Pusat Kerajaan Demak di Prawoto, Bagaimana Demak Bintoro?

lokasi kerajaan demak bintoro tempo doeloe
Suasana santai diskusi Bedah Buku "Istana Prawoto Jejak Kesultanan Demak" bersama Ali Romdhoni, di Gedung NU Jepara Selasa malam (26 Februari 2019)
Oleh M Abdullah Badri

RAJA Demak IV (1546-1549) bernama Raden Mukmin/Sunan Prawoto bin Sultan Trenggono bin Raden Fattah dikabarkan memiliki karamah begini: bila kisahnya terungkap, Kerajaan Demak ikut terungkap dan sirna. Apa kaitannya dengan judul esai ini, silakan baca sampai akhir.

Makam Sunan Prawoto ada di Kecamatan Sukolilo, Pati. Pertanyaannya, sejak kapan penamaan Pati ada? Mengapa serat tentang KH. Mutamakkin disebut Cibolek, bukan Pati? Jawaban atas dua pertanyaan inilah yang melatarbelakangi disusunnya esai ini.

Zaman Kiai Mutamakkin, penyebutan wilayah Pati lebih dikenal dengan Sukolilo. Cibolek bagian dari wilayah tersebut. Serat zaman Kiai Mutamakkin pun disebut Serat Cibolek. Pati populer dikenalkan sebagai nama sebuah wilayah sejak zaman kolonial Belanda. Kerajaan Demak yang dulunya berpusat di Prawoto (sekarang Pati), akhirnya ikut dikaburkan secara sistematis oleh pihak kolonial.

Cara yang ditempuh oleh pihak Belanda adalah dengan menghilangkan selat muria yang dulu memisahkan antara Pulau Lasem dan pesisir Jepara, melalui endapan dari Kendeng. Tak pelak, Welahan menjadi daratan. Daerah lain seperti Tengguli, Bangsri, pun menjadi daratan. Jejak Kerajaan Demak yang tersisa hanyalah nama. Misalnya, di daerah Welahan (welah artinya dayung) ada desa yang dinamai Teluk, padahal tidak ada pantai (teluk) di sana.

Bintoro Demak yang awalnya rawa-rawa pun menjadi daratan di zaman Belanda. Akhirnya, masjid dibangun. Sementara jejak awal berdirinya Kerajaan Demak di Prawoto menjadi “sirna ilang kretaning bumi”, terhempas oleh skenario kolonialis yang selesai dalam mempelajari serta menguasai paradigma dan kultur berpikir masyarakat Jawa.

Cerita pun disusun pihak Belanda. Nyai Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) dilegendakan menyerahkan Hutan Mentaok kepada pihak yang dianggap berhasil membunuh Arya Penangsang, saudara misannya.

Mengapa Nyai Ratu Kalinyamat yang juga putri Sultan Trenggono tidak menyerahkan Demak, justru malah menghadiahkan Hutan Mentaok di Pati sebagai balas budi? Bukankah Nyai Ratu Kalinyamat bagian dari keluarga Kerajaan yang memimpin Demak (sebagai pemomong) selama 30an tahun? Demak di mana?

Belanda memang sukses membuat cerita-cerita lucu. Orang sakti diceritakan berangasan, tokoh romatis dibuat legenda berselingkuh, dan lainnya, hingga dipercaya sebagai cerita warisan leluhur.

Mencari pusat Kerajaan Demak di lokasi Demak sekarang sangat sulit dibuktikan secara kronologis, ilmiah dan meyakinkan. Pada tahun 1975, tim peneliti dari IAIN Walisongo pernah menelusuri jejak Demak di daerah yang disebut Bintoro. Hasilnya tidak memuaskan.

Jejak kisah Raden Fattah, sebagaimana diceritakan Mbah Fadhol Senori (Tuban), yang datang ke Demak atas perintah Sunan Ampel agar mencari tumbuhan glagah berbau wangi (disebut Glagah Wangi) sebagai pemukiman, justru ditemukan ada di wilayah Prawoto. Di Demak yang sekarang, mencari gelagah berbau wangi sangat sulit.

Di Prawoto pun ada makam yang dikenal warga sebagai makam Mbah Khalifah (Mbah Klipo) yang merujuk kepada gelar Raden Fattah saat memimpin Kerajaan Demak, yakni khalifah sayyidin panatagama (pemimpin terdepan yang menata atau mensyiarkan agama).

Sunan Kalijaga ("Dewan Syuronya" Kerajaan Demak) juga disebut-sebut bermakam di Dermayu, Dermolo (sekarang masuk Kecamatan Kembang, Jepara), yang masih dekat lokasinya dengan Prawoto.

Soal ini, KH. Bisyri Musthofa (Rembang) pernah menyinggung dengan menyebut begini: “Mbah Syahid Dermayu”. Artinya, jejak Kerajaan Demak di Demak sekarang justru banyak ditemukan di luar lokasi Demak sekarang. Kebanyakan ditemukan di wilayah Pati dan Jepara.

Jejak Kerajaan Demak

Jika mengikuti kronologi sejarah, temuan-temuan itu menjadi mungkin dibenarkan adanya karena munculnya Kerajaan Demak diakui banyak sejahrawan berawal dari kekuasaan pendahulunya Pati Unus/Pangeran Sabrang Lor, yang dulu berkuasa di pesisir pantai Jepara.

Di zaman Nyai Ratu Kalinyamat, Demak berjaya karena angkatan lautnya di pesisir pantai utara Jawa sangat kuat, dengan industri galangan kapal hasil didikan lanjut Sultan Hadlirin, yang memang ahli membuat kapal. Dan, lokasi industri kapal sekarang masih bisa ditemukan di wilayah Lasem, yang zaman itu masih merupakan pulau tersendiri, dipisah selat muria. 

Alasan-alasan di atas itulah yang membuat jejak Kejayaan Kerajaan Demak banyak ditemukan di luar wilayah Kadilangu dan Bintoro sekarang —yang dulunya adalah rawa-rawa. Soal ini, Habib Luthfi pernah menyinggung meski tidak lebih mendetailkan.

Novelis sejarah seperti Pramodya Ananta Toer juga dibuat kecewa ketika kerinduan dia untuk mencari kejayaan Kerajaan Demak justru tidak ditemukan di Bintoro Demak sekarang. Bahkan ia pun tidak tertarik turun dari kendaraan saat melewati lokasi Demak sekarang hanya sekadar untuk tawassul. Pram lebih fasih bicara ihwal Sunan Makdum yang lokasinya ada di Pati.

Sejak dulu, daerah paling dekat dengan keraton atau kerajaan lazim disebut kauman atau krajan (kerajaan). Apakah wilayah masjid Demak sekarang disebut demikian? Jejak ini harus dipastikan untuk melanjutkan Kadilangu sebagai pusat Kerajaan Demak sejak awal.

Dalam cerita rakyat yang beredar di masyarakat Islam Jawa, Walisongo dulu sering menggelar rapat di masjid kauman. Di Prawoto, masjid kauman masih ada dan bisa ditemukan. Demikian pula di Jepara. Masjid berjuluk masjid wali setidaknya bisa ditemukan di Desa Troso dan Tengguli (wilayah Jepara). Inilah masjid-masjid yang dulu menjadi pusat mengatur negara saat Kerajaan Demak berjaya.

Lalu, siapa yang membuat pusat Kerajaan Demak di lokasi sekarang ini? Sejak kapan? Mengenai hal ini, ada seorang kesepuhan ahli sejarah menyebut, Demak Kadilangu sekarang adalah imitasi Prawoto, turunan Prawoto. Artinya, Demak yang dulu ada di Prawoto pernah mengalami proses perpindahan.

contoh cover buku sejarah walisongo
Cover buku Istana Prawoto karya Ali Romdhoni
Pernyataan di atas mengingatkan strategi kolonial yang selalu memiliki inisiatif untuk menghilangkan jejak sejarah kejayaan masyarakat Jawa. Tidak hanya melalui serat dan cerita rakyat saja yang dilakukan penjajah untuk menghilangkan identitas masyarakat Jawa. Imitasi pun dibuat agar bisa mengambil (merampok) produk asli, untuk diangkut ke negeri asalnya. Baik berupa patung, candi, maupun jenis artefak dan manuskrip asli lainnya.

Sayangnya, masyarakat kita banyak yang tertipu dan tidak sadar makna penting bukti sejarah. Konon, di zaman Orde Baru ada pula upaya masif menyalin naskah dan artefak asli untuk proyek sesaat atas nama pembangunan dan uang hingga gapura bledhek Ki Ageng Selo (di Grobogan) bisa berpindah juga ke lokasi Demak.

Orang Jepara sendiri misalnya, masih sedikit yang mengetahui kalau masjid Nyai Ratu Kalinyamat lokasinya ada di Desa Kriyan. Warga Jepara sendiri banyak yang tidak menyadari pentingnya sejarah masjid Kalinyamatan tersebut karena bukti fisik aslinya sudah direhap menjadi lebih bercorak modern. Hilang aslinya.

Akibat hilangnya bukti dan kedalaman sejarah tempo doeloe oleh imperium kolonial, peradaban Yunani pun akhirnya bisa diklaim menjadi spirit Eropa. Yunani sudah musnah. India dan Arab pun kini semakin mengidentifikasi sebagai bagian dari peradaban Barat.

Hanya tinggal Cina dan Indonesia (Nusantara pada umumnya) yang masih sulit ditaklukkan agar mau berkiblat kepada kebudayaan Barat secara utuh, yang memang tidak memiliki akar kebudayaan kecuali teknologi dan kolonialisme. Jejak Majapahit, Singosari, Sriwijaya, dan lainnya, juga makin ruwet akibat keberhasilan skenario zaman penjajahan. Innalillah bukan.

Bila saja istana Kerajaan Demak di Prawoto berhasil dibuktikan dan diakui secara luas oleh masyarakat Indonesia, Kerajaan Demak di lokasi sekarang barangkali akan terungkap hakikat kesejarahannya dan sirna semua tabirnya. Itulah yang dimaksud karamah Sunan Prawoto, kakak Retna Kencana Nyai Ratu Kalinyamat, Jepara. [badriologi.com]

Catatan:
Semua konten esai ini dirangkum penulis dari hasil diskusi dalam acara Bedah Buku “Istana Prawoto: Jejak Pusat Kesultanan Demak” dengan penulisnya, Ali Romdhoni dan panelis Hisyam Zamroni, yang diselenggarakan oleh PC Lesbumi NU Jepara, di lantai II Gedung NU Jepara, Jl. Pemuda 51, Selasa malam, 26 Februari 2019. Berlangsung mulai habis Isya' hingga pukul 01.30 WIB. Penulis esai sendiri belum membaca buku yang dibedah karena saat acara tidak ada stand buku yang digelar. 

Klik untuk komentar
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah