Download PDF Buku Kontroversi: KHR Asnawi Satu Abad Qudsiyah

Cover buku Satu Abad Qudsiyah
Oleh M Abdullah Badri
 
BUKU berjudul lengkap KHR Asnawi Satu Abad Qudsiyah Jejak Kiprah Santri Menara yang terbit pada tahun 2016 lalu ditulis keroyokan oleh H.M Ihsan, M Zainul Anwar, M Rikza Chamami, Makrus Ali, Khasan Ubaidillah, Syaifullah Amin dan Furqon Ulya Himawan menuai beberapa kontroversi data sejarah yang entah disengaja atau tidak, telah mengakibatkan beberapa halaman isi buku, dikritik oleh banyak kalangan.

Dalam buku setebal 246 halaman (+xxviii), beberapa data terbukti tidak valid terkait sejarah Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS). Pendiri madrasah TBS yang sudah ada sejak tahun 1928 M itu disebut ada dua nama berbeda tapi tidak cukup bukti untuk menunjukkan kebenarannya, baik secara de facto maupun de jure. Di satu halaman, pendiri TBS ditulis nama sebagai KH. A. Khaliq. Tapi di halaman lain disebut KH Arwani Amin.

Yang paling tidak diterimakan adalah upaya perbandingan tanpa fungsi antara KH Ma'mun Ahmad dan KH Ma'mun Siraj yang dianggap kualitas keilmuannya "biasa-biasa" saja. Sayangnya, pernyataan penulis buku di bagian atau bab tersebut hanya ditulis dari sumber oral, satu orang, satu sumber, yang karenanya, para murid dari Kiai Ma'mun di beberapa daerah cukup meradang.

Mereka tidak mau mencari bukti bahwa Kiai Ma'mun dulu pernah menjadi murid kesayangan Kiai Asnawi karena kecerdasannya. Pernah menjadi santri Kiai Dimyathi Treman dan Kiai Ali Tuban selama 35 tahun. Ini ada bukti tertulisnya tapi tidak ditelusuri penulis. "Nulis kok angger mbacot," begitu kata teman saya sesam santri Kiai Ma'mun Ahmad.

Selain itu, tuduhan bahwa Madrasah TBS pada masa kolonial dianggap bekerjasama dengan Belanda hanya karena menggunakan kata school setelah kata Tasywiquth Thullab. Tanpa analisa dan sumber dokumentasi serta artefak sejarah, para panulis buku seolah mengatakan lembaga pendidikan yang kini jumlah siswanya mencapai 3000-an lebih itu adalah lembaga yang mengkhianati bangsa, dengan menyebut "kompromi dengan Belanda". Innalillah. Soal ini, baca esai saja: Tagline Kritis Madjallah Soeara TBS.

Makin kentara propaganda teks dalam buku mengarah kepada "pembunuhan karakter" Madrasah TBS ketika di bagian awal buku mengklaim Madrasah Qudsiyah, almamater para penulis buku, disebut sebagai sekolah kebangsaan di masanya. Sayangnya, tidak ada metode jelas atas klaim tersebut di awal kemerdekaan (atau sebelum kemerdekaan), kecuali fakta bahwa ada sholawat Asnawiyah yang bunyinya ada Indonesia Raya, yang dikarang oleh KHR Asnawi, pendiri NU yang disebut pula sebagai pendiri madrasah.

Tidak ada pembahasan lebih lanjut kapan tepatnya sholawat kebangsaan itu diangggit KH Asnawi? Dan mengapa kurikulum Madrasah Qudsiyah, -sebagaimana ditulis dalam buku,- tidak menyertakan pelajaran bahasa Indonesia sebagai bentuk bangga atas "berbahasa satu, bahasa Indonesia". Mengapa pula para penulis berani secara serampangan membuat kesimpulan yang berakibat fatal dan tuduhan-tuduhan tanpa dasar?

Hal-hal penting ini tidak masuk dalam pembahasan galian sejarah internal Madrasah Qudsiyah jika Anda setuju buku itu adalah buku sejarah. Para penulis terlalu bersemangat menulis sejarah lembaga lain, yang sangat disayangkan lagi dan lagi, tanpa ada konfirmasi, klarifikasi, investigasi dan penggalian lebih dalam lagi sehingga menimbulkan ketegangan antar para alumni, siswa dan juga masyayikh.

Secara rinci, saya sudah menyiapkan resensi kritis hingga puluhan halaman terkait buku Satu Abad Qudsiyah, yang disebut sebagai "kado terindah" oleh Mudrul Am nya tersebut. Tunggu saja tanggal mainnya. Hehe.

Jika Anda penasaran ingin membacanya, silakan download buku KHR Asnawi Satu Abad Qudsiyah Jejak Kiprah Santri Menara (55MB).

Sayaratnya, email Anda sudah berlangganan aktif blog ini. Tidak akan bisa didownload jika tidak email Anda tidak langganan postingan blog ini. Biar terkontrol siapa saja yang membaca buku PDF-nya. Cara berlangganan, silakan baca: Cara Berlangganan Email Blog dengan Subcribe Email Feedburner Google. [badriologi.com]
Advertisement

Klik untuk komentar