Meneriaki Nurdin via Situs Jejaring

Oleh M Abdullah Badri

Judul : Dosa Dosa Nurdin Halid
Penulis : Erwiyantro
Penerbit : Galang Press
Tahun : Cetakan I, 2011
Tebal : 274 halaman
Harga : Rp50. 000,-



Buku berjudul sarkastik, Dosa-dosa Nurdin Halid ini, mengingatkan saya pada buku senada bertajuk "Gurita Cikeas" yang sempat menyentak kehidupan publik tanah air. Apa pasal? Dua-duanya sama-sama mengungkap sebuah skandal yang di mata hukum belum dibuktikan secara pasti. Buku ini hanya memaparkan hal yang bersifat prediktif-spekulatif, namun menarik minat massa, mengingat isu yang dibuat bahan debat publik seakan memenuhi dahaga masyarakat akan gemilang prestasi sepakbola nasional yang dalam masa kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI sejak 2003-2011, dianggap kurang berhasil.

Buku ini adalah semacam catatan kecil Erwiyantoro di akun Facebooknya dengan nama 'Cocomeo Cacamarica' yang mengeluh seputar PSSI sebagai organisasi yang dianggapnya tidak profesional. Penulis yang pernah jadi wartawan di beberapa media itu merasa geram atas terjadinya politisasi di tubuh PSSI oleh Nurdin dan kawan-kawan. Lebih gemas lagi penulis mengungkap emosinya, kala diketahui betapa besarnya kekuatan Nurdin Halid dalam mempertahankan posisi Ketua Umum. Dia tidak mudah digoyang oleh kekuatan politik lain. Karena itulah, lewat Facebook, penulis meng-up-date status, yang sifatnya seperti meneriaki Nurdin sebagai ketua umum, bukan ia sebagai manusia.

Seperti dalam judul bukunya yang vulgar, teriakan akan skandal politik Nurdin juga disampaikan penulis tanpa eufimisme bahasa. Bahkan, kalau boleh Anda amati, setiap status yang ditulis dan komentar yang ada di situs jejaring itu, ditampilkan secara utuh nir-sensor bahasa dan kata yang mungkin dalam takaran umum dikata tabu. Menurut Toro, panggilan penulis, hal itu sengaja dilakukan untuk memberikan keutuhan makna dan agar teriakan politik para komentator di ef-be-nya tak terpotong.

Dosa-dosa yang disebutkan penulis dalam buku ini bagi saya adalah rekaman perjalanan kepemimpinan Nurdin, yang dalam pandangan para pecinta bola, penuh dengan ranjau. Terlepas dari salah dan benarnya "sepuluh dosa" yang dilakukan Nurdin yang ditulis dalam buku ini, tetapi, paling tidak, teriakan Toro di situ patut dijadikan bahan evaluasi dan kritik kepemimpinan organisasi sepakbola nasional ke depan, siapa pun yang kelak akan terpilih dalam kongres nantinya. Buku ini mengingatkan kepada kita betapa naifnya bila dunia olahraga dijadikan ruang kontestasi kekuasaan, dan alangkah lucunya negeri ini bila tak terus diteriaki.

(Dimuat Okezone, Jumat, 11 Maret 2011)
Advertisement

Klik untuk komentar