Haram Jabat Tangan Karena Saya Disebut Kafir Olehnya

Tokoh-tokoh paling muslim sejagad raya. Sumber: Google images. 
"Demi menarik pengikut, apapun dilakukan. Katanya, per dapat satu nama didaftarkan, dia akan beri 700 ribu per bulan," kata temanku yang lain.

Oleh M Abdullah Badri

ADA kok yang begitu. Betul ada. Ceritanya begini:

Tahun awal masuk kampus, saya dianggap bukan golongan dua orang yang selalu ramai bahas FPI terus-menerus di grup Facebook. Grup WA saat itu belum sepopuler sekarang.

Saya selalu diasosiasi sebagai anti FPI oleh dua orang tersebut (satunya lagi di cerita berikutnya berjudul: Karena Dia Cinta FPI, Saya Dituduh Kafir Sebelum Disebut Ustadz). HTI saya tidak tertarik waktu itu karena tidak terlalu dominan wacananya di kultur akademis IAIN (sekarang UIN).

Menunggu pengajar yang sedang perjalanan, saya berdiri di lantai dua kelas yang akan dipakai. Karena ingin mengamalkan sunnah, ketemu sedulur, say hello dan saling sapa sudah biasa saya lakukan.

"Sudah ada yang ngajar, mas?" Saya tanya, sambil ulurkan tangan.

Eh, matanya langsung tampak bengong, dahinya berkernyit dan tangan yang saya ulurkan itu tidak disambut, bahkan seperti disemplak (disingkirkan).

"Kamu kafir, haram salaman".

Dueeer.....

"Kafir?"

"Salaman loh iki, ora padu/ Ini salaman loh, bukan bertengkar,".

"Iya, kamu bukan golonganku, yang mengamalkan hadits shohih Nabi, mencintai FPI". Ia menjawab saya begitu sambil membaca buku, kayaknya seputar hadits.

"Ya Allah, mergo kuwi kang/Ya Allah, hanya karena itu, mas?"

Lain waktu, dia ngajak teman-teman asrama untuk acara yang saya dengar sebagai "liqo". Ingin menemui saya katanya.

"Saya antar ustadz saya kang, mau?"

"Ngapain?"

"Ngaji".

"Boleh, tapi selesaikan dulu tuduhanmu soal kafir kepadaku".

"Buktikan saya kafir dengan cara membaca kitab ini". Kitab Kifayatul Akhyar saya kasi ke dia. Kebetulan pas ada di kamar asrama memang itu yang nampak.

"Baca, kasi artinya ke saya, kita pergi ngaji, ke kamu, maupun ustadzmu," tambahku. Kali ini dia sudah mau salaman. Saya sudah kembali dianggap muslim kali yee.

Apa yang terjadi? Dia gemeter, tidak bisa baca, lalu pergi membelikan jajanan buat teman-teman asrama. Lumayaaaan. Hahaha. Modal nantang dengan satu kitab kuning, ada sedekah jajan yang keluar. Alhamdulillah. 

Lain hari, ada teman sebelah kamar yang menunjukkan cara dia menulis bismillah. Ra ono sing bener. (Tak ada yang benar).

"Nulis bismillah saja ruwet, lha kok nuduh kafir orang lain," gumamku, waktu itu.

Beberapa hari tidak nampak. Dia tahu anak-anak asrama adalah santri-santri, - yang paling tidak,- membaca kitab kuning gundul sudah lumayan selesai.

Tahu tidak mempan ngajak ngaji "liqo'an" ke sekitar kampus Unnes Semarang, dia kembali datang, membujuk bolo-bolo (teman-teman) asrama dengan memberi mereka VCD. Entah darimana dia dapat.

"Ya Allah, ternyata isinya video tak pantas," kata teman sebelah.

Saya tidak menyaksikan dia datang karena ia sudah tidak mau bertemu. Di sini, saya jadi kafir lagi kayaknya. Hahah.

"Demi menarik pengikut, apapun dilakukan. Katanya, per dapat satu nama didaftarkan, dia akan beri 700 ribu per bulan," kata temanku yang lain.

Kesimpulanku, dia bekerja untuk mendapatkan massa. Menuduh saudara lain kafir, tak masalah baginya. Yang penting dapat ziyadah (tambahan) dosa, dan itu adalah saldo pulsa akhirat, anggapnya, begitu mungkin.

Inisialnya B. Sekarang katanya sudah balik ke ajaran kiai sepuhnya di Jekulo. Dulu dia ikut jaringan itu karena konon, zaman sekolah, acap dianggap bodoh oleh guru-guru dan tidak bisa apa-apa soal agama. Di kalangan liqo'ers, dia dewa.

Allah yahdik, kang! [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar