Setop Bersikap Konsumtif

Oleh M Abdullah Badri

Era globalisasi sekarang ini menuntut setiap elemen bangsa menempa kompetensi dengan meningkatkan kreativitas dan produksi karya.

Kompetisi yang kian ketat tersebut seakan-akan meneguhkan slogan teori Darwinisme, yaitu the survival for the fittest (yang bertahan, yang paling kuat). Dan itu seakan-akan sudah menjadi hukum besi dalam demokrasi dan globalisasi.

Negara-negara Barat yang memegang kendali produksi menjadi bangsa yang siap dengan segala tantangan dan risiko global yang mengancam.

Sementara, negara ketiga yang sedang berkembang seperti Indonesia menjadi bangsa yang paling aman untuk diperas energinya, dipaksa mengonsumsi produk yang mereka buat. Kita menjadi bangsa yang tingkat konsumsinya paling tinggi di dunia.

Itu bisa dibuktikan dengan minat belanja masyarakat yang luar biasa kendati kadang tingkat ekonominya rendah.

Ketika mendapatkan gaji atau uang, misalnya, banyak yang lebih suka membelanjakannya untuk membeli bendabenda mati daripada digunakan untuk “mengangsur” kebutuhan masa depan. Bukan karena butuh kita membeli benda- benda itu, tapi karena nilai prestisenya. Betapa banyak dari kita yang hampir setiap bulan berganti telepon seluler hanya untuk mengikuti tren.

Wajar jika Indonesia dinyatakan sebagai negara konsumen telepon seluler terbesar di dunia (Anand Krishna: 2007).

Tempat-tempat perbelanjaan modern, seperti mal, mini market dan lainnya, semakin hari kian ramai dikunjungi masyarakat.

Saking konsumtifnya, tradisi belanja di mal semakin tidak mengenal ruang dan waktu (terutama pada hari libur).

Dalam kondisi krisis global seperti sekarang ini, misalnya, yang namanya mal tetap menjadi tempat favorit masyarakat menghabiskan rupiah. Bahkan ada kecenderungan, mal dijadikan alternatif tempat wisata keluarga, menggeser objek wisata pantai dan pegunungan.

Selain itu, alasan masyarakat memilih mal dan minimarket karena alat elektronik modern seperti telepon seluler, televisi, komputer, dan peralatan rumah tangga yang lebih canggih relatif mudah diperoleh di sana.

Bila dibandingan dengan pasar tradisional, jelas kondisi itu jauh berbeda. Selisih harganya yang tidak terlalu tinggi dengan pasar tradisional juga menjadi daya tarik masyarakat untuk memilih mal.

Sayang, tingginya tingkat konsumsi masyarakat kita tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas ekonomi. Bolehlah kita mengatakan bahwa masyarakat Barat lebih konsumtif daripada kita, namun mereka mengimbanginya dengan peningkatan produksi .

Dalam satu waktu, Barat menjadi produsen sekaligus konsumen, sementara negeri ini tidak. Dampak yang lebih fatal akibat budaya konsumtif adalah terkikisnya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Budaya konsumtif yang tidak seimbang itu pada akhirnya akan menumpulkan daya kreativitas anak bangsa.

Mereka akan lebih suka menerima daripada memberi, lebih suka malas daripada bekerja. Lihatlah betapa masyarakat kita yang rela berdesak-desakan hanya untuk mengantre uang zakat. Nyawa jadi taruhan demi mendapatkan uang yang habis dibelanjakan satu kali saja itu.

Industri Kreatif Ada nada optimistis yang menyatakan bahwa meluasnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di dunia industri dalam negeri, akibat krisis global, akan memicu lahirnya industri kreatif masyarakat. Artinya, gairah perekonomian rakyat ada harapan akan tumbuh secara mandiri, tidak mengandalkan pengusaha.

Sebelum kena PHK, seseorang mungkin belum pernah berpikir bagaimana strategi untuk memasarkan produk ciptaannya atau bagaimana cara mempertahankan bisnisnya dari ketatnya persaingan pasar. Namun, setelah ia menyatakan diri menjadi bos usahanya sendiri, ia akan belajar banyak tentang hal itu.

Di sinilah kreativitas dalam bidang ekonomi, yang berdampak pada tumbuhnya produktivitas, diharapkan mulai terbangun.

Harapan itu semakin menemukan relevansinya mengingat pergerakan gelombang ekonomi dunia sekarang ini sedang menuju pada era keempat setelah ekonomi industri, teknologi, dan jasa. Negara yang sementara ini mendominasi pasar industri kreatif dunia adalah China.

Sebagai negara yang menerapkan sistem ekonomi sosialis, China mendistribusikan kekayaan ekonomi kepada seluruh warga negaranya tanpa membedakan status.

Negara benar-benar menjamin kebutuhan hidup rakyatnya. Namun, untuk menghadapi persaingan global, pemerintah setempat, mulai jam tujuh pagi hingga jam lima sore, mewajibkan seluruh warga negara untuk memproduksi ragam produk ekonomi yang layak dijual ke luar negeri..

Hasilnya, produk Negara Tirai Bambu itu, terutama dalam bidang tekstil, mampu membanjiri pasar dunia internasional.

Mengingat kesempatan yang terbuka lebar dalam pengembangan industri kreatif tersebut, banyak kalangan yang gencar menyosialisasikannya kepada masyarakat. Apalagi di tengah kelesuan ekonomi bangsa.

Kini, peluang untuk menjadi bos lebih besar daripada menjadi buruh. Menjadi buruh yang bekerja di sebuah perusahaan, selain harus melengkapi kebutuhan administratif sebagai syarat lamaran, harus siap bersaing dengan banyaknya pelamar lain.

Kendati terbuka luas, menjadi bos bagi usahanya sendiri bukan pilihan banyak orang. Ini membuktikan bahwa pola pikir masyarakat kita masih didominasi pola pikir buruh, yang hanya ingin bekerja, lalu menerima untuk kemudian dibelanjakan, tidak berusaha keras bermain strategi-spekulatif, sebagaimana laiknya para bos.

Wajar jika mental demikian mengakibatkan masyarakat kita berpola konsumtif tanpa diimbangi dengan peningkatan produksi.

Aktivitas belanja tanpa diimbangi upaya peningkatan produksi hanya akan menguntungkan korporasi asing ketika produk lokal tak dapat mengimbanginya.

Jangan berbelanja sebelum Anda menemukan produk dalam negeri yang layak dikonsumsi.

(Di Muat Koran Jakarta, 25 Oktober 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar