Perempuan, E-Comerce, dan Kemandirian

Oleh M Abdullah Badri

KRISIS yang menerpa bangsa ini membuat setiap individu untuk bisa mencari ketahanan ekonomi dan sosial. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bisa terjadi sewaktu-waktu bila sebuah perusahaan menganggap perlu demi efisiensi dan stabilisasi. Laki-laki (suami) yang menjadi tulang punggung keluarga dipulangkan dari tempat ia berkerja.

Keluarga jelas akan mengalami krisis kalau peran suami di sana tak segera diambil alih oleh istri. Karena satu dan lain hal, ketika suami meninggalkan rumah atau alpa kerja di-PHK, istri memang yang paling layak menggantikan demi kelangsungan hidup.

Di sini, perempuan dituntut untuk bisa mandiri. Sekarang ini di dunia maya sedang marak istilah wirausaha ibu rumah tangga. Beberapa situs internet menyediakan secara gratis bagaimana mengisi waktu luang di rumah agar bisa menghasilkan keuntungan material namun tetap bisa memantau perkembangan anak-anak mereka di rumah. Jadi, dia mengasuh anak tetapi mempunyai sampingan kerja di rumah.

E-Commerce menjadi bisnis pilihan para perempuan di rumah. Ibu rumah tangga yang punya banyak waktu di rumah dalam masa suami bekerja di luar tinggal duduk di layar datar menggelar dagangan di dunia maya. Tak perlu menyewa toko dan penjaga. Ia hanya memerlukan inovasi agar dagangan yang digelar membuat pengunjung situs tergerak menawar dan membeli.

Ketertarikan pelanggan dari dunia maya memiliki nilai sendiri. Kalau kebetulan barang yang dipasarkan di sana itu diminati seorang kolektor atau yang punya hobi tertentu, penawaran seperti lelang.

Harga yang dipasang bisa naik sesuai keinginan yang calon pembeli. Berlipat ganda malah. Inilah keuntungan tersendiri berbisnis lewat internet itu. Bahwa harga barang yang dipajang bukan sasaran, tapi sejauh mana barang yang ditampilkan dan hendak ditampilakan memikat pengunjung.

Tawar menawar harga tak perlu membutuhkan energi karena jenis barang, tabel harga, teknis pengiriman (delivery) dan cara pembayarannya pun diterangkan secara jelas (Muhammad Yusuf, 2009: 183). Kalau sepakat, call telp number, uang dikirim, barang akan segera diterima. Di sini, para ibu rumah tangga tak perlu repot menyediakan waktu untuk menunggu pelanggan. Justru pembeli datang atas keinginan sendiri.

Berdagang sambilan bagi perempuan ibu rumah tangga tidak memerlukan waktu, modal dan jasa yang begitu banyak untuk mengembangkan bisnisnya. (Ating Tedjasutisna, 2000: 10). Pun resiko kerugian amat kecil, kecuali bila terkena skandal penipuan.

Dengan begitu, perempuan bisa memiliki peran ganda. Selain menjadi ibu yang bertanggungjwab terhadap perkembangan anak-anaknya, dia juga bisa menambah pundi-pundi kekayaan tanpa harus memeras keringat. Kerja keras.
Kesempatan
Di tengah iklim kompetisi ekonomi yang sengit, yang dibutuhkan bukan hanya kerja keras. Justru yang lebih tangguh menghadapi tantangan adalah mereka yang berani mengambil kerja kreatif.

E-Commerce membuat orang tak lagi repot menyediakan tempat luas dan energi tinggi untuk menggelar dagangan. Namun, hasil yang didapatkan sangat cepat dan menguntungkan. Di salah satu situs internet dan jejaring sosial maya, seorang teman berseloroh Iklan barang daganganku tak perlu membayar pajak, katanya.

Namun kian hari pelanggannya terus tambah. Ya, dia punya situs sendiri, bebas memasang iklan barang semaunya. Seminggu sekali dia harus kulakan baju batik ke Pekalongan karena permintaan yang tak diduga banyaknya. Dia perempuan, muda, bisa dibilang mandiri, bahkan kaya. Tapi dia tak mempunyai toko kecuali di dunia datar, layar sosial berbasis jaringan.

Indonesia membutuhkan perempuan-perempuan yang mandiri. Kultur wirausaha adalah cara pembuktian diri bertahan dari kompetisi ekonomi. Ini jalan ekonomi kerakyatan. Kesempatan untuk menaklukkan kelemahan dengan kreativitas dan inovasi. Para ibu rumah tangga yang mengambil kesempatan ini tak perlu khawatir pengaruh negatif pergaulan dalam keluarga, karena anak dalam pantauannya.

Al-Zarnuji dalam Talim al-Mutaallim menyatakan, salah satu indikasi keberkahan seseorang dalam hidupnya adalah ketika dia punya sumber rizki yang diraih tidak jauh dari rumah. Zarnuji mengatakan demikian karena rumah yang ditempati keluarga adalah sumber inspirasi. Rumah menjadi goa yang sepi senyap gelap bila ia menjelma tragedi unit-unit keluarga.

Ketidakrukunan anggota keluarga yang berbuntut perceraian dan permusuhan adalah karena rumah hanya dijadikan singgahan tempat beristirahat belaka, saat malam tiba. Padahal, fungsinya lebih dari itu. Ia adalah tempat melahirkan imajinasi.

Anggota keluarga terutama ibu rumah tangga- akan menjadi pusat pembangunan kultur rumah yang cerah kalau ia mandiri dan berbagi peran dengan suami. Agar rumah menjadi surga. Baity Jannati/ rumahku surgaku, kata Nabi Muhammad saw.

(Dimuat Harian Umum PELITA, 18 Agustus 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar