang sama, ia terasing, jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan kebahagiaan.

Habibie mendapatkan penghormatan dalam filsafat teknologi karena ia menyadari bahwa manusia itu selain makhluk yang berpikir, juga makhluk yang berbudaya. Menurutnya, filsafat dan teknologi itu bisa bersinergi. “Keduanya bisa mempengaruhi kualitas moral, etika, budaya dan peradaban,” katanya dalam sambutan penyerahan gelar penghormatan itu.

Tidak Bebas Nilai
Sekarang ini, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari progresifitas dan imajinasi konstruktif teknologi atas kebutuhan ekonomi, sosial dan politik. Kendati banyak sumber daya alam, bila teknologi sebuah negara tidak mengalami inovasi, ia tidak akan mampu bertahan dalam gegap gempita globalisasi.

Karena teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan dan kebutuhan manusia, maka ia tidak bisa dilepaskan dari dinamika kebudayaan. Namun, logika yang selama ini berkembang dalam arus kemajuan teknologi selalu menempatkan kebenaran obyektif sebagai ukuran satu-satunya. Kebenaran obyektif menyatakan bahwa hakikat dari realitas ada dan mengada di luar manusia. Pancaindra menjadi raja manusia menentukan kebenaran itu. Dalam positivisme, manusia tak ada kuasa mengintervensi kebenaran yang dicari dalam alam. Dalam gaya pikir seperti ini, teknologi akhirnya bebas dari nilai (Jalaluddin Rakhmat: 1998).

Produksi teknologi akhirnya menghamba pada daya keruk manusia terhadap alam. Kemanusiaan hanya pelumas politik yang sewaktu-waktu bisa dijadikan pembenaran kuasa teknologi sebuah bangsa. Kita bisa melihat itu ketika negara-negara maju enggan berkomitmen terhadap perjanjian-perjanjian internasional dalam bidang pelestarian alam. Mereka justru tampak menyalahkan negara berkembang dengan pelimpahan penyelesaian masalah tersebut.

Corak teknologi yang dikembangkan Habibie tidak demikian. Ia menyadari betul bagaimana dunia ini memang dibentuk sepenuhnya oleh manusia, dengan akal pikir dan akal budi. Melalui akal pikirnya, manusia bisa mengubah dunia. Dengan akal budinya, ia mengubah kehidupannya, agar lebih indah dan bahagia.
Sayangnya, karena hasrat keserakahan manusia lebih dominan daripada hasrat memanusiakan manusia, dunia tak mampu lagi menampung besarnya kuasa dan hasrat manusia itu. Ia kemudian terasing. Tinggal di bumi, namun justru membunuh bumi, dengan teknologi dan motif eksploitasi berlebih. Mahatma Gandhi pernah mengatakan, bumi itu mampu memenuhi serta menampung kebutuhan manusia, namun tidak untuk keserakahan manusia.

Positivisme teknologi mengantarkan manusia pada tempat entah berantah dimana tak ada kepastian hidup kecuali dalam rutinitas dunia yang dipenuhi mesin-mesin dan logika-logika kepemilikan. Kalau demikian, manusia akan tercerabut dari akar kemanusiaan dan kebudayaannya. Ironis, teknologi yang lahir dari rahim kebudayaan manusia, justru menelantarkan manusia dari akar kebudayaannya.

Perenialisme adalah filsafat yang akan mengisi kekosongan manusia dari keterasingan kebudayaan dan kemanusiaannya akibat hasrat kuasa teknologi. Di sana ada etika kemanusiaan yang mengarahkan bagaimana seharusnya produk teknologi lahir tanpa harus mengeliminir sisi-sisi kebudayaan. Caranya adalah dengan mensinergikan potensi akal pikir dan akal budi manusia. Betul kata Habibie, teknologi bisa mempengaruhi kualitas etika, moral, budaya dan peradaban sebuah bangsa.

(Dimuat Harian Semarang, 3 Juni 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar