Belajar Ngecap ala Pedagang Siwak

hukum siwak menurut sunnah
Dua siwak basah yang dibeli dengan harga murah.
Oleh M Abdullah Badri

AHAD siang 16 Desember 2018, saya ziarah ke makam Sunan Kudus, sekeluarga. Karena pagi itu saya harus sowan ke masyayikh untuk mendiskusikan nasib anak intelektual saya berupa buku sejarah yang sudah siap edar, anak dan istri saya biarkan di Pawestren Menara Kudus. Jalan-jalan sesukanya, sembari saya berpesan ke istri mencarikan sebuah kitab kuning gundul dan siwak basah.

Harga dua siwaknya Rp. 15.000 (sudah diskon Rp. 5000). Saat membeli siwak tersebut, istri menceritakan lucunya para pedagang. Di sebelah, pedagang siwak mengatakan, "mana ada siwak basah, adanya ya kering," ujarnya.

"Siwak ya basah semua, mana ada siwak kering," terang pedagang siwak di sebelahnya. "Beli satu 10 ribu, beli dua 15 ribu," tawarnya. Dibelilah, di bawa pulang.

Dari pedagang siwak, kita ternyata bisa belajar ngecap untuk merayu pembeli potensial. Merasa produknya paling top silakan, tapi jika dalam sikap itu lalu harus berbohong, kan yo eman-eman awake dewe.

Mengapa pedagang siwak tidak bicara saja misalnya, "maaf, siwak yang basah sudah habis, tinggal yang kering saja," atau "yang kering dan basah sama saja kok, harganya lebih murah yang siwak kering loh, mbak". 

Karena takut tidak laku, kadang sikap ngecap dibumbui kebohongan, merasa paling yes, dan kalau perlu pakai cara "ngerek genderane dewe tapi sekalian nglorot genderane wong liyo". Ada kan yang begitu? Kalau tidak, berarti buku saya nanti kayaknya tidak perlu terbit. [badriologi.com]

Klik untuk komentar
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah