Jenderal Hirohito Jepang Masuk Islam Setelah Kalah Silat dengan Kiai Gunardho

kiai muhaiminan gunardo dan kiai subchi parakan

Oleh M Abdullah Badri

JENDERAL Hirohito hidup di masa Jepang menjajah Indonesia. Ia mewakili Kaisar Jepang. Mendengar nama KHR. Sumogunardho, Parakan, ia merasa tertantang untuk menemuinya, —karena bambu runcingnya yang cukup menyibukkan militer Jepang.

Oleh Hirohito, Kiai Gunardho ditantang pencak, adu saksi ilmu beladiri di sebuah gunung dekat Magelang-Temanggung; Gunung Manden. Tantangan itu diiyakan oleh Kiai Gunardho dengan syarat; jika Hirohito kalah, dia harus ikut dengan Kiai Gunardho. Begitu juga sebaliknya.

Namanya pendekar, janji selalu ditepati sampai mati. Saat itu, Hirohito mengumbar janji, “jika kalah, keturunannya akan menikah dengan keturunan Kiai Gunardho di Parakan”.

Di gunung tersebut, pertarungan sengit antara Kiai Gunardho dan Hirohito berlangsung tanpa henti hingga tiga hari tiga malam berturut-turut. Jurus pencak rahasia Kiai Gunardho terpaksa dipakai untuk menghadapi sang jenderal. Banyak santri dan tentara Jepang menjadi saksi kejadian tersebut.

Pengasuh Perguruan Bambu Runcing tersebut —saat itu belum jadi pesantren— nampaknya keluar sebagai pemenang. Entah tahun berapa kejadian ini berlangsung, yang pasti, Hirohito akhirnya mengakui kesaktian Kiai Gunardho atas pencak Bambu Runcingnya. Hirohito menjadi muallaf di tangan Kiai Gunardho. Dia mengikuti jalan hidayah memeluk Islam.

Janji menikahkan keturunan Hirohito dengan keturunan Kiai Gunardho pun ditepati oleh keluarga Hirohito di Jepang. Tahun 2000an, seorang putri cantik dari Jepang datang ke Parakan menemui KH. Muhaiminan Gunardo, putra Kiai Gunardho yang meneruskan Pencak Silat Pesantren Bambu Runcing.

Jauh-jauh datang dari Jepang, ternyata sang putri ingin dinikahkan dengan salah satu keturunan Kiai Gunardho. Namun permintaan itu ditolak halus oleh Kiai Muhaiminan, yang meninggal pada tahun 2007 lalu. Kiai Muhaiminan sendiri adalah menantu Kiai Anwari, ulama yang ahli silat beladiri yang juga berasal dari Parakan, Temanggung.

Ceritanya, sebelum menikah, Kiai Anwari menantang kepada tiap calon menantunya untuk pencak silat. Kiai Muhaiminan juga harus menerima tantangan itu jika hendak menikahi putri Kiai Anwari, yang bernama Jayyidah. Mau tidak mau, Kiai Muhaiminan harus menuruti permintaan calon mertuanya tersebut, yang juga guru silat dan kiainya.

Antar kiai sakti terjadi saling serang. Bukan hanya di medan laga luas, di bawah meja pun Kiai Muhaiminan harus mengalahkan Kiai Anwari jika ingin menjadi menantunya. Kiai Muhaiminan akhirnya dapat mengalahkan gurunya, dan berhak menikah dengan Ibu Nyai Jayyidah yang juga ahli beladiri.

Andai saja Kiai Muhaiminan mau menerima putri keturunan Jenderal Hirohito itu, —misal dinikahkan dengan cucu atau putranya, barangkali Bambu Runcing sudah berkembang massif di Jepang. Tapi sejarah membuktikan lain. Pencak Bambu Runcing tetap menjadi karya seni beladiri otentik para pendekar di Indonesia, yang kini sudah menjadi bagian dari Pagar Nusa, ikatan silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama. [badriologi.com]

Sumber kisah:
Kang Mahbub, murid Kiai Muhaiminan yang menjadi atlet silat nasional. Sekarang menjadi pelatih silat Pagar Nusa Jawa Tengah. Diceritakan kepada penulis langsung pada Jumat sore, 25 Januari 2019, di Ciracas, Jakarta Timur. 

Klik untuk komentar