Gelisah, Lalu Menulis


materi menulis | tujuan menulis | manfaat menulis | pengertian menulis wikipedia | belajar menulis | definisi menulis | pengertian menulis menurut kbbi | cara menulis

Oleh M Abdullah Badri

SEBELUM beranjak kepada strategi mengirim artikel atau tulisan lain ke media, sepantasanyalah ulasan strategi kreatif dikemuakan. Bahwa menulis itu bukan sekadar menuangkan gagasan atau ide. Lebih dari itu, menulis adalah seni meludahkan pikiran dalam bahasa tulis yang tertata dan berdata. Sebelumnya, keyakinan (iman) harus kita punyai sebelum melewati proses kreatif menulis. Tanpa keyakinan, tulisan kita tak akan berbentuk dan bervisi.

Apa yang ingin kita tulis dan tujuannya apa dalam kepenulisan itu, demikian itulah yang saya sebut keyakinan. Kebenaran, kejujuran dan kepedulian, barangkali jadi hal yang bisa membantu kita untuk merampungkan sebuah tulisan yang baik, yakni “tulisan yang sudah jadi”.

Banyak diantara kita yang ingin mau mulai menulis, tapi tak tahu harus mulai dari kata apa dan seterusnya bagaimana. Macet. Saya sering ditanya: aku mau manulis tentang ini dan itu, apa yang harus saya tulis di depan komputer. Dengan enteng saya menjawab: “lha kamu yang pengen nulis mengapa harus tanyakan keinginan itu kepada saya.” Diantara sidang pembaca, adik-adik kelasku sekalian, pasti banyak yang mengalami hal serupa. Ketahuilah, bahwa kemacetan menulis seperti kejadian di atas adalah karena kita belum punya kayakinan tentang apa yang akan kita tulis itu.

Hamil kegelisahan, seperti kata Budayawan Ahmad Thohari, adalah titik dimulainya kita mudah meludahkan kata. Gelisah saja tidak pernah, saya jamin, tak akan punya keberanian kreatif menuangkan ide dalam karya tulis. Ya, selain keyakinan, hal terlanjut yang harus kita tumbuhkan adalah hamil kegelisahan. Gelisah tentang apa saja. Tentang lingkungan kita, teman kita, guru kita, orang tua kita, kepemilikan kita, hak-hak kita, kewajiban kita, kesalahan kita, akidah kita, perilaku kita, pemikiran kita, bahkan tentang Tuhan.

Belajar Menulis


Semua, kalau kita punya kayakinan dan mengalami kegelisahan, pikiran kita akan menuntun kepada kemudahan mengungkapkan gagasan dalam kata, dengan tinta. Ibaratnya begini; di sebuah kelas yang sedang melangsungkan ujian, tiba-tiba saja ada seorang teman yang melapor kepada pengawas kalau kamu dituduh menyontek. Padahal, nyatanya tidak demikian. Sekonyong-konyong, tiba-tiba kamu berani lantang melancarkan protes dan melawan karena merasa difitnah. Tutur kata kasar, emosional, membantah, membela diri, begitu lancar keluar dari dua bibir mulia-mu.

Tahu apa sebab bisa demikian? Barangkali, ketika itu kamu sedang memuncak keimanan kamu, yakni keimanan bahwa kamu sebetulnya tidak pernah melakukan “dosa menyontek” tersebut. Keimanan kamu “tergoncang” setelah difitnah. Lalu dengan sendirinya, tubuh dan pikiran kamu membela diri, karena gelisah.

Menulis juga seperti itu. Ketika kita punya kayakinan (entah moral, pemahaman, idealitas atau kepercayaan diri) terkoyak oleh sebuah keadaan, gangguan luar, atau faktor lain di luar dirimu, kamu akan bergerak dengan mudahnya melakukan interupsi besar-besaran. Demikian itulah, ternyata menulis adalah bagian dari interupsi juga. Tentang apapun yang kita gelisahkan dan tentang apapun yang membuat kita tidak puas.

Lalu, masalah keterampilan menulis bagaimana? Ah, itu faktor kesekian yang tidak perlu dirisaukan. Keterampilan menulis itu bak seorang cewek yang belum mengerti tentang cinta tapi dipaksa nikah, dijodohkan oleh orang tuanya. Bagi orang tua, cinta bagi gadis yang belum tahu soal rasa, akan mudah dilahirkan setelah pernikahan. Maksudnya, seiring perjalanan waktu, keterampilan menulis kita, lambat laun akan terasah secara bertahap. Yang penting dilakukan terlebih dulu adalah memenuhi pengetahuan kita tentang pelbagai hal. Tradisi iqra’ harus diterapkan sebelum tradisi menulis (kitabah) kita jalankan. Itu.

Kita mungkin tidak, atau jarang mengalami kehamilan kegelisahan karena pengetahuan kita akan banyak hal terlalu sedikit. Kita sering ditipu oleh orang lain, oleh keadaan, atau situasi yang tak terkontrol karena kita masih jahil (bodoh) tentang apa yang perlu diketahui untuk menghadapinya. Orang yang bodoh kan mudah dibodohi, dan dia mau dibodohi. Itulah yang disebut sebagai jahil murakkab, yaitu, orang yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, tapi tak mau ingin tahu.

Kalangan penulis adalah kelompok yang tercerahkan. Karena setiap penulis, dan pada umumnya manusia, memiliki satu sifat yang sama: ingin tahu, meskipun karakter keingintahuannya berbeda-beda. Ingin tahu karena gelisah, cemas, kecewa, kurang puas atau apa pun namanya yang membuat pikiran kita bergerak untuk segera melakukan interupsi. Percayalah, tanpa iman (keyakinan), kegelisahan, dan tradisi iqra’, menulis jadi sulit.

Malas Kok Mau Bisa
Mau menembus media? Gampang caranya: nulis, lalu kirim. Tapi jangan asal kirim. Kita harus tahu media mana yang akan kita kirimi karya kita itu, bagimana karakternya, berapa panjang tulisan yang dibutuhkan dan beberapa syarat lainnya. Kamu tak akan tahu semua itu kalau kebiasaan kamu tidak produktif: tidur, jagongan tak mutu, malas membaca, malas beli koran, tak suka diskusi, semangat kalau bertikai dengan kawan, bangga terhadap pengetahuan sendiri, tidak mau berbagi ilmu, nongkrong di warung tanpa tujuan, dan seterusnya.

Kalau upaya pengembangan diri tidak ditempuh dengan baik dan sadar, dan kamu ingin menulis, yang terjadi mungkin adalah demikian: kamu sudah punya tulisan tentang pendidikan sekolah Islam, tapi media yang kamu kirimi Majalah Bobo. Sampai kiamat pun, tulisanmu akan dikoleksi redaktur Bobo, alias tidak dimuat. Majalah anak-anak, harusnya ya nulis tentang cerita anak, cerita dongeng, atau tips-tips menjadi anak yang baik, misalnya. Itulah gunanya kita membaca.

Perpustakaan akal dan pikiran kamu itulah yang nantinya akan menjadikan tulisan kamu semakin berkembang. Sekarang ini, kalau saya membaca tulisan saya yang pernah dimuat Majalah At-Thullab, kala masih jadi kru redaksi, seringkali ketawa. Karena corak dan pikiran yang saya tulis jauh berbeda dengan yang saya rasakan sekarang. Dengan pede saya menyatakan: tulisan saya kini lebih bagus daripada dulu. Tapi tak usah kita sesali, karena toh kita paham, bahwa semuanya bermula dari yang namanya proses.

Tak usahlah menggebu menulis untuk media kalau tabiat malas membaca dan berpikir tentang kegelisahan, masih mengendap dalam diri kita. Jadilah diri yang kreatif dulu, yakin, setelah itu, kamu akan memiliki jiwa dan karya kreatif. Kreatif dapat kita pahami sebagai “kere” dan “aktif”. Orang yang tak punya uang alias kere, biasanya akan aktif melakukan berbagai hal untuk mendapatkan uang, entah mengemis, bekerja atau berusaha. Menulis tak akan aktif kalau kita “kere” kegelisahan. [badriologi.com]

(Disampaikan pada Pelatihan Dasar Jurnalisitik Madrasah TBS Kudus, Senin, 20 Desember 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar