Cara Menghadapi "Persekutor" Somader di Facebook

Para persekutor ilustrasi. Foto: istimewa
PAGI-pagi (03/09/2018), saya "dipersekusi" lewat komentar di wall Facebook pribadi. Begini cara saya menghadapinya. Saya susun bentuk dialog yah, biar enak dibaca:

========================

SI DO'I: 
- Besok-besok, yang di demo, yang diusir tuh, bukan ustadz yang mau berceramah. Yang perlu diusir tuh orang-orang yang mengadakan orkes apalagi sampai ada goyang erotis. Itu yang harus diusir. Yang dapat merusak generasi bangsa dan umat.

- Kita kan orang cerdas. Pasti bisa memilah memilih ceramah yang santun, yang patut di dengar dijadikan ilmu dan pelajaran. Ceramah yang buruk ditinggalkan atau diabaikan.

- Jadilah manusia yang cerdas dan bermanfaat, bukan saling membenci atau menebar fitnah, yakin, apa yang kita lakukan sekarang itu diterima sama Allah?

- Orang yang beragama Nasrani aja bisa hormat menghormati kepada para ulama kita, tapi kenapa kita tidak sesama umat muslim. Kalau pingin jadi pejuang agama, bantu rakyat Palestina, di sana akan merasakan jihad yang sesungguhnya.

- Terimakasih dan salam santun. Maaf jika salah kata. Manusia tempatnya salah.
Dan kita manusia harus saling meluruskan. Jadilah manusia yg bermanfaat untuk org lain.

SAYA: 
- Iya, saya maafin (yang saya respon hanya paragraf terakhir).

SI DO'I:
- Itu Mas Badri baca yah, dipahami kata-kata saya.Besok kalau ada orkes, langsung usir ya. Saya tunggu loh kemajuannya dalam melawan kekafiran. Oke.

SAYA:
- oke. Usiiiiiirrrr. Nah, sudah. Okey! Hehe.

SI DO'I:
- Ngomong aja mah gampang. Saya juga bisa kalau ngomong doang begitu.

SAYA: 
- Wkwkwkwkwkwk

=========================

Singkat, padat, tanpa emosi, selesai cepat dan berakhir bahagia. Hahaha.

Jadi, menghadapi persekutor itu pakai logika Gus Dur mawon, "gitu aja kok repot". Tidak perlu memotong pernyataan saya seperti dikutip oleh media swalanacional dot com itu. Masa' untuk mempersekusi saya harus pakai emosi dan bo'ong-bo'ongan bikin berita sih. Nesu yah? Hahaha.

Pentingnya memakai tanggapan singkat, padat dan cepat selesai itu karena mau dijelasin apapun SI DO'I-nya, jelas sulit buka mata buka telinga. Sesulit menerangkan makna Islam Nusantara yang di-mbregudul-i mereka dengan tuduhan agama baru. Sesulit pula menjelaskan kepada mereka kalau tagar #2019GantiPresiden setelah ada nama capres dan cawapres. Gerakan mereka ini, saat ini, sudah sah disebut makar. Mau ganti presiden dengan khalifah? Mana khalifahnya?

Ngapain dijelasin pula pakai nyuruh saya ngusir tari erotis di Jepara? Lha wong Ansor Jepara juga sudah pernah mengutuk keras tari erotis di Jepara kok. Mau nuntut lagi harus ke Palestina untuk membuktikan kualitas saya melawan kekafiran? Ah, ane mau jelasin ancum soal Hamas dan Fatah mana mau dengar. Tahunya Yahudi vs Islam saja kan? Hahahaha.

Gus Yahya sudah ke Israel, sudah diterangkan pula untuk memperjuangkan Palestina, dan hasilnya juga bagus; Masjid Al-Aqsha kini dibuka kembali untuk umat Islam. Apa di DO'I dan mereka-mereka itu mau mendengar dan memahami penjelasan itu? Tidak bukan? Mereka sudah terbukti tidak peduli dan terus terus menggoreng isu anti Gus Yahya hingga gosong. Ya terpaksalah, yang waras harus begerak.

Mau kejar lagi, Banser harus ke Papua? Kon iki koyo opo seh! Di Papua sudah ada TNI bersenjata. Melawan mereka harus dengan senjata pula. Kalau melawan HTI ya dengan counter propaganda. Jika Banser disebut cemen hanya karena "propaganda bubarin ngaji", lalu menyuruh Banser dan Pagar Nusa harus pergi "perang" ke Papua, lak yo malah dibedil-i polisi duluan sebelum TNI, karena jelas dianggap melanggar undang-undang menggunakan senjata ilegal. Banser itu paramiliter sipil, santri yang manut kiai. Bukan aparat yang berwenang mbedil manuk-e wong. "Melek matamu?" Kata Sugi Nur Raharja. Hahaha

Mau jelasin kalau tidak ada tragedi pengusiran, tidak ada ancaman, tidak ada penolakan atas sosok penceramah, sampe ndubleg nulis dua jam pun, mereka tidak akan mau mendengarkan.

Sesulit di DO'I dan mereka kala mbudeg diterangkan kalau Islam Nusantara bukan madzhab, apalagi agama. Sesulit menjelaskan pula kepada mereka bila gerakan #2019GantiPresiden adalah inkonstitusional. Serumit utek memeras kata menerangkan bahwa Gus Yahya yang ke Israel untuk kepentingan Pelestina, bukan yang lain.

Di bawah ini, saya sertakan video pernyataan sikap Ansor Jepara atas tari erotis April 2018. Saya tidak yakin mereka meng-klik dan menonton, apalagi mereka terima sebagai kenyataan. Terlalu sakit mungkin jika mereka melihat kenyataan bahwa Ansor sangat ber-nahi munkar dan ber-amar makruf juga di Jepara.

Sebaliknya, mereka mungkin akan lega jika Ansor dan NU disebut media minhum dengan label-label miring. Lha memang mereka ini bukan sembarang orang kok. Mereka ini makshum.

Pokoknya, saya yang salah, dan mereka tidak boleh saya kritik. Kesalahan hanya milik saya. Kebenaran hanya ada pada mereka. Mereka tidak pernah meminta maaf walau sudah menghina Nabi. Kitalah yang disuruh meminta maaf karena sebuah profile yang tersiar luas.

Mereka tidak mewajibkan diri sebagai yang punya khilaf. Kalau perlu, hantam balik saya walau muter-muter nuduh PKI, anak haram, pemakan barang haram, liberal, komunis, syiah. Ora nyambung dengan konten yang saya tulis.

Begitulah cara kerja para persekutor di wall Facebook saya beberapa hari terakhir. Maka, counter balik saja dengan cara Mbah Wahab ketika menghadapi golongan wahabi dan syiah bertemu dalam satu forum, dan hampir bengkerengan. Cara itu adalah guyon, jangan ambil hati. Lanjutkan!

Kata Abah Luthfi: santri ki kudu ndableg sitik barang, tah! Begitu. [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar