Jika Islam Nusantara Masih Menjajah Pikiran Anda


Oleh M Abdullah Badri
LTN NU Jepara

SEJAK muncul jadi tema Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015, Islam Nusantara sudah menuai pro dan kontra. Isunya muncul dan tenggelam mengikuti perkembangan NU yang semakin dibaca sebagai penyangga perdamaian dunia.

Jika ada kiai NU menyebut jenggot goblok, NU ketahuan kerjasama dengan lembaga AIDS, Banser NU jogetan/jaga gereja, atau habaib dari NU ziarah ke makam yang dirias seperti pengantin, langsunglah Islam Nusantara disalahkan sebagai penyebab. Padahal, sebelum 2015 saja sudah ada.

Islam Nusantara paling sukses dibahas dari majelis ngopi hingga majelis ngaji para kiai, santri, akademisi, dll. Dan isunya selalu diputar-putar dengan tuduhan sebagai jelmaan Jaringan Islam Liberal (JIL), singkretis, penuh kesyirikan atau dituduh agama baru yang tidak mengakui Islam nya Kanjeng Nabi. Duh gusti, kok cupet tenan!

Menyamakan Islam Nusantara dengan JIL sampai menyebutnya dengan Jaringan Islam Nusantara, distigma dengan sebutan JIN, ya jelas kontradiktif. JIL itu dulu ingin memisahkan Islam dari tradisi. Setidaknya menurut kalangan yang kontra. Sementara, Islam Nusantara justru memperkuat tradisi dan bahkan menjadikan tradisionalisme sebagai peneguhan identitas kultural. Kalau disamakan dengan Postradisionalisme Islam ya lebih cocok.

Begitu pula menyebut Islam Nusantara sebagai agama, seperti ditulis seorang jurnalis dari Sidoarjo yang mengaku NU tapi tidak paham kapan dijadikan tema Muktamar NU, juga beropini ngawur bin semrawut. Tepuk jidat saja jika Islam Nusantara disebutnya agama “made in Indonesia”.

Khusus soal Islam Nusantara yang dituduh sebagai agama mandiri, yang dituduh terpisah dari Islam, agaknya muncul ke permukaan lagi dalam rangka menyerang KH Yahya Cholil Staquf pasca kedatangannya ke Israel.

Dalam sebuah video diskusi lesehan di Pati, Gus Yahya menyatakan "Islam kita ini Islam yang sejati”. Tapi oleh jurnalis yang ngaku NU tadi, kalimatnya diganti begini: "Islam Nusantara adalah agama yang sejati, sedangkan Islam Arab itu adalah agama penjajah". Innalillah, sangat mengaburkan.

Dari pemelintiran itu, dia mengambil kesimpulan sembrono bahwa siapa saja yang mengakui Islam Nusantara, batal keislamannya. Logika berpikir dia seolah menyatakan bahwa Islam Nusantara itu meminta pengakuan (syahadat) seperti Lia Eden dan nabi palsu Mushaddiq yang meminta diakui sebagai pengganti Nabi Muhammad, dan yang mengakuinya dijamin surga.

Islam Nusantara jauh dari pemahaman rigit demikian. Apalagi menggunakan kata “diproklamirkan”, laiknya Ahmadiyah. Jelas menyesatkan cara berpikirnya.

Dia tidak paham kalau Ketum PBNU, KH Said Aqil Siraj, pendorong Islam Nusantara jadi tema Muktamar NU di Jombang adalah sosok yang justru men-insyafkan Mushaddiq dan akhirnya kalah debat hingga harus mau tobat mengakui kembali Kenabian Nabi Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Dia tidak paham bahwa Islam Nusantara itu hanyalah diskursus tentang tipologi Islam di Nusantara, yang jelas merujuknya ya Al-Qur’an dan Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Islam Nusantara tidak bisa disebut agama, apalagi agama baru di luar Islam. Pasalnya, untuk membuat agama, dibutuhkan seperangkat kitab suci baru, nabi baru, ajaran baru, syariat baru dan misionaris berjibun untuk mendapatkan pengakuan.

Yang baru dalam Islam Nusantara itu hanya istilahnya, kemasannya. Seperti NU, yang jadi wadah bersama penerus Walisongo menegakkan ajaran ahlussunnah wal jamaah. NU nya baru, ajarannya sama. Apakah NU berdiri lalu disebut agama? Ya innalillahi kalau berpikirnya begitu. 

Yang Istimewa dari Cara Berislam Kita
Gus Yahya menyebut Islam kita ini, Islam Nusantara sebagai agama Islam yang sejati semata-mata karena sejarah datangnya Islam di Nusantara faktanya bukan sebagai penakluk, dan faktanya lagi sangat berbeda dengan keberhasilan metode penyebaran Islam di Arab dan anak-anak peradabannya, yang datang sebagai penakluk. Ini fakta.

Dan fakta sejarah di atas, dalam diskursus Islam Nusantara, disebut istimewa. Karena itulah Kiai Said menyebut Islam Nusantara sebagai maziyyah (keistimewaan), bukan agama. Apakah JIL dulu meyakini Islam sebagai maziyyah? Ya tidak ada kamusnya. Lha wong semua agama menurut JIL benar kok. Setidaknya menurut penafsiran Pak Dhe Nono (Hartono Ahmad Jaiz).

Jadi, menyamakan Islam Nusantara dengan JIL lalu menyebut Islam Nusantara sebagai agama adalah bias konsep sejak dari hati dan pikiran. Yang lebih bias adalah mereka yang menganggap Islam Nusantara akan menyuburkan kemusyrikan. Dan tuduhan ini datangnya, rata-rata, dari golongan Islam aliran kathok congklang (alkacong). Ini istilah saja. Jangan baper menyebut istilah ini asli Nusantara. Tipologi saja kok.

Kepada Alkacong ini, jika antum mau bahas apapun, kalau datangnya dari NU, akan dia kenai dalil golongan kuburiyyun. Islam Nusantara yang dominan membahas moderatisme Islam dan kosmopolitanisme Islam saja masih kena dalil anti kubur kok. Dianggapnya, istilah Islam Nusantara akan menjatuhkan diri pada kemusyrikan karena membolehkan jaga gereja, doa bersama dengan umat lain, kepemimpinan non muslim, dan lainnya.

Lihatlah, ujung-ujungnya hanya bermuara pada tafsir mereka sendiri. Padahal, dalam Islam Nusantara, diskursus para santri tidak membahas itu. Bolo-bolo ngopi saya, ketika asyik bincang Islam Nusantara, ghirah mereka malah dominan ngaji kitab kuning karya ulama Nusantara (turost), sejarah pegon, pemikiran bijak ulama di daerah, hingga bagaimana menyelesaikan problem prostitusi di daerah setempat dengan cara yang elegan, damai dan menang tanpa ngashorake.

Hal-hal dianggap musyrik sudah selesai dibahas oleh ke-Aswaja-an, yang banyak membicarakan hujjah amaliyah Nahdliyyin Nusantara. Islam Nusantara, dalam forum kami, sudah membicarakan peradaban, kebudayaan, dan bagaimana bicara perdamaian di tingkat dunia.

Jadi, Islam Nusantara itu tidak dominan membicarakan Islam yang paling yes dalam bergumul dan damai dalam berislam. Lebih dari itu, Islam Nusantara membentuk kesadaran bersama bahwa kita ini manusia. Bukan muslim saja. Mengapa? Karena basis ngajinya adalah ukhuwah wathaniyah, ukhuwah bayariyah, ukhuwah insaniyyah. Bahasa Gus Yahya menyebutnya sebagai “Islam yang datang dan meresap begitu saja di tengah-tengah masyarakatnya, hidup bersama dengan yang lain". Islam yang datang tanpa penaklukan militer.

Perbedaan Islam Nusantara dengan Islam yang menyebar dan hidup di Timur Tengah ya di sini. Makanya, Islam Nusantara dikampanyekan Kiai Said sebagai cara berislam, bukan sebagai entitas agama baru. Agar Islam dibaca dan diresapi lebih dalam, lebih dalam lagi, sebagai agama rahmah. Inilah yang menurut Muhammadiyah disebut dengan sebagai Islam Berkemajuan, yang kemudian oleh PKS dipakai dalam sistem sekolah: Islam Terpadu (IT). Setidaknya menurut opini saya.

Jika Islam Nusantara masih menjajah pikiran Anda, hingga mengikuti arus “ikut mengutuknya”, mungkin para Walisongo tidak ada dalam kamus Anda sebagai penyumbang terbesar atas tersebarnya Islam di Nusantara ini. Tobatlah. [badriologi.com]

Sumber: Abdalla Badri
Advertisement

Klik untuk komentar