Bertemu "Santri Wahabi" Saat Tirakat di Makam Mbah Suryo Kusumo Mejobo Kudus

Foto Makam Mbah Suryo saat ada acara. Sumber: Google Images.
"Kamu yakin yang dikubur itu jasad wali Mbah Suryo, bisa jadi yang ditanam hanya bangkai kirik," ia mengatakan itu karena bacaan bukunya ada yang bercerita tentang makam keramat tapi isinya bangkai binatang.

Oleh M Abdullah Badri

DIA ustadz makhroj. Ngaji Qur'annya bagus. Kutu buku. Keponya tinggi. Mungkin karena pengetahuan yang bejibun, tuduhan mudah dialamatkan kepada orang lain walau hanya asumsi.

Saya sampai sekarang sayang sama dia. Ustadz senior di pondok. Masih jalin silaturrahim. Jujurnya melebih ustadz Yete (Youtube), dan saya kasih inisial dia dengan YT juga.

Dulu, saat masih di persimpangan jalan, dia kagum dengan ustadz-ustadz PKS, salafi-wahabi, karena menurutnya paling sesuai sunnah murojjah (diunggulkan). Dia juga bilang ke saya, bercita-cita di kampung yang anaknya diurus pendidikan oleh partai dan komunitas yang saya sebut di atas.

Padahal, dulu dia adalah alumni pesantren yang dari namanya saja saya merinding mendengarnya: Lirboyo, sebelum pindah ngaji ke Kudus, sepondok dengan saya.

Habis khatam hafalan Qur'an, ia butuh tempat mendaras (Jawa: lalar) agar lancar bacaannya. Entah kenapa dia memilih makam Mbah Suryokusumo, Mejobo, Kudus, sebagai tempat untuk melancarkan bacaan.

Seingatku, dia ke makam itu karena di sana banyak alumni pondok saya yang juga tikarat ngaji lancar. Selain itu, di makam tersebut ada tradisi tawasulan, dimana ada warga hajatan, selalu sedekah nasi berkat dan uang seribu (sebagai syarat, menurut warga).

Uniknya, makam Mbah Suryo tiap hari ada yang datang tawasulan. Santri yang tirakat ngaji di sana, biasanya diminta untuk mimpin doa, walau sekedar al-Fatihah sekali. Lalu, dikasih uang seribu.

Artinya, orang tirakat di situ tidak pernah mikir masak, njajan ke warung, atau kebutuhan harian lainnya. Kebutuhan dicukupi oleh barokah dan karomah Mbah Suryo, dari warga tentunya. Nah, kang Yete ini memilih tempat makam dengan alasan di atas.

Ini belum pas malam Jumat. Yang hampir tidak lekang dari warga yang ingin menggelar selamatan dengan ingkung ayam di sana. Entah untuk hajatan selamatan membangun rumah, sunatan, nikahan anak, syukuran biasa, dan atau seterusnya. Malam Jumat benar-benar barokah di makam itu. Wareg reg.

Saya yang kebetulan berdiam di sana karena perintah khatamkan Qur'an 30 juz tiap hari selama 41 hari, juga ikut merasakan berkah itu. Tirakat tambah lemu (gemuk) ya di Mbah Suryo. Entah sekarang.

Kang Yete ini, waktu itu, tidak menganggap mbah Suryo waliyullah. Bahkan yang paling menyakitkan saya ingat dari beliau adalah ketika ia mengatakan begini:

"Kamu yakin yang dikubur itu jasad wali Mbah Suryo, bisa jadi yang ditanam hanya bangkai kirik," ia mengatakan itu karena bacaan bukunya ada yang bercerita tentang makam keramat tapi isinya bangkai binatang.

Meski tidak meyakini empunya makam adalah shohibu ijazati rasulillah, wal ijazah-ijazatu syafa'ati rasulillah, ia masih mau makan nasi tawasulan Mbah Suryo. Padahal, tawassul baginya adalah syirik.

Dalih agar halal nasi tawasul yang dimakan, dia menyebut sego tawasulan sebagai sedekah biasa. Pertinyiin saya waktu itu:

"Sedekah biasa ya bukan di makam, tapi di luar makam juga banyak," tapi pertanyaan itu dibiarkannya tanpa respon kecuali hanya begini: salah mereka antar ke sini.

Banyak hal dan perdebatan yang terjadi di antara kami. Intinya, saya menyimpulkan, dia mendapatkan manfaat berdiam ngaji di makam, tapi menganggap apa yang selama ini dilakukan warga terkait tawasulan, kirim doa, tak ada guna.

Dia pun biasa mengutip definisi wali yang dalam buku-buku salafi dimaknai secara umum, yakni yang melindungi atau "pelindung". Jika kita melindungi diri perbuatan munkar, kita adalah wali bagi diri kita. Tidak ada istilah al-arif billah, atau lainnya.

Nyuwun sewu kang ye, dulu antum sampai bilang begini: Mbah Suryo sama saya dan kita semua adalah sama di mata Allah. Kalau Mbah Suryo tidak bertaqwa, ya bisa saja masuk neraka seperti kita.

Dengan ilmu, perkataan di atas betul. Bahkan menyihir. Tapi dalam adab, kurang pas. Kalau bicaranya naratif, misal, "yang diperhitungkan Allah dari semua amal manusia hanya satu, yakni Taqwa," nah, itu cocok markotop. Tapi kalau pakai kalimat begitu, ya Allah, sediih rasanya.

Saya hanya menyitir kata Bapak saya kepada kang Yete waktu di makam, kala itu, begini:

"Wong-wong kuwi pada ngamal sesuai hadits, tapi ikhlashnya kurang bisa dirasakan".

Pesan bapak saya almarhum masih saya pegang sampai sekarang. Nemu orang ikhlash itu, dalam pandangan saya sesuai pesan bapak saya adalah: tanpa mempertanyakan dalil rigit dan menyalahkan langsung orang lain karena asumsi.

Beberapa Tahun Kemudian
Kami berpisah sekian tahun. Dari makam Mabh Suryo saya diajak teman bernama Munir untuk kuliah, pakai motor. Dia ngajak ke Jogja. Ketemunya saya temangsang ngaji di kampus, Semarang. Bukan di Solo atau di Jogja.

Kang Yete bertemu saya pas reuni di pondok. Kami saling berpelukan. Lama tak bertemu. Kabarnya dia sudah punya tiga anak lucu-lucu. Dia bilang:

"Aku minta izin namamu kupakai untuk anakku yah dul, karena aku masih ingat kata-katamu di makam Mbah Suryo".

"Soal nopo, Kang?"

"Cita-citaku hidup di lingkungan PKS (atau salafi) sudah terkabul, tapi benar katamu, ikhlasnya kurang. Ngimami jamaah saja dihutung rinci, jadi makmum juga bayaran dipikir," kira-kira begitulah inti perkataan itu, beberapa tahun silam.

Nama putranya kalau diartikan adalah: Muhammad yang cerdas seperti Badri. Tapi nama aslinya, saya simpan yah. Takut dipakai orang lain yang baper status ini. Hahaha [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar