Memilih Bulan dan Hari yang Baik Untuk Akad Nikah

bulan bagus menikah tahun ini

Oleh M Abdullah Badri

WALAPUN menikah adalah masalah tanggungjawab kedua mempelai, namun, bagi kebanyakan orang Jawa, memilih tanggal baik menikah hendaknya tidak disepelekan. Fenomena pemilihan hari baik masih jadi trend utama bagi mereka yang akan melangsungkan akad nikah. Tak di desa, tidak pula di kota. Akad nikah hanya sekali seumur hidup (bagi yang tidak berkehendak poligami). Di sana ada sakralitas, kenangan hidup dan sejarah pasangan yang paling diingat.

Bahkan, banyak kok yang meyakini pemilihan hari baik akan menentukan nasib rumah tangga di kemudian hari. Utamanya soal rejeki, keturunan dan martabat suami-istri di masa depan.

Saya punya cerita menarik. Seorang perempuan bercerita dirinya pernah disukai oleh anak seorang ulama' atau kiai desa setempat. Ia tahu kalau putra sang kiai itu (gus) mencintainya. Namun ia tidak pernah mendengar langsung bahwa anak kiainya itu mencintai dan bermaksud menikah. Artinya, dia belum pernah ditembak nyatakan cinta oleh si gus itu.

Beberapa bulan kemudian, seorang laki-laki datang ke orangtua perempuan perawan itu untuk menyatakan minat dan ketertarikannya mempersunting sang gadis. Karena anak sang kiai itu tidak ada kejelasan, hanya menyebar rumor-rumor yang akhirnya berkembang sampai ke telinganya, maka si gadis dengan tanpa beban menerima pinangan jejaka itu.

Kini, tinggal penentuan hari nikah. Si gadis datang sowan (silturrahim) ke kiai yang jadi guru di kampungnya itu untuk meminta pertimbangan, nasihat baik dan sekaligus meminta hari baik.

Pernikahan sudah dilakukan. Kini, si gadis dan jejeka itu jadi sepasang suami-istri. Tetapi, sejak saat itu, hidupnya seperti berubah total. Usaha orangtua si gadis bangkrut. Segala jenis usaha yang dilakukan oleh suami, gagal terus sebelum mencapai puncak. Mereka baru memiliki rumah reot setelah anak pertamanya berusia belasan tahun.

Bulan Bagus Menikah


Hingga memiliki menantu, mereka tidak punya papan tidur yang layak kecuali hanya sebuah kasur yang digunakan tidur tiga orang anaknya setiap hari. Beruntung sang menantu sabar mau tidur bersama istri, mertua, dan dua iparnya dalam satu kasur tipis, yang kala hujan, genteng rumah berserakan, air menggenangi sisi-sisi kasur, yang hanya bisa ditahan dengan plastik yang biasa digunakan bertani ke sawah, lalu tidur.

Karena kemiskinan yang menjerat, putra terakhir dari pasangan gadis dan jejaka itu meninggal akibat penyakit yang tak mampu diobati. Tetangganya kala itu taka da yang mau berbaik hati memberikan pinjaman untuk berobat. Tiga hari panas tinggi, tak berhasil diobati. Si kecil tak kuat bertahan hingga menghembuskan nafas terakhir.

Jejaka itu, sekitar 10 tahun lalu, pernah meninggal dalam satu malam. Kata orang-orang, ia ditenung-santet oleh tetangga yang masih saudaranya sendiri. Padahal salama hidup ia tak pernah memiliki pengaruh, karir dan kekayaan melimpah yang layak dihasud-sirik orang lain. Si gadis yang sudah punya menantu mengetahui siapa yang melakukan perbuatan jahat atas suaminya tersebut.

Ia tidak ikhlash atas kekepergian suaminya walau sudah enam tahun sakit terus-menerus tanpa diketahui gejala pastinya. Ia disantet karena salah sasaran. Demikian kata orang yang jahat itu kepada istrinya langsung, ketika akan dikuburkan. Maafnya tidak diterima.

Sang istri, gadis itu, meminta keadilan kepada Yang Maha Kuasa mengembalikan nyawa suaminya. Ia tidak membolehkan suaminya dikubur walau sudah dikafani dengan kain mori khusus mayat. Tanpa diduga, menjelang subuh, si jejaka itu, sang suami itu, bangun dari tidur tanpa nafasnya sejak jam 5 sore.

Kini, jejaka itu masih hidup. Istrinya justru yang telah mendahului wafat akhir 2012 silam. Sebelum meninggal, gadis yang sudah jadi nenek usia 73-an tersebut mendoakan kepada semua anak, menantu dan cucu agar hidupnya sejahtera, bahagia, nyaman, damai, penuh iman, dihormati di masyarakat dan Allah SWT. Ia ingin agar penderitaan yang ia alami selama hidup bersama suami tidak akan dialami oleh anak-cucunya kelak.

Entah kebetulan atau tidak, sejak meninggalnya gadis yang sudah jadi nenek itu, semua anaknya mendapatkan jalan rejeki tanpa terduga. Dua bulan setelahnya, putri pertamanya kedatangan mantu. Putri kedua, mampu membangun rumah. Dan putri ketiga (terakhir yang hidup), membeli motor baru.

Sang gadis itu berkali-kali menggatakan kepada anak-cucunya kalau hidupnya hampir tak pernah berkecukupan karena "dijerumuskan" oleh kai kampungnya sendiri, sebelum menikah. Konon, tanggal menikah yang diberikan bukan merupakan hari yang baik dijadikan akad pernikahan.

Sang kiai marah atas dirinya sendiri karena tidak jadi menikahkan sang gadis tersebut dengan si gus, putra tunggalnya yang digadang-gadang jadi penerusnya. Sang kiai sangat mengharapkan si gadis jadi menantu. Ternyata, iri, dengki, benci, telah memakan jalan hidup dan keberuntungan orang lain.

Kalau Anda percaya, ada baiknya meminta hari baik kepada orang yang tepat untuk melangsungkan akad nikah. [badriologi.com]

Keterangan:
cerita di atas ditulis pada Juni 2013
Advertisement

Klik untuk komentar