Tradisi Menulis, Ritual Pemberontakan


Oleh M Abdullah Badri

Menulis dapat kita pahami sebagai bagian dari kegiatan komunikasi yang produktif dan ekspresif, yang disampaikan dengan bahasa literer. Secara fungsional, ia digunakan untuk menyampaikan gagasan, pesan, harapan, isi pikiran kepada orang lain untuk memberitahu, mempengaruhi, menguasasi, atau bahkan hanya sekadar untuk mencatat atau merekam peristiwa yang sedang terjadi. Karena itulah, menulis bisa dikatakan sebagai sebuah lampahan keyakinan tentang apa yang kita akui sebuah fakta, kebenaran dan kepercayaan.

Keyakinan menjadi titik kritis dalam proses kreatif lahirnya sebuah karya tulis. Di sini, menulis diindentifikasi sebagai aktivitas yang tidak pernah berdiri dalam ruang kemapanan dan dimensi pro status quo. Karena itulah, sensitifitas dan kesadaran kritis bagi seorang penulis merupakan keniscayaan yang harus dipunya. Sensitifitas atas sebuah masalah membuat penulis menemukan sebentuk kreativitas, yang orang lain tak merekamnya dalam bahasa kata dan makna mencerahkan.

Bisa jadi, sebuah kelaziman adalah memang tampak sebagai kelaziman dalam pandangan umum. Tapi, seorang penulis yang sensi, kelaziman itu dibaca sebagai ketidaklaziman. Contoh misalnya dalam kebiasaan makan. Bagi kebanyakan orang, aktivitas primer dalam hidup itu dipahami sebagai tindakan lazim untuk mengisi perut kosong. Padahal, bila dibaca dengan analisa antropologi, makan tak semata dan tidak selamanya berarti mengenyangkan perut. Ia sudah menjelma sebagai ritual hidup yang bisa berdimensi ekonomi, politik, budaya dan kuasa. Bagi kalangan politikus, tradisi makan bareng bersama kolega atau rekan di sebuah resto tak selesai hanya dibaca untuk mengenyangkan perut. Perjanjian makan di resto adalah ritual untuk membuka ruang-ruang keputusan politik dan ekonomi (bagi pengusaha) yang lebih luas dan lebih besar dampaknya. Sensitivitas inilah yang harus terus dipunyai. Sekali ia tenggelam dalam kemapanan, penulis akan hengkang dari tradisi penulisan kreatif. Intinya, penulis itu harus punya jiwa pemberontak.

Bagaimana menuangkan ekspresi pemberontakan tersebut dalam bahasa tulis yang efektif? Seringkali, kita sudah punya keyakinan, tapi di tengah giliran menuliskannya dalam bahasa tulis, kelabakan kita. Hanya untuk merampungkan satu gagasan saja kebingungan menreruskan kata lanjutan. Berbusa-busa ketika kita bicara, tapi untuk mendedahkannya dalam balutan bahasa tulis di depan mesin ketik komputer, mengalami kesulitan. Komputer atau mesin ketik menjadi musuh. Karena itulah, untuk meneruskan perjuangkan atas sebuah keyakinan yang kita anut, harus dengan mengalahkan komputer. Mutlak.

Tak usah banyak ba bi bu dan cing cong untuk membuat keputusan menulis. Sekali kita yakin bahwa yang kita tulis adalah sebuah gagasan dan harapan yang layak disampaikan kepada publik, seketika itu juga segala alasan yang menghalang menghantarkan kepada imajinasi kreatif sebisa mungkin dilenyapkan dengan gerakan jari-jari dan ketajaman mata menatap layar musuh kita, komputer itu.

Syndrome penulis biasanya adalah menunda untuk mentransformasikan gagasannya sebagai granat pemikiran bagi banyak orang. Ada yang menyebut, selain pengacara dan pengutang, yang paling banyak berdalih untuk menunda atau mengelak dari ritual yang harus dikerjakan adalah yang hendak menulis. Pengacara mengelak karena kalau dia berhasil, dalam kasus hukum yang menimpa kliennya, dia akan mendapatkan keuntungan honor profesional dan popularitas. Pengutang pandai bersilat lidah karena dia punya kepentingan untuk menunda jangka waktu pembayaran uang yang pernah pinjaman. Yang paling merugi adalah menunda menulis. Penunda menulis adalah penolak produktivitas. Artinya, salto jumpalitan bersilat ludah baginya tak menghasilkan apa-apa selain kesia-siaan. Tak ada keuntungan, kecuali dia mengingingkan potensi granat pemikirannya kian berkarat dan beku dalam kemalasan.

Sepintar apapun orang dan sesakti apapun dia akan dilupakan sejarah kalau tidak punya karya, termasuk karya tulis. Karena itulah, menuliskan keyakinan adalah kegiatan perenial untuk keabadian. Tulisan merupakan raga dari ide dan gagasan. Pemberontakan akan hidup menggema dalam karya tulis. Seorang guru bisa menghidupkan gagasan dengan mensenyawakannya kepada peserta didiknya dalam proses belajar mengajar di ruang kelas. Pewaris garis intelektualnya hanya akan bertahan selama beberapa generasi saja, selama murid atau siswanya masih hidup. Paling banter transformasi gagasannya sampai kepada cucu didik. Tapi penulis, gagasannya bisa melintas batas ruang dan generasi. Puluhan abad jasad penulis sudah menjadi abu tanah, tapi keyakinnya dalam tulisan dan karya, dianut oleh jutaan hingga milyaran orang di dunia. Dari masa ke masa. Dari dimensi ke dimensi lain.
Pada hakikatnya, menulis kemudian bisa dinyatakan sebagai kegiatan produktif dengan niatan menggelombangkan pemikiran dalam laut peradaban dan menerjang karang samudra keyakinan yang menerjang, dengan jiwa pemberontakan tentunya.

Redaktur Adil dan Abadi
Masalahnya, setelah penulis mengalahkan komputer, kadang dia kalah lagi dengan perseteruan dalam ruang media yang dijadikan sarana selebrasi pemikirannya. Dia capai dengan sengitnya pertarungan dengan penulis senior lain di ruang publik yang lebih luas. Baik pemula maupun pesohor. Acapkali, seorang penulis “mutung” tak mau lagi menulis karena tulisannya tidak layak tayang di lembaran media massa atau ditolak oleh penerbit. Kalau dia bermental petarung, yakin tidak akan melihat kesulitan yang dihadapi sebagai halangan, justru kesempatan.

Untuk bertarung dalam ruang bebas di media massa, agar tulisan kita dimuat, cara yang mungkin dapat dilakukan adalah menempa diri sebagai pembaca. Menulis tidak akan memiliki kekuatan spiritual kalau tidak dimulai dari tradisi membaca secara zigzag. Menulis adalah saudara kandung membaca. Ia merupakan efek dari kebaikan tradisi membaca. Ingat dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq. Perintah pertama dalam suci wahyu itu bukan menulis (uktub; bacalah), tetapi membaca (iqra’: bacalah). Jadi, untuk menjadi penulis, jadilah dulu sebagai pembaca. Dua hal itu setali tiga uang yang tak dapat dipisahkan.

Selain tidak berangkat dari tradisi membaca, kebanyakan artikel popular yang dikirimkan ke media tertunda nasibnya untuk dimuat karena beberapa hal. Pertama, mungkin tulisan itu dianggap redaktur tidak memberikan pencerahan baginya. Redaktur media adalah algojo bagi tulisan-tulisan yang dalam pikirannya dianggap tidak punya gagasan orisinil. Makanya, tulisan itu harus punya kekuatan “menyihir” atau “mengakali” redaktur. Mengirimkan tulisan ibarat “ci-luk-ba” gagasan dengan redaktur. Gairah keingintahuan redaktur dalam tulisan itulah yang membuat tulisan dianggap, sekali lagi, dianggap, oleh redaktur “berkualitas”. Tapi tak semua yang dimuat olehnya, bagi orang lain, juga dikatakan punya mutu. Rezim redaktur seringkali memenggal tulisan-tulisan yang berkulitas dari banyak penulis. Banyak penulis yang mengirim karyanya ke meja redaksi, tapi karena redaktur punya “keyakinan” pribadi sendiri, dia mengukur kualitas karya tulis orang lain sesuai perspektifnya. Makanya, tulisan-tulisan yang muncul hanya dari nama-nama penulis yang itu itu saja, yang sudah masuk dalam istana rezimnya. Redaktur seperti ini sulit dilawan kecuali dengan “adzab” atau memutuskan untuk bergabung sebagai “tentaranya”. Menulis memang kadang dianggap sebagai suatu yang gampang, yang sulit, adalah dimuat.

Kedua, artikel bisa mental dari meja redaktur karena dianggap “murtad” dari karakter dan visi-misi ideologis media. Setiap media punya karakter memuat tulisan. Mengenal karakter menjadi kemestian. Mungkin saja tulisan kita bagus, tapi karena bertentangan dengan karakter media, tak jadilah tulisan itu tertayang. Tulisan kita punya nyawa sendiri. Dia akan mencari ruang penghidupannya sendiri. Jadikanlah dia subjek yang bebas, bukan objek gagasan an sich. Hari ini mungkin tulisan kita “ditalaq” oleh media, tapi lain hari mungkin tulisan itu akan dipersunting oleh media lain, dimuat. Tugas kita hanya mencarikan “jodoh” media lainnya yang paling cocok dengan karakternya. Percayalah, tak ada tulisan yang “ditalaq tiga” oleh penulisnya. Kalau tidak dimuat oleh media mana pun, paling tidak dia akan terus hidup dalam folder komputer.

Ketiga, artikel tak dapat dimuat karena tak berdialektika. Tulisan tidak punya nasib karena disimpan untuk dijadikan artefak pribadi, tidak pernah dibaca orang lain. Tulisan yang di “lemari es” tidak pernah ikhyilath dengan cuaca luar. Sehingga tidak bisa berkembang. Bacakanlah tulisan itu kepada orang lain. Pamer karya untuk dibaca adalah kegiatan untuk menciptakan kembali atau menciptakan sesuatu yang terarah. Tulisan tak jadi terarah karena tidak diberanikan penulisnya untuk dibaca. Banyak diantara kita punya karya, tapi tak percaya diri memperkarakannya dengan orang lain. Intinya, tulisan yang seperti ini adalah karya yang meskipun baik, tapi belum punya kekuatan spiritual.

Karena itulah, takut kepada kritik orang lain adalah tindakan naif bagi jiwa pemberontak penulis. Penulis harus berani bertarung dengan orang lain, adu tinju dengan redaktur. Jangan pula capai menciptakan karya, meskipun belum bisa dipilih redaktur. Pepatah arab mengatakan: likulli saqithah, laqithah/ setiap yang jatuh pasti ada yang memulung. Tak dimuat di media ini, kirim saja ke media lain, siapa tahu ada yang “berbaik hati”. Tak kunjung tayang, jangan bunuh diri, kita masih punya redaktur yang paling pandai menilai karya kita, Allah Subhanahu Wata’ala. Dialah Yang Maha Adil dan Abadi menyeleksi tulisan. Asalkan menulis terus menjadi tradisi kita, ritual pemberontakan diri. Sekian.

(Narasi ini disampaikan dalam Sarasehan Temu Penulis Media Massa IAIN Walisongo Semarang di Ruang Sidang Gedung Rektorat IAIN Walisongo Semarang, Selasa, 3 Agustus 2010)
Advertisement

2 komentar

avatar

kalau saya suka nuls tapi kadang masih suka malas baca :D, tulisannya bagus

Klik untuk komentar