Spiritualitas dan Nasionalisme

Spiritualitas dan Nasionalisme Indonesia
Nasionalisme tidak bisa dipisahkan dari agama. Begitu pula sebaliknya. Timur Tengah porak poranda karena nasionalisme ala Arab dipisahkan dari spirit agama (spiritualitas). 

Oleh M Abdullah Badri

DUA motif yang membuat orang menyatu dalam komunitas: memisahkan diri atau mengikatkan diri dalam kelompok. Namun satu perkara yang dijadikan akar, yakni kesamaan nasib dan identitas.

Persatuan dan kesatuan secara sosiologis berangkat dari keragaman yang bisa jadi sangat berbeda dalam format, tetapi sama dalam substansi dan nilai-nilai yang diperjuangkan. Nasionalisme sebagai ideologi politik penyatuan keragaman, dibahasakan Benedict Anderson sebagai komunitas yang terbayang (Imagined Community: 1983), yang dibatasi oleh wilayah geografis, rasa persaudaraan dan kedaulatan menentukan kemerdekaan nasib masa depan.

Sejarah membuktikan, nasionalisme Indonesia yang menyatukan ragam bangsa di Nusantara bercorak membangkitkan dan menyatukan diri untuk melawan kekuatan kolonial selama hampir 3,5 abad. Meskipun pada awalnya nama-nama pahlawan yang melakukan pemberontakan kolonial tidak mengenal konsep nasionalisme, tetapi nilai yang mendasari mereka membangkitkan semangat perlawanan adalah sama, yakni menyingkirkan angkara murka ketidakdilan, penindasan, penghisapan kekayaan dan adu domba, yang dalam bahasa agama perlawanan itu disebut sebagai amar ma’ruf nahi mungkar.

Pemimpin tarekat banyak yang tercatat sebagai pejuang kemerdekaan. Mereka bukan hanya berperan sebagai pemimpin agama. Selain menyandang status ulama’, mereka juga adalah penguasa atau setidaknya memiliki pengaruh terhadap kekuasaan pada zamannya. Sebut misalnya Sultan Hasanudin dan Syeh Yusuf al-Makasari yang memimpin pemberontakan Belanda di bagian tengah Nusantara.

Ada juga Sultan Agung Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Trunojoyo Madura, Iskandar Muda Aceh, Yang Dipertuan Raja Minangkabau dan nama lain yang berjuang di wilayah Barat Indonesia. Pada abad ke-19, nama Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol juga bisa dikatakan sebagai ulama pejuang yang cukup berhasil mengoyak hegemoni kekuasaan kompeni Belanda. (Burhanuddin Daya, 2004: 218-219).

Mereka hidup pada zaman dan wilayah berbeda, tapi semangat juangnya menjadikan masyarakat bebas menentukan hak hidup dan eksistensial tak dapat diragukan. Tak pernah padam dalam lekang waktu. Hanya demi satu tujuan, menumpas praktik-praktik yang tidak sesuai dengan humanisme dan universalisme.

Secara ideologis, ulama dan pejuang memiliki keyakinan cinta bersama; cinta tanah air. Tempat kelahiran adalah wilayah primordial yang harus dipertahankan dari berbagai gangguan. Hal itu merupakan perwujudan daripada iman. Hubbul wathan minal iman; cinta tanah air, menjadi bagian daripada iman.

Mata Rahmat
Para penganut tarekat dan penghayat spiritual memandang perbedaan sebagai rahmat dari Tuhan. Karenanya, segala bentuk perbedaan yang ada tak boleh membuat jiwa kemanusiaan seseorang terenggut. Perbedaan bagi penghayat spiritual seperti kaum tarekat merupakan anugerah terindah alam yang harus dikelola dalam naungan cinta dan kasih sayang.

Habib Luthfi, ketua kumpulan tarekat Indonesia, dalam setiap pengajiannya selalu menebarkan benih-benih kasih sayang kepada semua, bukan hanya sesama. Jiwa asah, asih dan asuh selalu beliau katakan sebagai basis kesejukan membangun kehidupan bersama.

Orang yang dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang tidak akan mencari bentuk luar yang membedakan. Sebisa mungkin, perbedaan dileburkan dalam pencarian substansial, bahwa beda itu barakah dan nikmat.

Dalam tradisi yuridis Islam malah terkenal adagium la fiqha illa fi al-ikhtilaf; tidak ada hukum fiqih tanpa perbedaan (pendapat). Perselisihan sangat dihargai, dan diapresiasi dalam spiritualitas cinta. Karena pada cinta, kata Robert J. Sternberg, ada gairah persatuan, keintiman persaudaran dan ikatan persatuan (Badiatul Muhlisin Asti, 2010: 33). 

Dalam membina masyarakat, para penghayat spiritualitas cinta memandangnya dengan mata kasih sayang (yandzuru bia’inir rahmat). Seburuk apapun yang dikerjakan oleh orang lain, akan dianggap sebagai proses menjadi manusia yang utuh dan dewasa asal tidak melukai sesama makhluk Tuhan dan memecah belah keutuhan sosial masyarakat.

Spirit cinta yang dijadikan paradigma membina umat itulah yang rupanya melatarbelakangi hubbul wathan-nya para ulama yang hidup di masa kolonialisme mau melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan yang ada di depan mata. Mereka membangun kekuatan dari ragam identitas lokal dan kepentingan masyarakat lain untuk menegakkan nilai-nilai persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah) menuju persaudaraan berbasis bangsa (ukhuwwah wathaniyyah).

Spiritualitas jelas tidak bertentangan dengan semangat persatuan dalam nasionalisme. Justru keyakinan iman spiritual cinta negara yang memberikan semangat menuju nasionalisme yang menggairahkan, bukan nasionalisme fasis yang destruktif seperti dipraktekkan Adolf Hitler, Caesar dan Napoleon itu.

Nasionalisme yang berakar dalam spiritualitas cinta bukan untuk menaklukkan (agresif), namun mempertahankan diri (defensif). Ia mengarahkan kepada harmoni, menanamkan jiwa asah, asih dan asuh serta penghormatan rahmat perbedaan. Sebab, dalam iman spiritual, perdamaian dan kedamaian adalah hal yang harus dijaga dan dikelola oleh seluruh umat manusia. Dalam sebuah hadits, Nabi pernah mengatakan: "tidaklah kalian disebut beriman kecuali dia mencintai sesamanya seperti kalian mencintai diri kalian sendiri." [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini pernah dimuat di Harian Analisa Medan, 15 Juli 2011.
Advertisement

Klik untuk komentar