Menurunkan Bendera FPI Tanpa Persekusi

Saat sowan ke Ketum Pagar Nusa, Kamis sore (15/02/2018), di PBNU Jakarta

"Oh, mboten kiai, tidak perlu jenengan yang menurunkan bendera itu, cukup saya saja," kiai majelis bergegas memerintahkan santrinya, menurunkan bendera.

Oleh M Abdullah Badri

DI SALAH satu kabupaten yang ada di Jawa Timur, HTI dan FPI bisa mendapatkan simpati lumayan karena ada pimpinan majelis dzikir bermassa besar, ikut menyediakan panggung kedua ormas tersebut.

Bendera FPI senantiasa terapasang di atas, berkibar setiap saat. Padahal itu bukan markas apalagi lapangan latihan para militer anggota ormas itu.

Karena sudah meresahkan, salah satu pendekar Pagar Nusa merasa prihatin. Beliau datang sendirian, tanpa kawalan. Ia setir mobil sendiri, tanpa pendekar Pagar Nusa lainnya, yang jika mau menggeruduk, jumlahnya bisa ribuan pendekar.

Beliau yang sudah pendekar ini (soal siapa yang disebut pendekar, nanti saja di ulasan berikutnya), datang tidak dengan melabrak, mencaci-maki atau persekusi. Beliau sowan laiknya tamu, yang harus tunduk pada aturan tuan rumah.

Al-dhoif kal mayyit (tamu itu ibarat mayat), tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tuan rumah yang mulosoro (meruwat dan ngrumat). Tapi, di sisi lain, al dhoif kal malik (tamu adalah raja), yang sudah sepatutnya dihormati tuan rumah.

Pendekar Pagar Nusa yang sowan ke ndalem sang kiai tersebut harus "ngesot" untuk sampai ke hadapan tuan rumah. Ia menundukkan wajah, bahkan mulai sejak masuk pintu pesantren kiai majelis tersebut.

"Kiai, ijinkan saya sowan jenengan untuk ikut berbakti," kata kiai pendekar kepada kiai majelis. Masih dengan menundukkan kepala.

"Nggeh, ada keperluan apa kiai, datang ke majelis ini?" Kira-kira begitu jawaban kiai majelis tersebut, dalam dialognya.

Masih dengan menunduk, kiai pendekar itu menunjuk tangan ke atas sambil mengatakan, "nyuwun sewu, saya harus menurunkan bendera yang ada di atas itu, atau jenengan yang menurunkan?"

Ada bendera FPI yang berkibar di atas gedung pesantren majelis.

"Oh, mboten kiai, tidak perlu jenengan yang menurunkan bendera itu, cukup saya saja," kiai majelis bergegas memerintahkan santrinya, menurunkan bendera.

Mereka berdua akhirnya ngopi bareng. Bendera itu pun sampai sekarang tidak pernah berkibar di atas majelis tersebut. Mejelis tetap jalan, warga tidak resah.

Cerita ini saya dapatkan dari Ketum Pagar Nusa (PN) NU, Gus Nabil Haroen saat saya "digeret" untuk "dikasi" kaos PN di kantornya, Jl. Kramat. Hehe. Suwun gus! [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar