Usaha Paling Tolol Adalah Sepakbola


Oleh M Abdullah Badri

Judul : Soccernomics
Penulis : Simon Kuper dan Stefan Szymanski
Penerbit : Penerbit Erlangga, Jakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : 313 halaman

Anda boleh tertawa dengan kesimpulan penulis buku Soccernomics ini bahwa usaha profit paling tolol dalam jagat bisnis adalah sepak bola. Mengapa? Dalam pandangan Simon Kuper dan Stefan Szymanski, sang penulis, pengelolaan sepak bola kalah langkah dengan strategi pemasaran pengusaha atribut bola: sepatu, kaus, serta harga hak tayang televisi. Tanpa keluar biaya mahal, pada era 1970-an, produsen Adidas bisa memasang mereknya di kaki pemain kelas dunia kala itu, seperti Bobby Moore.

Kapten Timnas Inggris yang memimpin laga pertandingan Piala Dunia 1966 hingga meraih juara itu ternyata hanya menerima uang 200 dollar untuk mempromosikan produk internasional tersebut kepada ratusan juta pemirsa di seluruh dunia. Satuan nilai uang itu sangat kecil untuk ukuran zamannya sekalipun. Karena itulah, buku gubahan filosuf sepak bola dan ekonom olah raga terkemuka itu menyebut sepak bola sebagai bisnis terburuk di dunia. Kesadaran tarif promosi produsen atribut sepak bola yang menggunakan kebesaran nama klub dan popularitas pemainnya terbangun lamban.

Pengelola klub baru sadar “dikibuli” setelah sekian tahun, bahkan mencapai hitungan dasawarsa. Dalam pemanfaatan media televisi sebagai sarana promosi, misalnya, organisasi sepak bola pun butuh sepuluh tahun untuk melek meraih untung. Pada era 1980-an, televisi, bagi pelaku bisnis sepak bola, dianggap faktor utama penyebab sepinya karcis pertandingan sepak bola dari pembeli. Stadion kosong penonton karena anggapannya masyarakat lebih memilih menyaksikan laga di rumah daripada harus berdesak-desakan di stadion dan membayar.

Televisi yang membeli hak tayang laga bola akhirnya hanya diberi harga murah: 115 dollar AS semusim. Kini, setelah sekian lama “ketololan” itu berlangsung, televisi harus membayar minimal sepuluh kali lipat untuk bisa menayangkan pertandingan. Buku ini, lebih lanjut, memberikan pertimbangan matematis terhadap para pengusaha yang hendak tergiur berbisnis sepak bola. Penulis memberikan contoh banding dengan sebuah perusahaan pemasok alat pesawat terbang berlabel Timer (Titanium Metal).

Perusahaan yang tergolong dalam barisan bisnis kecil di Amerika itu bisa mencapai laba 1,5 dollar AS per tahun, angka yang jauh dari keuntungan Real Madrid yang hanya senilai 475 juta dollar dan Manchester United sebesar 422 juta dollar. Intinya, buku ini mengajak pembaca untuk membongkar mitos-mitos keuntungan dari bisnis yang buruk itu, yang dalam beberapa hari terakhir jadi arena seksi diperebutkan oleh kepentingankepentingan politis tertentu.

(Dimuat Koran Jakarta, Kamis, 3 Maret 2011)
Advertisement

Klik untuk komentar