Muncul Paramiliter Gagah dari Al-Husna Untuk UAS

Paramiliter Al-Husna untuk pengamanan UAS
YANG belum mengetahui apa itu paramiliter, nih simak: kekuatan semi-militer yang struktur organisasi, taktik, pelatihan, subkultur, dan (seringkali) fungsinya serupa dengan militer profesional, namun tidak dimasukkan sebagai bagian dari angkatan bersenjata formal suatu negara (Wikipedia).

Nah, untuk menghadapi risiko UAS yang kata polisi aman (tinggal sluntur), Al-Husna Mayong sudah siap menyusun paramiliter yang diberi nama “Pasukan Khusus” Santri Mayong. Banser tidak turun, Kokam tidak turut pengamanan, polisi dan tentara pun didatangkan untuk melatih khusus para Pasus itu. Keren kan?

Tidak main-main, Pasus yang diseragami oleh Ust Mudhofar dari Al-Husna itu ada ratusan. Berseragam khas semua. Tertib rapi dari bawah sampai atas. Yang melatih adalah tenaga profesional dengan seragam dinas. (Lihat foto). Ente tak jamin ra bakal kuat mbayar bro!



Cuma, para Pasus Al-Husna itu beda dengan UAS Team yang datang ke Bumi Mayong dengan atribut kontroversial ormas terlarang, HTI. Lumayan aman lah. Tapi kanggo opo? Segenting itukah Jepara lalu Pasus dikreasi?

Katanya permintaan pengamanan acara ke polisi dan Polda sudah di-ijabah-i, kok ndadak pakai ada Pasus. Terus polisi pasukan apa Ustadz? Kalau untuk keren-kerenan, Ust Mudhofar berhasil membuat terma yang mengalahkan kegagahan Banser dan Kokam.

Baca:

NU tawadlu’, hanya menggunakan kata “barisan” untuk paramiliter-nya bernama Barisan Ansor Serbaguna (Banser), dan Muhammadiyah menggunakan kata elegan “siap-siaga” dengan nama satuan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam). Al-Husna lebih gagah pakai nama “pasukan” dan “khusus”. Atasannya mungkin “pasukan khos” dan “khowashul khowas” kali yee. Hehe.

Saya berdoa semoga tugas khususnya bukan nyelonong ke panggung pengajian yang dia tidak diundang. Repot kalau sampai begitu. Saya berharap pula Pasus itu punya tugas kehormatan khusus masak, macak dan manak. Ups!

Harapan saya tidak berlebihan. Jepara sudah trauma dengan tragedi konflik Dongos 20 tahun lalu yang memakan puluhan korban. Dulu ada kelompok Shadiqo (yang benar) yang diplesetkan jadi Sadigo (salah dikit gorok). Dan karena konflik itu, 20 tahun NU di sana tidak ada yang ngurus. Mesakke Jeporo bila banyak titik pasukan dibuat tapi tidak ada kaderisasi yang jelas soal NKRI.

Cukuplah barisan Sadiqo jadi pembelajaran. Janganlah asal buat Pasus jika sistem kaderisasi berlanjut dan berjenjang tidak ada. Risiko dipakai oknum dan ditumpangi kepentingan sangat mudah. Kalau hanya buat seragam untuk gagah-gagahan, ya silakan tunggu, apa yang akan terjadi padanya dan apa yang dilakukan selanjutnya. Jeporo aman, Jeporo amin! [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar