Lelahnya Menghadapi Aborigin Australia

Jagong gayeng dengan Gus Iid soal Aborigin Australia, Jumat (07/09/2018) malam di Rumah Abah Luthfi
TENGAH menunggu waktu sowan Abah Luthfi bin Yahya Pekalongan, saya asyik ngobrol dengan Sekjend PP Matan (Pengurus Pusat Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah), Abdul Rasyid, alias Gus Iid (Jombang), cicit Mbah Kiai Bisri Syamsuri dari Bani Kiai Ahmad.

Usai lebaran kemarin, ia baru pulang dari Australia. Studi selama dua tahun di sana. Pada Jumat Kliwon (07/09/2018) itulah saya baru bertemu kangen setelah pisah selama dua tahun. Cerita ngalor-ngidul soal pertemuannya dengan orang Aborigin.

Mereka adalah penduduk asli Benua Australia (Ausi) dan kepulauan di sekitarnya, yang juga mencakup Tasmania dan kepulauan selat Torres. Di tanah sendiri, mereka dianggap sebagai warga kelas dua. Oleh konstitusi negara yang kini dipimpin Tony Blair tersebut, sebutan kelas kedua masih tertulis. Meski bukan kulit putih, bahasa keseharian mereka adalah Inggris.

Saat ditanya apa cita-cita mereka, tidak ada yang punya hasrat menjadi profesional. Mereka ingin menjadi seperti orangtuanya, yang tidak bekerja tapi digaji oleh pemerintah. Pengangguran di Ausi memang digaji sesuai standar hidup, di angka 15 juta (jika dirupiahkan).

Mereka ini tidak takut dengan aturan normatif hukum pemerintah yang ada. Cerita Gus Iid, saat generasi anak-anak Aborigin pernah dihalangi masuk ke mall karena membuat keramaian yang tak terkendali, polisi Ausi dikasi telunjuk jari tengah, tanda melawan dan tidak peduli.

Polisi tak berkutik, dan akhirnya membiarkan semua terjadi apa adanya, meski sebetulnya cukup menggemaskan. KH Nadirsyah Hosen (Gus Nadirsyah), Rais Syuriah PCI-NU Australia - New Zeland pun pernah bersentuhan dengan mereka. Di Ausi, profesi Gus Nadirsyah adalah pengajar perguruan tinggi.

Loss Generation

Ceritanya, saat mereka main sepakbola di lapangan, tiba-tiba bolanya mengenai bagian rumah Gus Nadirsyah. Bola diambil dan dikembalikan Gus Nadirsyah kepada mereka. Namun, setelah bola di tangan, mereka bukannya langsung balik malah mengambil mesin potong rumput se-enaknya.

Kontan saja hal itu dilaporkan ke polisi setempat. Tapi apa jawab polisi? Mereka meminta membiarkan saja apa yang telah dilakukan generasi muda Aborigin itu. Polisi lelah menghadapi mereka.

Kata Gus Iid, jika salah satu anggota Aborigin dicekel polisi, satu kompi suku akan menggeruduk lengkap ke markas. Padahal, mereka ini tinggal jauh dari pusat kota dan memang hidup bersama alam. Bagi mereka, Australia adalah tanah nenek moyangnya. Jadi dianggap sah mengambil barang apapun tanpa restu siapapun.

Bagi pemerintah setempat, suku Aborigin dianggap tidak berperadaban dan berpendidikan. Karena itulah, Ausi pernah memiliki kebijakan "nyulik" anggota suku untuk disekolahkan hingga perguruan tinggi. Disebut dengan kebijakan "loss generation". Generasi hilang.

Suku Aborigin yang berpendidikan tinggi dianggap hilang karena pengalaman dan pengetahuan mereka jadi timpang dengan generasi di suku aslinya, yang tidak mau sekolah dan bergaul dengan tradisi teknologi urban kota. Mereka jadi linglung.

Di kalangan Aborigin, ia tidak diterima karena sudah "murtad" dari asal sukunya. Sementara di kota, masyarakat kulit putih, ia juga tidak diterima karena berasal dari suku Aborigin. Kabijakan ini sudah dihapus mengingat akibat yang ditimbulkan itu.

====

Soal Aborigin ini, saya jadi ingat mereka yang tidak membaca konten status saya yang tiba-tiba menyerbu dengan semua jenis sukunya. Ribuan akun. Mereka tidak berpendidikan. Mau dididik dengan pencerahan dan kritik saya yang khas esai pun, mereka tak peduli. Pokoknya asal nyerang. Binatang yang mereka peli-hara di hutan harus dibawa-bawa pula ke kolom komentar status kritis saya.

Saya khusnudzon, mereka ini bukan suku asli Indonesia. Tapi bagian dari Aborigin secara jinis (jinsiyyan), bukan Aborigin biologis (dzatiyyan). Terdidik secara terbatas di hutan medsos, mereka menganggap semua yang saya tulis adalah fitnah dan hoax. Saya tidak boleh ber-opini. Hanya mereka lah yang berhak dan boleh demikian.

Karena menjadi loss generation, kelompok ini tidak paham sejarah. Mereka hanya paham kalau royah bukan simbol. Royah disebutnya sebagai simbol Islam. Lha kok cupet. Karena kehilangan obor, mereka anggap Indonesia aman dari gerakan makar Hizbut Tahrir.

Sayangnya, mau "murtad" sebagai bangsa Indonesia tidak mau, tapi hendak menerima Indonesia sebagai negara Demokrasi dengan Pancasila-nya, mereka ogah-ogahan. Makhluk mogol memang linglung. Maka, komentarnya laiknya lutung yang mutung. Hahaha. [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar