[Keramat] Ziarah ke Makam Pulau Panjang, Ini Doa Anti Radikal Jepara Aman -->
Cari Judul Esai

Advertisement

[Keramat] Ziarah ke Makam Pulau Panjang, Ini Doa Anti Radikal Jepara Aman

M Abdullah Badri
Senin, 27 Agustus 2018
Flashdisk Ebook Islami

Jual Kacamata Minus
Makam Sayyid Abu Bakar Pulau Panjang, Jepara

SAYA dengan istri Alhamdulillah selalu mendapatkan alarm jika sudah lama tidak ziarah. Jika lama tidak ziarah ke Mantingan atau ke makam-makam auliya’ yang biasa saya jadikan tabarruk dan tawassulan, istri saya akan mendapatkan isyaroh untuk ngajak ziarah. Lewat mimpi, hatif, atau bahkan keinginan kuat tak tertahan. ‘

Nah, saat-saat UAS menjadi trending topic medsos Facebook di Jepara, Jumat (24/08/2018) lalu, istri sudah minta jalan-jalan dan ziarah karena dapat isyaroh. Kalau tidak segera saya laksanakan, isyaroh akan datang bertubi-tubi. Saya baru menyanggupi pada Ahad (26/08/2018) siang.

Saya ajak ziarah ke Sayyid Abu Bakar di Pulau Panjang. Nyebrang cukup 20K perorang. Masuk parkir pantai Kartini nya yang lumayan mahal, 20K per kendaran roda dua. Ada dangdutan akhir pekan alasannya.

Hanya 15 menitan saya sekeluarga mendarat di Pulau Panjang. Naik perahu berkapasitas 20-an orang. Untuk masuk, harus bayar 5K perorang. Ini untuk kelima kalinya saya ke Pulau Panjang. Dan ketiga kali-nya bersama anak-istri.

Karena tahu Pulau Panjang pantainya panas, kurang asyik buat anak-anak bermain, istri saya minta langsung ziarah saja. Praktis hanya beberapa saat saja saya di Pulau Panjang. Ia ingin ajak anak-anak main di Pantai Kartini saja, yang lebih adem.

Saat balik ke Pantai Kartini inilah, saya baru nyadar apa yang terjadi saat saya ziarah tadi. Kalau bukan istri saya yang cerita, saya tidak menulis cerita ini.

Biasanya, saya menjauhkan diri dari niat apapun ketika ziarah, kecuali nyambung roso dan menambah mahabbah kepada Kanjeng Nabi Muhammad lewat shohibu ijazatir rasul, auliya’ilAllah. Hanya itu ditambah kirim Fatihah kepada orangtua, mertua, anak, adik-adik, hingga ipar dan utamanya guru-guru saya. Habis itu balik.

Cuma siang itu, hati saya tiba-tiba saya mengucap doa yang selama ini tidak pernah saya lafalkan bahkan ketika saya diminta memimpin doa sekalipun. Doanya aneh, tapi sangat saya rasakan hingga cukup lama, kata istri saya, tak rampung-rampung berlinang air mata. Ini doa yang saya ingat, saya ucapkan dalam Bahasa Jawa:

Ya Allah berikan kami iman dan aman!
Ya Allah NKRI aman!
Ya Allah paringi Jeporo aman!
Ya Allah paringi Jeporo amin!
Ya Allah jauhkan Jeporo dari figur pemecah belah NKRI!
Ya Allah jauhkan Jeporo dari konflik!
Ya Allah jauhkan Jeporo dari penceramah dan pengkhotbah yang merusak mahabbah kepada Rasulullah!
Ya Allah jauhkan bumi Jepara dari penceramah yang pernah menghina Rasulmu!
Ya Allah teguhkan Jepara sebagai bumi Aswaja!
Ya Allah Jeporo aman!
Ya Allah Jeporo amin!

Intinya, ketika itu saya mendoakan tanah Jepara bak seorang yang memiliki wewenang laiknya Bupati. Padahal blas tak terpikirkan ketika wudlu maupun saat akan berangkat ziarah.

Cerita istri saya, saat saya menangis tak melihat kanan-kiri itu, semua jendela di sebelah kanan, kiri dan belakang saya, menutup dengan sendirinya. Saya terus sesenggukan karena dalam pikiran saya waktu itu, tertutupnya jendela mungkin karena angin gedhe atau ditutup sendiri oleh orang lain atau penjaga.

Ternyata tidak ada yang menutup. Angin juga biasa. Tidak seperti angin laut di seberang pantai. Istri saya lingak-linguk, “nutup jebles sendiri semua jendelanya sampai gelap gitu kok,” terangnya ke saya waktu sudah di Pantai Kartini.

Malamnya, pas ikuti pengajian di Bate, saya dengar kabar banyaknya masyayikh NU di Jateng dan Jatim yang istikharah (kalau saya sebut Anda kenal semua), dimana hasilnya: Nusantara sebentar lagi akan mengalami konflik horizontal. Dan Jepara bagian dari titik yang akan digarap. Ya Allah, semoga tidak.

Beberapa hari saat viral pertama status saya soal UAS akan ke Jepara, seorang “Densus” menelepon agar saya ikut mencegah mulai digarapnya wilayah Pantura Jawa sebagai basis gerakan “radikal” berbasis agama. “Jepara sudah bobol, kawal!”.

Ndoro Habib Abu Bakar wali Pulau Panjang sudah memperingatkan saya via isyaroh pas ziarah. Semoga tertutupnya jendela di makam adalah jendela terbukanya Jepara amin dan aman untuk umat manusia! Ada 500 lebih makam auliya yang pernah saya list. Yang lain silakan ziarah untuk Jepara aman! [badriologi.com]
Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha