Superteknologi dan Humanisme

Oleh M Abdullah Badri

MANUSIA mampu mengolah sumber daya alam menjadi sarana, alat dan sistem untuk mempermudah kehidupan. Dan, dengan itu manusia menyatakan diri sebagai makhluk hidup yang canggih secara teknologis. Tentu sesuai dengan kebutuhan zaman.

Arit dan cangkul pada masa kolonial yang jarang dipunyai masyarakat desa terhitung berharga dengan citra canggih. Harganya bisa sama dengan 20 m2 tanah. Namun kini tak ada yang mau menukar sawah seluas itu dengan kedua alat tersebut. Apa pasal? Inovasi kecanggihan teknologi tak kenal kata henti selama manusia menghuni bumi.

Keingintahuan berinovasi membuat manusia tergantung pada alat yang diciptakan. Betul, semula ilmu pengetahuan yang mengejawantah dalam produk teknologi untuk memudahkan manusia menjalankan fungsi sosial, politik, dan ekonomi. Namun setelah berkembang pesat, alat teknologi membuat manusia tergantung. Teknologi jadi alter human (entitas lain) yang bisa mendikte manusia. Manusia yang semula menciptakan robot, malah dibuat “robot-robotan” oleh sang robot ciptaan.

Manusia tak berdaya menstabilkan rasionalitas ketika menghadapi keterbukaan sistem komunikasi dan banjir arus informasi tak kenal batas. Karena media komunikasi menjadi aras penyampaian pesan ke komunikan, sabda yang diproduksi diamini dan diimani publik. Meski apa yang diserap dari media hanya “manipulasi kebenaran”.

Itulah ambiguitas teknologi. Satu sisi, teknologi mempermudah mobilisasi manusia. Di sisi lain, teknologi mencerabut subjektivitas manusia sebagai unit kebudayaan utuh yang membentuk nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi dalam antropologi jelas tak bisa dipisahkan secara dikotomis dari humanitas.
Manusia Super Apakah humanitas menentukan karakter teknologi atau teknologi yang menentukan bentuk humanitas? Pencarian jawaban itu penting karena modernitas, kata Martin Heidegger, hanya dapat ditemukan dalam ontologi teknologi (Terry Flew, 2005: 28-29). Keduanya bisa berebut jadi penentu, tergantung pada orientasi aksiologis dari teknologi.

Penguasa, pemilik modal, atau yang berhasrat menentukan kehendak kehidupan sosial, bisa menggunakan teknologi untuk mewujudkan keinginan. Untuk berperang atau meningkatkan produksi kapital, teknologi jadi alat vital pendukung yang efektif. Begitu simpulan dari Karl Marx tentang mekanisme pembentukan gaya hidup materialisme. Hanya orang yang bervisi menggerakkan langit dan bumi yang bisa melakukan itu, seperti diimajinasikan Nietzsche sebagai manusia ideal; Superman (Jerman: ‹bermensch). Dialah manusia kuasa yang ingin merengkuh segala jenis kehidupan menyatu dalam “badan” dan nafsu, seperti Hitler, Napoleon, dan Julius Caesar. (Kevin OĆ­Donnel, 2009: 102).

Di sini, saya ingat teori Ekuasi Media dari Clifford Nass dan Byron Reeves (1996). Intinya, suatu saat manusia akan menganggap media (dalam kultur komunikasi yang masif) seperti manusia yang punya kuasa bicara. Bukan lagi alat komunikasi, melainkan bagian dari “spesies keluarga” yang harus ditaati.

Kesadaran kritis manusia diganti kesadaran media. Media jadi superteknologi yang menyerut humanitas dan rasionalitas. Karena dalam media, realitas disuguhkan sebagai kenyataan kedua dan yang kesekian setelah fakta indra yang hakiki. Hiperreality.
Manusia modern tergantung pada superteknologi media dan digerakkan oleh media. Dia jadi subjek mati dalam peradaban. Kaum pos-strukturalis dan posmodernis menyatakan kematian manusia, bahkan Tuhan. Jargon cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) ala Rene Descartes yang jadi paradigma kemerdekaan dan kebebasan berpikir manusia, tak berarti lagi. Manusia tak mampu lagi menggerakkan diri, kecuali oleh the big other reality, superteknologi informasi itu.

Sosok manusia super seperti Hitler tak akan mampu memperluas propaganda fasis jika kesadaran kritis manusia masih ada dalam proses penyerapan informasi. Adalah Slivoj Zizek yang menghidupkan kembali subjektivitas manusia dari hegemoni peradaban yang disebut Alvin Toffler sebagai gelombang ketiga pasca-era pertanian dan industri. Manusia, kata Zizek, harus dikembalikan ke subjek kosong kebudayaan. Cogito yang kosong akan membuat manusia bertahan dalam kesadaran kritis (Thomas Kristanto, 2000: 91-92).

Kesadaran kritis memberikan garansi, peradaban manusia tak akan pernah mati seperti prediksi the end of history ala Francis Fukuyama. Peradaban akan mati bila humanisme tak tampak dalam latar subjek sebagai manusia. Tak perlulah manusia terasing jika makna mencintai, menghargai, saling memiliki dalam kultur kebudayaan superteknologi informasi merekah dalam alur persahabatan sesama. Manusia punya tujuan; untuk dirinya dan penegakan nilai-nilai humanitas. Keabadian peradabannya.

(Dimuat Suara Merdeka, 28 Juni 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar