Karaoke di Makam “Sunan Muria”


SAYA diajak oleh seorang teman untuk ziarah ke Makam Sunan Muria dengan menaiki kendaraan ISUZU berkapasitas puluhan orang. Duduk di paling depan, samping kiri sopir, yang ternyata saya kenal. Saya memanggilnya “Mas Bay” karena sering bantu banyak urusan. “Bay” itu ambilan dari kata baik.

Di belakang saya terlihat perempuan yang ternyata juga saya kenal. Saya biasa memanggilnya “Ning Ila” karena konon dia anak kiai keturunan raja Jawa. Aslinya Ning Illa Anta Nisa. Cari sendiri nama akunnya di Facebook dan Instagram. InsyaAllah ada.

Dalam perjalanan ISUZU dengan penumpang penuh, Ning Ila ini sempat menyodori makanan rempeyek seperti buatan ibu saya. Cuma, saya rasakan kok sudah mlempem. Alias kelot-kelot. Tak enak makan. Tetap saya terima karena itu pemberian.

Sementara, Mas Bay saya lihat kok seperti kelebihan beban nyetir ISUZU naik ke pegunungan muria. Beraaat banget nahan setir. Kendaraan jadi lambat bergerak. Yang kuatir hanya saya. Lainnya terlihat santai di belakang sambil makan rempeyek mlempem.

Sampai ke terminal, Mas Bay nyetir muter mencari tempat. Ternyata yang jadi juru parkir saya juga kenal. Setahu saya dia seorang Gus yang punya pengaruh di Jawa bagian Pantura. Gus itu menyilakan saya dkk. masuk ke gerbang makam.

Saat Mas Bay nyetir muter masuk gerbang, lagi-lagi, kelihatan berat membawa beban. Sang Gus (saya tak mau sebut nama), kok terlihat bawa ember seperti akan mencuci lantai makam. Kami turun, ember ditaruh samping gerbang. Menyilakan lagi kami masuk.

Gang makam yang kami masuki terlihat sempit. Seukuran 5 meter. Pas se-awak gedhe bus pariwisata saja. Tapi itu makam “Sunan Muria” kata Gus. Mas Bay menyalakn rokok. Tidak meminta kami langsung ke makam, malah ngajak karaoke.

“Eh, mas iki makam loh,” kata saya.

Seketika saya bangun, sekitar jam 09.10 WIB pada Selasa, 5 Juni 2018. Mau nulis status ini, listrik mati. Lanjut nulis habis Maghrib.

Saya baru sadar, mosok ke Muria pakai ISUZU. Ada tah? Kalau ada ya memang ngos-ngosan. [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar